Cerpen, Singgalang, Yulianti

Perempuan yang Ingin Menjadi Seekor Kucing

Perempuan yang Ingin Menjadi Seekor Kucing ilustrasi Singgalang

3.9
(24)

Cerpen Yulianti (Singgalang, 10 Oktober 2021)

HIDUP dan kehidupan, benar-benar telah mencelakaiku. Betapa beratnya menjadi seorang manusia. Hidup membawa beban dan mati menjadi hari pertanggungjawaban.

Aku terseok-seok di antara minusnya perekonomian negara, lemahnya keyakinan beragama, dan pedihnya kisah cinta kaum papa. Dalam pandanganku, dalam nalarku, dalam kecamuk di kepalaku, aku bertanya-tanya. Adakah Tuhan menakdirkan kehidupan yang lebih baik untukku di masa depan?

Awalnya aku tak ingin berhenti berharap. Seperti kebanyakan manusia, keyakinanku pernah begitu kuat meletup-letup, bahwa suatu hari nanti aku akan menjadi diriku. Menjadi manusia yang merdeka, bebas meneriakkan kegelisahan dan kegundahanku. Menjadi manusia sederhana yang bahagia. Beternak ayam dan bebek di sudut desa kecil nan sejuk.

Rumahku tak perlu besar, berhiaskan emas intan permata. Kecil saja, namun bisa melindungiku dari panas ketika matahari sedang terik, menghangatkan ketika hujan, ada kamar mandi untuk mandi, dan toilet untuk berak. Tak perlu pagar besar mengelilingi pekarangan. Cukup ditanami tanaman pagar yang bisa kupotong dan kubentuk sesuai keinginanku. Di dalam pekarangan yang bisa dilihat orang yang lewat, aku ingin miliki sebuah kolam ikan, di samping kolam itu kutanam sebuah pohon kelapa. Di pekarangan dekat ke rumah, kutanami anyelir, bougenville, krisan, dan bunga-bunga sederhana lainnya. Tak perlu bunga-bunga yang harganya berjuta-juta, karena sesungguhnya aku gila keindahan, bukan gila penghargaan. Ya, dulu seperti itulah keinginanku yang meletup-letup.

Namun, seperti banyaknya kejadian yang telah terjadi di dunia ini. Banyak orang yang juga telah mengalaminya. Betapa keinginan tak selalu sejalan dengan kenyataan. Berkali-kali aku dikeroyok nasib burukku. Berkali-kali aku dibungkam kekuasaan manusia lain. Berkali-kali aku kehilangan hal-hal yang kupercayai. Membuatku menjadi manusia yang memiliki lubang menganga dalam jiwaku. Hatiku seolah telah dirampas oleh kehidupan ini dengan begitu kejamnya. Aku bahkan tak mampu lagi membedakan antara sedih dan bahagia. Semua rasa kini sama, hampa saja.

“Aku ingin menjadi seekor kucing.” Ucapku pada suatu hari ketika seorang teman berkunjung ke sebuah kamar kecil rumah sakit tempat aku dirawat. TBC telah menyita sebagian besar keleluasaanku.

“Aneh kau. Sudah jelas makhluk paling sempurna yang telah diciptakan oleh Tuhan itu adalah manusia. Mengapa kau ingin menjadi kucing?” tanyanya tak mengerti dengan jalan pikirku.

Baca juga  Cerita Single Papa

“Menjadi manusia berat, Wis. Banyak hal yang harus kau pertimbangkan. Banyak hal yang harus kau rencanakan. Dan semuanya butuh uang. Menjadi manusia harus punya uang. Coba lihat kucingku. Ingin kawin ya kawin. Ingin beristri ya beristri. Mau berapa? 10? Atau lebih banyak lagi? Gampang, tak perlu diakui negara segala. Beranak? Tak perlu biaya persalinan, biaya pendidikan. Rumah? Tak perlu sewa. Uang? Tak perlu dipikirkan. Makan? Tinggal minta pada manusia atau tangkap saja burung yang sedang lengah.”

Aku ingat, ketika itu Wis mengurut dada dan mengabaikan pikiran anehku itu. Dia lalu telaten mengupas kulit apel. Apel yang tak semerah gumpalan darah yang kukeluarkan setiap batuk menyakitkan itu numpang lewat di tenggorokanku.

Lalu lalang kehidupan seperti bus-bus yang berhenti dan berlalu di halte-halte atau jalanan. Membawa orang yang berbeda-beda atau setidaknya membawa suasana atau perasaan yang berbeda-beda. Aku sakit, lalu sembuh. Begitulah, tak akan ada hari yang sama. Pasti ada sedikit perbedaan. Karena itulah aku percaya bahwa roda itu berputar dan cinta itu tak abadi. Begitu pula perihal nasib baik dan nasib buruk. Semuanya berlalu lalang, bermain-main hingga pada akhirnya aku tutup usia. Dan sebelum usia itu berakhir, aku memberanikan diri mewujudkan sedikit mimpi kecilku.

Hari ini Wis datang ke kontrakan kecilku dengan mukanya yang merah padam. Sepertinya kemarahan sedang menjalari hatinya dan merangkak ke ubun-ubunnya. Aku sudah menebak, penjelasan seperti apa yang ingin didapatkannya dariku. “Kau. Ada apa sebenarnya denganmu?”

“Tak ada apa-apa denganku. Ini hanya aku yang sedikit berharap bahwa mimpi-mimpi kecilku dapat terwujud, Wis.” Aku mengaitkan michael kors berwarna gold itu di lengan kirikuku yang putih pucat. Wis melihat jam tangan itu dengan jengah.

“Kau gila, Na. Sudah lama aku ingin mengatakan itu padamu. Tapi urung kulakukan karena aku kenal betul denganmu. Tapi yang sekali ini, pikiran anehmu itu benar-benar telah di luar batas kewajaran. Mimpi-mimpi kecilmu katamu? Kau merenggut mimpi-mimpi orang lain. Kau sadarkah dengan apa yang kini kau lakukan?”

Baca juga  Jalan Kelam Menuju Pulang

Aku tau, Wis sedang menahan tangisnya. Sedih dan marah, perasaan itu sulit diterima dalam satu waktu. “Wis, menurutmu aku sengaja jatuh cinta padanya? Apakah kau masih ingat tentang keinginanku untuk menjadi kucing? Beberapa hari setelah aku keluar dari rumah sakit. Aku melihat seekor kucing kudis sedang mengais-ngais tong sampah. Tangannya yang ringkih tampak gemetar memilah-milah benda yang dapat dimakannya. Di matanya tak ada lagi pancaran kebahagian. Hanya kepedihan dan kesakitan.”

“Berhenti menceracau, Na. Aku tak butuh kisah-kisah fiksimu itu.”

“Dengarlah dulu, Wis,” kataku sedikit memohon dan menggenggam tangannya.

“Sejak saat itu aku bertekad bahwa aku tak ingin menjadi kucing kampung yang terluntang-lantung. Aku haruslah menjadi kucing yang tinggal di rumah-rumah besar milik orang-orang kaya penyayang kucing. Supaya tak terlantar dan menyedihkan nasibku. Saat itulah aku bertemu dengannya. Pria kesepian meskipun segalanya telah diraihnya dalam genggamannya. Dia yang kesepian bertemu dengan aku yang membutuhkan pertolongan.”

“Berhenti berbicara tak jelas. Kau itu sekarang bukan kucing. Kau perempuan, manusia seutuhnya. Ke mana perginya hati nuranimu? Kau tega menghancurkan mimpi perempuan lain hanya karena kau tak tahan, tak bersabar dengan kehidupan ini.”

“Kenapa harus aku yang selalu mengalah, Wis? Coba kau jelaskan padaku mengapa harus aku yang mengalah? Kau ingat peristiwa sebelum aku dipaksa mengambil uang pesangon di pabrik tempat kita bekerja? Kau ingat betapa sedihnya aku, ketika harus memohon-mohon hanya agar aku tetap diterima bekerja? Kau ingat bagaimana Bos dan teman-teman lain memperlakukanku? Aku diusir hanya karena penyakit terkutuk itu. Aku diusir. Aku tak berharap untuk menjadi kaya dengan pekerjaan itu. Mimpiku sederhana saja, mendapatkan uang untuk menghidupiku.”

Mataku berkaca. Ada sesak di hatiku. Pedih rasa itu. Wis pergi tanpa menemukan jawaban yang diinginkannya. Dia menggeleng menolak memahamiku.

Yang benar saja. Siapa yang ingin memporakporandakan mimpi orang lain? Sejujurnya aku tak ingin, tetapi rasa ini kini menggelitikku. Rasa bersalah dan rasa persaingan yang tak mampu kujelaskan ini, kini menggelitik hatiku. Membuatnya terkadang merasa lucu dan detik berikutnya merasa ber[1]salah. Satu hal yang kusadari. Aku sedang hidup. Hatiku sedang meletup-letup. Benarkah aku sudah gila?

Baca juga  Perempuan Tua dalam Rashomon

“Zaini, kamu suka kucing?” tanyaku padanya tak lama setelah kepergian Wis.

“Kucing apa dulu nih? Kucing kampung, kucing Persia, atau kucing garong?” tanyanya dengan nada lucu.

“Kucing kampung,” tiba-tiba aku merasa sesak. Aku takut Zaini melihat wajahku yang menanti jawaban sebab akulah kucing kampung itu.

“Sejujurnya, sering ada kucing kampung yang lewat di depan jendelaku. Tidak tahu kenapa, sepertinya genteng di depan jendela kamarku tempat transit mereka ke suatu tempat.” Dia bercerita seperti biasa, dengannya aku tak pernah bosan mendengarkan.

“Jadi kamu suka atau tidak?”

“Ya biasa saja. Kenapa? Kamu mau pelihara kucing?”

“Tidak, kamu kan sering bilang kalau kamu bosan. Gimana kalau kamu pelihara kucing saja?” tanyaku hati-hati sambil memperhatikan michael kors pemberian Zaini yang sangat indah.

“Ah, tidak mau. Susah ngurusinnya. Beraknya, bulu-bulunya, makanannya, terus biaya perawatan, ini itulah, bikin pusing. Terus, ga menghasilkan uang sama sekali. Malahan akan keluar biaya yang lumayan banyak. Mending pelihara lele,” katamu lugas.

“Kan cuma kucing kampung, tidak perlu biaya perawatan. Terus tidak perlu dimasukkan ke dalam kandang. Jadi tidak perlu mengurusi beraknya. Sesungguhnya kucing kampung tau diri. Dia tak akan berak sembarangan,” kataku membela kucing kampung, lebih tepatnya membela diriku sendiri.

“Aku tidak terlalu suka kucing kampung, Na. Aku lebih suka kamu.” “Kalau begitu kapan kita menikah?”

“Segera setelah mendapat izin dari istriku. Tapi mungkin akan butuh waktu yang lebih lama dari perkiraan kita. Oh, sudah dulu yah? Anakku telepon.”

Sebenarnya ada ketakutan yang luar biasa dalam hatiku yang kecil. Bagaimana kalau semua kebahagiaan ini pada akhirnya akan memudar sebelum aku sempat mewujudkan mimpiku. Sebab tak ada jaminan bahwa hati seorang manusia akan tetap sama setiap waktunya. ***

.

Average rating 3.9 / 5. Vote count: 24

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: