Cerpen, Encik Wanda Halizah, Waspada

Menanti Temu

Menanti Temu - Cerpen Encik Wanda Halizah

Menanti Temu ilustrasi D Cartoon/Waspada

3.7
(3)

Cerpen Encik Wanda Halizah (Waspada, 10 Oktober 2021)

BERPISAH karena berbeda pendapat dan arah hidup itu biasa, meski masih sakit dan susah lupa. Tapi, berpisah karena takdir-Nya, tentu saja lebih lagi rasa sakitnya.

***

“Halo, Vin. Apa kabar?” Tanya seorang gadis yang duduk santai sembari memegang gawai.

“Aku baik, Rin. Kamu?” Sahut seseorang yang terhubung lewat via video call.

“Aku baik, kamu jangan khawatir. Oiya, gimana tugas kamu, lancar ‘kan?” jawab Arin.

“Minggu kemarin baru aja jadi panitia penerimaan peserta didik baru, tapi kayaknya hari minggu ini aku libur, deh. Jadi bisa nemuin kamu,” ucap Alvin dengan sangat antusias.

Mendengar kabar itu, berteriak kesenangan. “Seriusan, Vin? Gak bohong ‘kan?” ucap Arin memastikan bahwa kekasihnya itu tidak berbohong. Alvin menganggukkan kepala.

“Tunggu aku, ya. Kita ketemu di tempat biasa. Aku langsung nyamperinkamu ke sana,” ucap Alvin sebagai janji. Arin mengangguk setuju. Kemudian melanjutkan percakapan layaknya pasangan pada umumnya.

***

Semenjak Alvin berjanji kepada Arin untuk menemuinya di tempat biasa. Arin menjalani hari-hari dengan lebih bersemangat. Bahkan ia sudah tak sabar menanti hari minggu yang sudah diimpikannya. Rasa senang dan rindu menyatu dalam relung hatinya sebab berbulan-bulan tidak bertemu dengan sang pujaan hati.

Alvin adalah seorang Perwira Angkatan Laut yang jarang sekali pulang dan menghabiskan waktu dengannya. Arin dan Alvin telah menjalin hubungan selama hampir lima tahun. Tiada hari yang mereka lewatkan untuk bertemu secara virtual ataupun lewat pesan.

***

“Hei, Arin… Ceria sekali wajahmu itu. Senangnya, mau ketemu pacar ya,” ucap rekan kerja Arin yang berjalan sejajar dengannya. Arin menggelengkan kepalanya.

Baca juga  MENJAGA AYAH

“Ah, perasaan Kak Lina aja itu,” sahut Arin sembari menepuk pelan lengan rekan kerjanya dilanjutkan Arin menutup wajahnya dengan berkas yang ia bawa.

“Udah, deh, kak. Gak usah mulai,” lanjutnya.

Kemudian ia berjalan mendahului Lina namun Lina terus mengganggu dan menyamakan langkah dengan Arin.

Untuk menghindari godaan dari Lina. Arin masuk ke kelasnya. Ia merupakan seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah. Ketika ia masuk ke kelasnya, ia disambut dengan keributan siswanya. Mata Arin melotot memandang siswanya. Arin langsung menggunakan jurus andalannya yaitu jurus lempar spidol yang ia pegang ke tengah-tengah keributan. Jurusnya selalu terbukti ampuh, sebab siswanya langsung terdiam seketika.

Arin menggelengkan kepala melihat tingkah siswanya di kelas. Ia duduk di meja guru dan memulai pelajarannya.

“Tadi kalian belajar apa sama Pak Arnold?”

“Pak Arnold gak ngajar, Bu. Cuman tadi cerita tentang cinta pertamanya aja,” jawab seorang siswa.

“Kok bisa begitu?” Tanya Arin.

Siswanya menggelengkan kepala. Pak Arnold adalah sosok guru santai yang belajarnya lebih suka bercerita kepada siswa dan siswinya.

“Ya udah, kita belajar, ya. Sekarang buka buku halaman 115. Tentang teks An.” “Bu… ceritain tentang cinta pertama ibu juga, dong,” potong salah seorang siswi.

“Kan tadi, Pak Arnold sudah bercerita kepada kalian,” ucap Arin.

“Sama ibu, ‘kan belum,” teriak seorang siswanya.

“Saya cerita sedikit, setelah itu kita belajar, ya?”

Semua siswa berteriak setuju, ada rasa penasaran yang terlihat dari raut wajah dan bola mata para siswa dan siswi. Arin memulai ceritanya, yang tak terasa telah menghabiskan jam mengajarnya. Setelah selesai mengajar. Arin memeriksa benda yang bergetar di saku celananya. Ia melihat ada pesan masuk dari Alvin.

Baca juga  Pengakuan

“Aku nugas dulu, ya. Mungkin gak bisa megang handphone berjam-jam jadi aku kabarin sekarang. I miss you so much, Rin. Gak bisa nelpon juga, padahal kangen banget loh sama kamu. Maafin aku ya, Rin. See you soon, baby.”

Arin senyum-senyum membaca pesan yang dikirimkan oleh Alvin.

***

Jarum jam sudah berada di angka 12. Tetapi, para guru belum diizinkan pulang sebab masih ada rapat lanjutan di jam satu siang. Aku duduk di perpustakaan sekolah sambil membaca buku. Menuntaskan membaca novel kesayangan yang belum habis kubaca. Teleponku bergetar, kulihat itu adalah panggilan dari mama.

Assalamualaikum. Halo, Ma,” ucap Arin.

“Mama Alvin belum ada memberi kabar padamu?” Tanya mama.

“Maksudnya, Ma?” Tanya Arin.

“Kapal Alvin… dikabarkan tenggelam, Rin,” ucap mama yang membuatnya terdiam beberapa saat. Jantungnya berdetak hebat mendengar kabar yang meluluh lantakkan rasa senangnya tanpa sisa.

Ia langsung memutuskan panggilan setelah mengucap salam, lalu mencari tahu tentang kebenaran kapal kekasihnya itu. Arin juga mencoba menghubungi ke nomor Alvin yang beberapa jam yang lalu mengirim pesan kepada dirinya.Tapi, nihil. Beberapa kali mencoba menelpon tak ada sahutan darinya.

***

Hari terus berganti hingga hari dimana Alvin berjanji untuk pulang terlewati begitu saja, momen yang ia dambakan sebelumnya kini telah binasa dan meninggalkan luka. Tidak ada satu hari pun yang ia lewatkan untuk tidak memeriksa handphone-nya, merasa bahwa suatu hari ada notif pesan dari Alvin yang akan dia dapatkan. Namun, keajaiban seperti itu hanya ada di dalam film-film saja.

Hari ini Arin memutuskan untuk datang ke pinggir laut tempat Alvin yang mulai berlayar waktu itu. Arin menatap laut yang membentang luas di depannya, yang telah mengambil pacarnya. Sudah genap dua bulan tak ada kabar mengenai jasad Alvin. Matanya menatap sendu ombak yang berdebur. Airnya jernih nan biru. Semilir angin berembus mengenai rambutnya yang terurai. Arin pun memejamkan mata, dilanjutnya menghela nafas yang terasa sesak di dadanya.

Baca juga  Macan Lapar

I miss you so much, Vin.” Bibirnya bergetar mengucapkan kalimat itu dan jatuh air menetes yang disusul dengan isakan kecil.

Tuhan memutus tali yang menghubungkan antara mereka berdua. Membuat salah satu di antara hati keduanya terombang-ambing bak ombak di lautan. Sebab rindu tak terelakan, yang tak pernah berujung pertemuan. ***

.

.

RumahDiksi, 01 Agustus 2021

.
Menanti Temu. Menanti Temu. Menanti Temu. Menanti Temu.

Loading

Average rating 3.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!