Cerpen, Radar Bojonegoro, Yusab Alfa Ziqin

Penugasan Terakhir bagi Papa

Penugasan Terakhir bagi Papa, Cerpen Radar Bojonegoro

Penugasan Terakhir bagi Papa ilustrasi Tini/Radar Bojonegoro

4
(2)

Cerpen Yusab Alfa Ziqin (Radar Bojonegoro, 10 Oktober 2021)

Akhir Desember 1941

Pagi ini matahari muncul dari balik bukit sebelah timur. Bola cahaya kuning keemasan itu menghangatkan tubuhku dan mama dari dinginnya udara Kawedanan Temayang. Kami sama berdiri di atas jembatan waduk. Mama pakai kebaya ungu dan rambut hitamnya digelung begitu rapinya. Sedangkan dres putih dan rambut pirang milikku berkibar saja seperti bendera.

Di depan mata, terhampar air sangat luas dikelilingi bukit-bukit hijau. Orang mengenal hamparan air ini dengan nama Waduk Pacal dan bukit-bukit itu sebagai Pegunungan Pandan. Mama selalu tersenyum melihat pemandangan pagi di Waduk Pacal. Katanya, ia kerap teringat kampung halamannya di Ambarawa.

“Di tempat kelahiran mama, kami punya Rawa Pening dan Pegunungan Banyubiru, Rose,” kata mama suatu kali.

Aku belum pernah ke Ambarawa. Jadi tak bisa bandingkan lebih indah mana Rawa Pening ataukah Waduk Pacal. Aku lahir di Kota Bojonegoro tahun 1930. Tidak pernah berpakansi karena tidak hobi. Lebih suka di rumah, temani mama merawat bunga.

***

Pukul delapan, bunyi alarm kantor papa terdengar dari jembatan waduk. Seketika burung-burung bertengger di pohon kaget kemudian terbang dan menggugurkan daun-daun. Satu lembar daun jatuh di rambutku. Tergesa mama meraihnya.

“Rambut pirang sebagus ini tidak boleh kotor, Rose,” kata mama mengelus-elus kepalaku setelah mengambil selembar daun itu di rambutku.

Aku memeluk mama. “Tidak, Mama. Rose lebih suka rambut warna hitam seperti milik mama,” kataku.

Mama terus membelai rambutku dan berkata, “Syukuri apa yang ada padamu, Rose. Engkau ini golongan indo, masyarkat kelas dua di Hindia Belanda. Golongan pribumi seperti mama ada di kelas paling rendah. Engkau tak boleh turut masuk golongan mama.”

Aku melepaskan pelukan mama. “Mengapa tak boleh, Mama?” tanyaku.

Mama menciumi aku. “Menurut hukum Belanda, engkau cuma anak papa. Mama bukanlah ibumu,” kata mama datar.

Aku tak mengerti apa dikatakan mama. Tapi, aku tahu mama bersedih mengucapkan kalimat itu. Tak mau perpanjang kesedihan mama, kupeluki lagi tubuhnya dan kuciumi pipinya.

Baca juga  Catatan Harian Sang Mayoret

Tak kusangka, peluk dan cium memang meredakan kesedihan. Aku dan mama kemudian sama-sama tersenyum. Tangan mama kugandeng dan kami memutuskan pulang ke rumah.

Di tengah jalan, kami disusul Mbok Miah, orang dapur rumah kami. Terengah-engah ia mengatakan bahwa kami berdua dicari oleh papa.

“Nyai dan noni disuruh segera pulang oleh Tuan. Hendak dibacakan surat penting katanya,” kata Mbok Miah.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Mbok Miah, seketika mama me-nyincing kain jariknya dan menggandeng tanganku. Kami berdua berjalan lebih cepat.

***

“Nyai, bulan depan kita pindah ke Kemantren Bendungan Sukosewu. Tuan mantri sebelumnya meninggal dunia. Direktur mengatakan aku harus gantikan di sana. Nanti di sini akan ditempati mantri dari Wonokromo, Surabaya,” kata papa setelah menyimpulkan isi surat dari perusahaannya.

Hatiku sangat sedih. Waduk Pacal sudah lekat denganku. Rasanya berat meninggalkan. Berbeda dengan mama, dia kelihatan biasa saja. Barangkali karena mama sudah sering pindah dari satu tempat ke tempat lain mengikuti tugas papa.

“Kau tak perlu bersedih, Rose, anakku. Bendungan Sukosewu sama indahnya dengan Waduk Pacal. Hanya ukurannya tak sebesar sini. Di sana merupakan stasiun air. Jadi ukurannya sedikit lebih kecil,” kata papa menghiburku, setelah membaca kesedihanku.

Penghiburan papa tak kujawab. Aku hanya lemas memeluk tubuh mama.

“Tidak apa, Rose. Yang penting tetap bersama mama, bukan?” tanya mama turut menghiburku.

Aku juga tak menjawab penghiburan mama. Hanya pelukanku padanya kueratkan.

***

Akhirnya Januari tahun 1942 kami menempati loji Kemantren Bendungan Sukosewu. Kantor sekaligus rumah dinas bagi papa ini ternyata lebih indah daripada bayanganku. Depan loji langsung menghadap kanal irigasi Pacal Kanan. Kata papa suasana di sini seperti di Belanda sendiri, tempat kelahirannya.

“Rumah orang tua papa di Belanda, suasananya mirip seperti di Klepek sini, Rose. Di Amsterdam, dekat rumah papa ada kanal bernama Herengracht,” kata papa ketika kami bersantai di teras depan loji kemantren.

“Indah mana, Papa? Kanal Herengracht ataukah irigasi Pacal Kanan ini?” tanyaku.

“Sama indahnya, Rose. Bedanya, kanal Amsterdam letaknya di tengah kota. Sedangkan, kanal sini di desa, itu saja,” jawab papa tersenyum padaku.

Baca juga  Retak

Di tengah percakapanku dengan papa, mama muncul dari dalam rumah membawa nampan berisi susu dan roti dan … kue lemet kesukaanku.

“Susu dan roti untuk ayah, lemet-nya khsusus untuk Rose,” kata mama sambil menyodorkan nampannya kepadaku dan papa. Setelah nampan itu kosong, mama duduk di sampingku memangku nampan itu.

Aku bergeliat melekat pada mama, bersandar pada bahunya. “Mama, bagaimana perasaan mama setelah pindah di Klepek sini? Apa bersuka sama sepertiku?” tanyaku memandang wajahnya yang teduh.

Mama melihat ke arah papa sebentar, baru memandang padaku sambil tersenyum, “Tentu saja mama turut bersuka hati, Rose. Kuncinya, kalau engkau bahagia, mama pasti berbahagia, Sayang.”

“Terima kasih, Mama. Rose sayang pada mama,” balasku sambil menciumnya.

Sebentar kulihat wajah papa, dia pun tersenyum. Dan, kebahagiaanku menjadi berlipat-lipat.

***

Saban pagi, papa berjalan-jalan sekitar bendungan untuk melakukan kontrol bersama juru rawat bendungan. Sekali dua kali papa izinkan aku ikut dan kecintaanku pada Bendungan Sukosewu ini terus bertumbuh. Sungguh, bendungan ini tak kalah indah dengan Waduk Pacal. Ukurannya lebih kecil memudahkan tubuhku menjangkau tiap sudutnya.

Tengah hari biasa papa pulang dan kami makan bersama-sama di ruang makan loji kemantren. Sedang sorenya aku dan mama sibuk merawat bunga yang ditanam mama di sekitar kemantren.

“Mama, mengapa namaku Rose? Bukankah mawar itu memiliki duri-duri tajam?” tanyaku ketika kami menyirami mawar di sebelah barat loji kemantren.

Mama tersenyum manis sekali lalu menjawab, “Duri tajam pada mawar tidak untuk menyakiti siapapun, Rose. Duri itu untuk melindungi dirinya sendiri.”

Aku tak mengerti maksud mama, “Jelaskan padaku, Ma,” desakku.

Mama mencubit mesra pipiku. “Kelak setelah dewasa, kau akan mengerti sendiri, Sayangku,” jawabnya.

Awal Maret 1942 surat kabar yang biasa dibeli papa memberitakan Hindia Belanda menyerah pada Jepang. Tentu, tak akan lama tentara-tentara habis menang perang itu akan mengamuk di daerah kecil seperti Bojonegoro dan Sukosewu sini. Papa mengatakan, tentara Jepang merupakan ancaman besar.

Baca juga  Pantai Keberuntungan

Betul apa yang disangkakan papa. Akhir Maret tentara Jepang sudah masuk ke Sukosewu. Papa seperti menjadi gila, dia linglung dan banyak diamnya. Mama-lah yang banyak bingung. Bersama dengan tetangga sekitar loji, subuh hari Mama membungkusi dan memendam perhiasaan dan barang berharga keluarga di belakang loji.

Siangnya, rombongan tentara Jepang datang di loji kemantren. Mama bertindak menghadapi di teras depan loji. Tapi komandan tentara Jepang itu berteriak, “Aku tak punya urusan dengan gundik!” lalu komandan itu menendang mama sampai tersungkur. Aku menangis keras-keras melihat pemandangan itu. Tubuh mama kutubruk dan kupeluk erat-erat.

Sebentar kemudian dari teras itu aku dan mama melihat tentara Jepang menyeret papa keluar loji dan menaikkan papa ke atas mobil. Sontak, mama dan aku bangkit coba menurunkan papa dari mobil itu. Tapi, seorang tentara Jepang sangat kuat menghalangi kami.

Salah seorang tentara Jepang lainnya bahkan bertanya pada komandannya, “Nyai cantik dan anaknya tidak ikut dibawa, Tuan?”

“Tidak perlu. Yang Belanda asli masih banyak. Kalau sudah habis, yang seperti itu baru kita ambil,” jawab komandan itu.

Komandan itu juga berkata aku dan mama harus segera tinggalkan loji kemantren. Kalau tidak, nanti sore bisa celaka. Dengan berani mama menjawab perintah komandan itu, “Kaulah yang akan celaka di akhir hidupmu!” lalu bibir mama ditampar komandan itu. Sesaat kemudian mobil mereka menyala dan dengan tamaknya meninggalkan kami.

Bibir mama kulihat berdarah. Tapi dia sama sekali tak menangis seperti aku. Dia cuma memelukku kuat kemudian berkata, “Papamu sudah berakhir, Rose. Dan kita tak punya tempat lagi di dunia ini.” ***

.

Bojonegoro, 8 Oktober 2021

Yusab Alfa Ziqin. Jurnalis dan penulis sastra tinggal di Kelurahan Ledok Kulon Bojonegoro.

.

Penugasan Terakhir bagi Papa. Penugasan Terakhir bagi Papa. Penugasan Terakhir bagi Papa.

.

Average rating 4 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: