Cerpen, Cinta Maulida Azbi, Kedaulatan Rakyat

Tubuh Kurus

Tubuh Kurus ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

2.6
(7)

Cerpen Cinta Maulida Azbi (Kedaulatan Rakyat, 15 Oktober 2021)

AKU menggigit kuku ibu jari yang sebenarnya tidak panjang, tetapi juga tidak pendek, karena aku baru mengguntingnya empat hari yang lalu. Seolah sedang dalam kesendirian dan tak memiliki tempat penampungan untuk menampung segala kegelisahan ini, menggigit kuku ibu jari membuatku merasa lebih nyaman. Aku memandang kosong pada lukisan bunga anggrek berwarna magenta dengan latar belakang hitam pekat yang terletak di seberang meja makan.

“Hei!”

Sebuah sapaan dari suara berat seorang pria membuyarkan lamunanku. Aku berhenti menggigit kuku ibu jari dan mengalihkan fokus padanya.

“Iya, kamu perlu sesuatu? Emm…. Nasinya mau ditambah?” kataku sedikit tergugup menanggapinya dan menurutku sekarang sepertinya dia mulai curiga.

“Tidak ada. Aku memanggilmu, tapi kamu tidak menjawab. Kamu juga dari tadi melamun terus, sedang ada masalah?”

Aku menggeleng kemudian tersenyum kepadanya, menyatakan tidak terjadi apa-apa dan aku juga baik-baik saja, walau sebenarnya tidak begitu. Aku tahu pria ini adalah orang yang teliti dan tidak suka jika aku menyembunyikan sesuatu. Dia pasti sudah menyadarinya, namun tidak mau menanyakan hal tersebut. Dengan alasan sudah terikat pertalian antara ijab dan qabul, dia memilih untuk percaya saja kepadaku.

Pria itu mengelus kepalaku dan berkata, “Kamu belum makan apapun, makanlah!”

“Aku akan makan nanti.”

***

Sejak masih duduk di bangku sekolah, aku senang dipuji karena bertubuh kurus. Walaupun ada yang memuji wajahku cantik (tapi menurutku wajahku juga tidak cantik), namun rasanya lebih senang dipuji karena tubuh kurus. Dulunya, tubuhku tidak kurus, bisa dikatakan aku mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Kerap kali teman atau kerabat jika bergurau mengatakan tubuhku mirip babi.

Baca juga  Percakapan di Serat Lontar

Aku tahu itu hanya bergurau dan mereka tidak serius mengatakannya, namun tetap saja ada rasa sakit ketika kata-kata tersebut dilontarkan. Akhirnya, aku memutuskan untuk melakukan diet. Awalnya memang sangat berat dan menahan lapar sepanjang hari tidaklah mudah, bahkan tidak jarang diet ini gagal. Namun, saat tanteku pernah bilang, “Kalau kegemukan kayak kamu ini nanti susah hamil.” Maka, semenjak saat itu aku mulai bersungguh-sungguh diet.

Seolah menahan rasa lapar sudah menjadi kebiasaan, berat badan yang awalnya sudah mulai ideal perlahan menjadi kurang. Teman-teman dan orangtua bilang, berat badanku terlalu kurus.

Teman-temanku menyarankan beberapa makanan yang dapat menambah berat badan. Orangtuaku membelikan dan memaksaku mengonsumsi obat herbal penambah berat badan. Namun, kerap kali aku berpura-pura meminum biji berwarna kecoklatan itu (bentuknya tidak mirip pil atau kapsul, aku tidak tahu itu apa, tapi bentuknya memang bulat seperti biji) kemudian membuangnya melalui jendela kamar.

Bayang-bayang mengenai tubuhku yang gemuk terus menghantui. Aku takut dan terus merasa gelisah. Membayangkan bagaimana tubuhku lebih dari 50 kg dipenuhi lemak dan daging, tidak bisa begitu. Aku sudah merasa puas dengan tubuh yang seperti ini. Hingga hal ini terbawa sampai aku menikah.

Suamiku hanya percaya jika aku adalah jenis orang yang memiliki selera makan kecil dan tidak pernah tahu bahwa aku selalu dibayangi ketakutan bila memiliki tubuh gemuk. Hingga dua hari yang lalu, sesuatu yang selalu dikhawatirkan akhirnya terjadi ketika benda pipih itu menampilkan tanda dua garis berwarna merah.

Aku terus melakukan tes itu berkali-kali, berharap yang sekali itu tidak benar, tetapi berpuluh-puluh test pack yang telah digunakan tetap menampilkan tanda dua garis merah. Aku gelisah, setiap malam saat akan tidur selalu terbayang bagaimana perutku mulai membuncit dan tubuhku mulai berisi.

Baca juga  Perbuatan Buruk

Aku sangat menginginkan anak ini, tetapi tak bisa menerima bagaimana bentuk tubuhku akan berubah. Rasa takut terus terbendung. Aku tak berani memberitahukan keberadaan anak ini kepada suamiku. Kututupi penyebab muntah-muntah itu darinya dengan alasan masuk angin dan menahan semua rasa lapar yang sangat besar itu, bahkan mengurangi porsi makan dari biasanya.

Kini usia kandunganku sudah sembilan minggu. Walaupun usia kandungan ini masih muda, aku sudah waswas dan mencoba mencari cara agar tetap bisa hamil, tetapi tidak terlihat buncit atau gemuk.

Namun, sudah tiga hari belakangan ini banyak darah keluar dari daerah kewanitaanku. Aku cemas dan takut sesuatu terjadi, tetapi tidak bisa memberanikan diri ke dokter.

Hingga di hari keempat perutku terasa kram dan ada gumpalan-gumpalan darah yang keluar. Aku hampir menjerit dan tetesan air mata perlahan mulai turun saat kudapati di gumpalan darah itu terdapat satu bentuk janin masih kecil. ***

.

Tanjungbalai, 26 September 2021

Cinta Maulida Azbi lahir di Tanjungbalai pada 18 Mei 2002. Saat ini tercatat sebagai mahasiswi program studi Gizi di Universitas Negeri Medan. Bergiat di Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK).

.

Average rating 2.6 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: