A Warits Rovi, Cerpen, Republika

Perempuan yang Melahirkan di Tengah Laut

Perempuan yang Melahirkan di Tengah Laut ilustrasi Rendra Purnama/Republika

3.7
(3)

Cerpen A Warits Rovi (Republika, 17 Oktober 2021)

MALAM itu angin kencang membuat gulungan ombak membesar dan menghantam bibir pantai dengan suara yang dahsyat. Meski dinginnya cuaca tiru mata pisau yang mengiris-iris, tetap tak mampu membendung lelehan keringat yang membanjiri tubuh Suni, lelaki paruh baya yang sejak remaja bekerja sebagai pengemudi perahu motor di Dermaga Silku.

Ia tetap sibuk dan berkeringat; berusaha sekeras mungkin menyiapkan perahu kesayangannya. Sesekali menoleh ke sekelompok orang yang sama-sama risau menunggu di tepi pantai; kapan perahu miliknya akan berangkat. Suni terus melawan keadaan, terlebih saat didengarnya jerit tangis seorang perempuan yang hendak melahirkan di antara orang-orang itu.

“Sabar, Nak! Sebentar lagi akan berangkat.”

“Sakit, Bu. Sakiiiit.”

“Sabar, Nak!”

“Aduuuh! Sakiiiiit.”

Suni merinding ketika jerit dan tangis perempuan itu menyelusup ke lubang telinganya. Kembali ada nyawa yang harus diselamatkan, walau sebenarnya berperahu dalam keadaan cuaca ektrem juga harus mempertaruhkan nyawa lainnya.

Kadang Suni ciut melihat keadaan yang mengancam nyawa, tapi saat seperti itu, sosok almarhumah ibunya seperti berdiri di atas perahu. Menyuruhnya tak ragu membantu menyelamatkan perempuan-perempuan kepulauan yang sulit melahirkan, seperti dirinya dulu kala. Di atas perahu saat laut berbadai hujan seusai menahan segala sakit ketika melahirkan Suni, lalu ajal menjemputnya.

Bila ingat cerita itu, keberanian Suni kembali datang. Ia kian lincah menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan proses keberangkatan perahunya agar tak ada lagi nyawa yang gugur; baik si perempuan, maupun nyawa penumpang lainnya.

“Hidup di pulau terpencil memang menuntut sebuah keberanian untuk mempertaruhkan nyawa dengan kerasnya keadaan.” Suni membatin. Ia terus berusaha membuka tali tambatan yang diikat pada akar bakau, tak peduli sesekali ombak datang dan nyaris menelan seluruh tubuhnya.

Tangan Suni yang kasar sudah karib dengan tali pengikat perahu yang juga tak kalah kasar. Tanpa sarung tangan, lekas ia membuka ikat tambatan dan sekuat mungkin menarik perahunya ke tepi. Namun, usahanya itu selalu digagalkan gulungan ombak. Perahunya kembali terseret arus agak ke tengah. Kedua tangan Suni menariknya dengan gemetar. Kedua matanya terpejam. Gigi-giginya terkatup rapat bergemeretak demi mengumpulkan tenaga. Begitu yang ia lakukan berkali-kali, seperti main tarik tambang dengan perahunya sendiri yang kerap ditarik arus.

“Bagaimana kira-kira, Nak Suni? Apa bisa?” tanya seorang lelaki tua yang mendekat.

“Ya, Bisa, Ki.”

Suni meyakinkan lelaki itu yang berdiri di belakangnya. Suni baru berhasil menarik perahunya ke tepi pantai setelah lebih setengah jam bertarung dengan guncangan arus. Si perempuan yang sudah tampak sangat kelelahan ditandu dengan kursi kecil naik ke atas perahu. Jeritnya mengiris dada setiap telinga, mengalahkan deru ombak, terus menjerit dan meronta-ronta semampunya di bawah atap terpal yang kerap dijambak angin. Sebagian keluarganya menangis.

Baca juga  Rumah Tuhan

Sebagian yang lain membaca ayat suci Alquran. Bulan tua hampir karam di lautan, menyisakan bias cahaya datar mirip ekor meteor kekuningan terdampar di datar air. Suni berdiri di belakang perahu, mengamati keadaan; antara gulungan ombak besar dan langit yang terus memuntahkan angin kencang.

“Ombak sangat besar. Angin sangat kencang. Apa kita tetap akan berangkat?” Mata Suni tertuju pada beberapa orang yang duduk mengelilingi si perempuan.

“Sebagai orang kepulauan, sejak lahir kita memang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit dan berisiko, berlayar di tengah badai atau mati di tempat,” jawab lelaki tua dengan suara gemetar menahan dingin.

“Benar! Kita sudah telanjur jadi orang kepulauan. Memang harus punya keberanian lebih.” Seorang wanita dengan suara serak turut meyakinkan semua penumpang.

“Baiklah kalau begitu. Kita berangkat. Bismillah!” putus Suni kemudian.

Bunyi perahu motor beradu suara amuk ombak, memecah senyap malam. Lalu suara jerit sakit si perempuan kembali terdengar, disusul tangis, juga tangis-tangis lain di sekelilingnya. Hujan turun perlahan, turut mengaburkan keadaan.

Itu memang bukan pengalaman kali pertama bagi Suni mengantar orang yang akan melahirkan malam-malam, menyeberang laut dalam keadaan cuaca ekstrem. Sudah belasan kali ia harus bangun dini hari. Menahan gigil dan kantuk, bertaruh nyawa di depan kerasnya angin dan gelombang. Demi menyelamatkan nyawa para perempuan agar bisa bersalin di rumah sakit daratan, yang fasilitas dan tenaga medisnya tentu lengkap.

Perahu Suni terus melaju. Angin kencang dan gelombang besar tak pernah jeda menjambak-jambak tubuh perahu hingga membuat penumpangnya kadang miring dan beristighfar. Hujan masih deras. Para penumpang basah kuyup; mengelilingi si perempuan yang masih menjerit kesakitan. Lelaki tua yang duduk gemetar bersandar tiang di samping perempuan tampak melafalkan zikir.

“Apa masih jauh, Nak?” Lelaki tua itu menoleh ke wajah Suni.

“Sudah dekat, Kek,” jawab Suni tegas meski ia sendiri bingung karena belum melihat pernik lampu di daratan. Ia pun menambah kecepatan laju perahunya sambil membayangkan betapa enaknya jadi orang daratan yang baginya sudah seperti hidup di surga.

Baca juga  Maksim dan Perihal Mobil

“Apa lampu di daratan sudah terlihat?” Lelaki lain bertanya dengan suara menahan gigil.

Suni bimbang hendak menjawab apa. Ia diam sejenak sambil mempertimbangkan jawaban yang paling tepat untuk menenangkan keadaan. Sebab, yang terlihat di depan hanya tembok kegelapan dalam banjur hujan, lesatan kilat, dan gulungan ombak yang menakutkan.

“Sudah ada pernik cahaya samar, pandangan kita terhalang hujan,” jawab Suni kemudian.

“Berarti sudah dekat.”

“Iya.”

Kemudian, jerit tangis kembali terdengar, suara yang lebih membuat Suni merinding ketimbang suara petir. Ia kembali teringat cerita tentang almarhumah ibunya yang dulu harus rela melepas nyawa di tengah laut saat melahirkan dirinya. Kejadian itulah yang membuat Suni bersumpah untuk membantu para wanita hamil yang sulit melahirkan dan harus dilarikan ke rumah sakit yang ada di daratan.

Wajah Suni, selain basah peluh yang bercampur basah air hujan, juga basah air mata. Ia tak kuasa membayangkan betapa ibunya sakit saat hendak melahirkan, dan kini; setiap kali ia mengantar wanita yang mau melahirkan, sosok ibunya seolah-olah selalu ber diri di depan perahu, membisiki Suni untuk terus membantu wanita-wanita kepulauan yang mengalami kesulitan saat hendak melahirkan.

Jerit dan isak tangis perempuan itu kian melukiskan irisan sakit yang tak terperi, menambah cekam malam berhujan lebat dalam kitaran ombak besar yang berbau maut. Suni menghela napas dengan iringan getar bibir mengucap doa. Dalam situasi semacam itu, ia teringat beberapa peristiwa persalinan tak terduga yang terjadi di atas perahunya saat berada di tengah laut ketika si hamil hendak dibawa ke rumah sakit di daratan.

Dari proses persalinan itu, ada yang ditakdir selamat dan bahagia hingga terciptalah tawa dan cakap riang di tengah laut, juga kumandang azan dan iqamah di dekat telinga bayi yang sedang menangis di balik debur gelombang. Selain itu, ada juga yang ditakdir meninggal jadi syahidah di tengah laut. Suni teringat wajah-wajah perempuan yang sejak di dermaga menahan irisan rasa sakit hingga akhirnya meregang nyawa di tengah laut dengan kelopak mata terkatup rapat. Membuat orang-orang di sekelilingnya juga menangis. Membumbui keadaan hingga tambah cekam.

“Orang-orang daratan mengeluhkan tarif rumah sakit, sedang orang pulau tak peduli itu. Bagi orang pulau, tiba di rumah sakit saja rasanya sudah bahagia, bahkan meski harus membayar tarif yang lebih mahal sekali pun,” celetuk salah seorang lelaki yang duduk beralas sisa tali jangkar.

Baca juga  Tem Ketetem

“Karena orang pulau yang dipikirkan adalah soal bagaimana menyeberang dan nyawa terselamatkan, bukan soal tarif,” sambung wanita yang sedari awal tak henti terisak dan menyeka air mata dengan ujung kerudungnya.

Cakap seadanya itu seperti menemui titik begitu jerit si perempuan semakin keras menyaingi suara hujan, petir, angin kencang, dan ombak besar.

“Sabar, Nak! Sebentar lagi sudah tiba di rumah sakit daratan,” pinta lelaki tua di sampingnya dengan suara gemetar bersamaan dengan guncangan tubuh perahu untuk ke sekian kalinya, diiringi jerit istighfar.

Suni kembali melihat ke depan. Tetap kelam dalam balutan jarum-jarum hujan. Tak ada kerlip cahaya sebagai pertanda dermaga seberang sudah dekat. Petir terus menyentak-nyentak, gulungan ombak besar berlari kencang ke arah perahunya, kembali membuat guncangan dahsyat seperti hendak terbalik. Si perempuan purna dalam pekik jerit yang sangat keras menahan sakit sebelum akhirnya berganti tangis bayi.

Tawa dan cakap kebahagiaan akhirnya terdengar. Suni mulai lega dengan keadaan yang lumayan damai. Tapi, hanya sebentar, lalu orang-orang kembali menangis, kembali menjerit-jerit, begitu mereka tahu ibu bayi itu sudah tak bernyawa.

Di antara ricik hujan, selain mengusap peluh, Suni juga mengusap air mata. Dadanya seperti terbelah. Ia menatap ke depan; masih diadang tembok kelam, lalu tampaklah sosok ibunya di ujung perahu, mengingatkannya pada saat dirinya dilahirkan di tengah laut yang membuat nyawa ibunya juga melayang.

“Sampai kapan orang pulau harus seperti ini?” tanya Suni dalam gumam. Dijawab hentak petir, amuk gelombang, tangis, dan jeritan. ***

.

Gaptim, 2021

A Warits Rovi lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, dan artikel dimuat di berbagai media. Memenangkan beberapa lomba karya tulis sastra. Buku cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki (Basabasi, 2020). Sedangkan, buku puisinya yang berjudul Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela memenangkan Lomba Buku Puisi Pekan Literasi Bank Indonesia, Purwokerto, 2020. Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl Raya Batang-Batang PP Al-Huda Gapura Timur, Gapura, Sumenep, Madura 69472.

.

.

 274 total views,  1 views today

Average rating 3.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!