Cerpen, Endang S Sulistiya, Republika

Pupuk

Pupuk ilustrasi Rendra Purnama/Republika

3.6
(5)

Cerpen Endang S Sulistiya (Republika, 10 Oktober 2021)

HAMPARAN hijau padi membentang luas. Bak sajadah lebar yang tergelar untuk sembahyang. Memuji dan memanjatkan keagungan Tuhan. Embus angin persawahan membelai gusar batang-batang padi yang baru berusia sekian bulan dari masa tandur (menanam padi dengan metode melangkah mundur).

Darmin mengkhatamkan sapuan pengamatannya. Laki-laki tua purnawirawan TNI itu lekas-lekas memacu langkah melewati pematang sawah. Motor tua yang diparkirkan di pinggir jalan telah setia menunggu ke datangannya.

Dalam ceruk kepala Darmin mencuat sebuah agenda. Ia mewanti-wanti diri bersambang ke toko pertanian sebelum pulang ke rumah. Ia merasa perlu mengetahui harga pupuk terlebih dahulu sebelum tanggal satu yang masih kurang dua minggu lagi. Setidaknya, nanti tatkala menerima gaji, ia bisa menyisihkan uang sebelum semua habis berpindah tangan.

Kondisi padinya sudah saatnya diberi tambahan nutrisi. Jika sampai telat, bisa-bisa pertumbuhannya melambat. Sekarang saja tanaman padinya kalah hijau dibanding yang lain. Bahkan, beberapa pucuknya ada yang menguning.

Sore masih menyisakan panas. Sengat matahari nakal menggigiti epidermis. Darmin memangkas laju motor robotnya di depan sebuah toko pertanian yang paling besar di kecamatan. Disekanya keringat yang turun ke pipi lantas ke dagu sebelum mengayun langkah memasuki mulut toko.

Darmin mengucap salam dengan khas suara lantang seorang militer. Pria bermuka chinese yang tengah sibuk dengan kalkulatornya mendongak. Melihat salah seorang pelanggan setianya datang, gegas pria itu melepas kacamata. Mengabaikan lembar-lembar nota yang membuat dahi licinnya berkerut lima.

Eh, Pak Darmin. Silakan duduk,” sambut pria berperawakan tambun itu ramah. Sebuah kursi plastik biru ditawarkannya kepada Darmin. Tak menunggu jeda, Darmin meletakkan pantatnya. Penyakit asam urat membuatnya tak betah berdiri lama.

“Habis dari mana, Pak?” todong pria pemilik toko antusias. Ia cukup rekat mengenal pribadi Darmin yang supel pula gemar berbincang itu. Paparan cerita laki-laki berumur 60 lebih itu mengandung berbagai pengalaman hidup. Maka, sebuah keuntungan sendiri bisa mengobrol dengan Darmin yang pernah ikut serta ke medan Timor Timur pada 1975 itu.

Pun, kondisi toko pertaniannya yang sedang sepi membuat pria pemilik toko itu merasa jengah juga hanya berdiam diri. Karena itu, kedatangan Darmin adalah bonus di sore hari itu.

“Tadi lihat sawah sebentar terus berkeliling cari angin. Di dalam rumah begitu gerah hawanya,” sahut Darmin lugas.

“Bagaimana pari-nya subur bukan, Pak?”

Baca juga  Paman

“Ya, alhamdulillah. Tapi ya itu, sepertinya sudah minta jatah. Ngomong-ngomong urea harganya berapa sekarang?” tukas Darman.

“Urea Rp 250 ribu. Kalau ponska Rp 282 ribu.”

Wah, kok mahal sekali! Sudah seperti harga emas saja sekarang.”

“Memang harga pupuk di pasaran dibanderol tinggi Pak, sebab terjadi kelangkaan. Sekarang ini aliran pupuk dari pemerintah hanya melewati agen yang terdaftar resmi. Baru kemudian disalurkan lewat kelompok tani untuk meminimalkan penimbunan pihak tertentu.”

“Yang dulu-dulu, kelompok tani itu cuma nama saja, tidak ada fungsi dan manfaatnya, jadi banyak yang bubar jalan. Tidak tahunya sekarang kelompok tani digalakkan kembali oleh pemerintah,” ujar Darmin seraya menggaruk rambut putihnya. “Wah, repot juga orang yang tidak masuk kelompok tani ya?”

Loh, memangnya Bapak tidak masuk Kelompok Tani Makmur Sejahtera?”

“Saya belum mendaftar lagi kelompok tani apa pun,” terang Darmin, bingung.

“Tapi kok nama Bapak bisa tercantum di proposal yang diajukan Pak Kardi?”

“Kardi? Ah, apa iya?”

“Sebentar, saya ambilkan berkas pengajuannya,” kata pemilik toko seraya masuk ke bilik. Tak selang lama kemudian ia kembali membawa lembaran kertas. “Ini ada nama Bapak, ada tanda tangannya juga.”

Darmin mengambil kacamata yang terselip di kantong kemeja batiknya. Ia teliti betul tiap huruf yang tertera di sana. “Ini jelas bukan tanda tangan saya!” seru Darmin, runcing. “Tampaknya ada orang yang sengaja memalsukan tanda tanganku!”

“Sepertinya ini sengaja dilakukan untuk memanipulasi data agar lebih banyak jatah pupuk yang masuk ke kelompok tani ini. Jika dilihat-lihat, yang terdaftar sebagai anggotanya, rata-rata petani yang memiliki sawah luas.”

“Betul sekali! Saya tahu benar, beberapa orang yang tertulis di sini bukan anggota dari kelompok tani tersebut,” ungkap Darmin, serius. Sejenak kemudian, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tak disangka, tingkat RT saja sudah melakukan penyelewengan sedemikian rupa.”

“Lantas apa yang akan Bapak lakukan? Perbuatan ini bisa Bapak laporkan ke polisi, lho. Apalagi buktinya sudah ada.”

“Aku lihat perkembangannya dulu. Bila kami yang terdaftar di berkas itu mendapat haknya, maka tidak menjadi masalah. Beda halnya bila manipulasi itu dilakukan untuk mengeruk keuntungan oleh satu atau beberapa pihak saja, maka kami akan memikirkan tindakan selanjutnya,” kata Darmin, bijak.

***

Suatu siang, sebuah mobil pikap melesat melewati jalan makadam kampung. Orang-orang saling berpandangan. Lalu, menyembullah satu nama ke permukaan obrolan. Rumah Kardi.

Baca juga  Kalam Ilahi di Balik Jeruji Besi

Benar adanya, pikap hitam yang mengusung tumpukan pupuk itu berhenti di halaman rumah Kardi. Dengan wajah semringah, orang-orang berduyun-duyun menuju rumah Kardi. Dalam benak mereka, terdeposito harapan yang sama; mendapatkan pupuk dengan harga yang lebih murah.

Sekejap saja, rumah Kardi bising oleh hiruk pikuk. Warga menyemut di halaman rumah Pak RT yang sekaligus menjabat sebagai ketua Kelompok Tani Makmur Sejahtera itu.

Susah payah Kardi menenangkan warga yang sudah tak sabar membawa pulang pupuk. Tanduran (tanaman padi) mereka sudah demikian kritis keadaannya. Jika tak dipupuk segera, bisa-bisa gagal panen. Dan itu berarti musim berikutnya mereka terjepit di dua pilihan; menahan lapar atau kembali menumpuk utang.

“Harap tenang! Jika kalian tidak bisa tenang, kapan saya bisa memulai bicara!” seru Kardi, lantang dengan kesan pongah. Tak menunggu lama, suasana mendadak hening.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, sebenarnya pupuk bersubsidi ini hanya diperuntukkan bagi anggota kelompok tani. Namun, sebagai bentuk solidaritas antarpetani maka nonanggota akan mendapatkan pupuk masing-masing setengah sak. Ingat, jika bukan karena solidaritas seharusnya Bapak dan Ibu tidak berhak mendapatkannya.”

“Apa? Setengah sak? Mana cukup?” Warga yang semula tenang kembali ribut. Mereka tak puas dengan ketetapan dari Pak RT.

Kardi tak ambil pusing dengan ketidakpuasan warganya. Dengan enteng, ia berkata, “Silakan bagi yang mau, mencari pasangan agar bisa membagi satu sak pupuk menjadi dua bagian yang rata. Bagi yang tidak mau, saya tidak memaksa. Silakan saja membeli di luar sebanyak yang dimau.”

“Jadi aku juga cuma dapat jatah setengah sak?” tanya Darmin ketika menghampiri Kardi.

“Tentu saja. Pak Darmin kan bukan anggota kelompok tani.”

“Tapi bukannya aku dan beberapa yang lain turut terdaftar di berkas pengajuan? Seharusnya aku mendapat jatah seperti yang tertulis di daftar. Tidak salah bukan kalau aku menuntut yang menjadi hakku?”

“Daftar pengajuan apa? Bapak tidak usah mengada-ada!”

“Kamu yang tidak perlu menutup-nutupi. Kamu tidak akan bisa berkelit karena ada buktinya.”

“Bapak itu sudah pensiunan. Tidak lagi menjabat, apalagi punya kuasa. Bapak jangan coba-coba mengancam! Saya sama sekali tidak takut!” Kardi menghentakkan telapak tangannya ke meja.

***

Malam pekat diselubungi gelap. Bahasa alam seolah bercerita betapa pekatnya nasib petani di negeri agraris ini. Korupsi, pula penyelewengan lain, telah membajak hak-hak para petani kecil.

Baca juga  Malam Minggu yang Sia-Sia di Jakarta

Malam itu, Kardi dan pengurus inti Kelompok Tani Makmur Sejahtera duduk sebagai pesakitan. Seorang tokoh muda berinisiatif memfotokopi bukti berkas pengajuan pupuk yang telah dimanipulasi Kardi dan kroninya dari toko pertanian. Selanjutnya, ia membawa bukti itu ke seorang kepala polisi sektor kecamatan untuk meminta pendapatnya.

Maka, malam itu sebuah sidang digelar. Kardi tak berkutik ketika dihadapkan dengan bukti yang sudah sangat jelas mendakwanya. Mau tak mau, ia terpaksa mengakui kesalahannya. Terpaksa pula akhirnya ia rendahkan hati meminta maaf kepada semua warga.

Persaudaraan di kampung melebihi aliran darah. Pun memaafkan adalah keluhuran budi. Atas dasar itu, warga menerima maaf dari Kardi dan meminta kesungguhannya agar tak lagi mengulang perbuatan yang sama.

Sejak malam itu, reputasi Kardi runtuh. Sebulan kemudian, saat pemilihan ketua RT baru, Kardi terpental dari jabatannya. Namun demikian, kharisma Kardi masih lekat di mata kroni-kroninya—yang dulu sempat mencecap kue nikmat berkat jasa Kardi—hingga posisi wakil RT masih dapat disandangnya.

***

Darmin memandang malam yang sempurna gelap. Seiris bulan tampak seperti pejabat yang angkuh. Sedangkan, bintang-bintang yang terhalang awan hitam bagai petani miskin yang tidak bisa berbuat banyak.

Kelompok tani muncul bak jamur di musim penghujan oleh adanya pupuk bersubsidi. Namun, entah apa yang ada di benak orang-orang yang duduk di pemerintahan, khususnya yang mengurusi pertanian, kala terus-menerus mengubah sistem, tapi tak jua membuat petani hidup sejahtera.

Pupuk bersubsidi begitu terbatas, tapi pupuk tanpa subsidi tak bisa dijangkau. Serta-merta petani hanya bisa pasrah dan pasrah. Ironis, di sebuah negara agraris sulit menemui petani yang dapat menicicipi manisnya kue dari hasil jerih payah bertaninya. Hak-hak mereka lebih dulu dicaplok oknum-oknum laknat untuk kepentingan perutnya sendiri.

Oleh orang-orang semacam Kardi, pupuk tidak lagi menjalankan fungsi sebagai penyubur tanaman. Melainkan, memupuk korupsi demi kemakmuran kantong pribadi. ***

.

Endang S Sulistiya, lahir dan besar di Boyolali. Seorang buruh kontrak di sebuah pabrik olahan makanan. Lulusan Administrasi Negara Fisipol UNS. Sewaktu masih menggunakan nama pena Lara Ahmad, beberapa kali cerpennya mendapatkan kesempatan dimuat di media lokal dan nasional.

.

Average rating 3.6 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: