Fitri Kurnia Sari, Kompas, NuBi

Dugaan Mimu Maleo

Dugaan Mimu Maleo ilustrasi Regina Primalita/Kompas

5
(2)

Oleh Fitri Kurnia Sari (Kompas, 31 Oktober 2021)

PAGI hari, di sebuah hutan di daerah Gorontalo, Sulawesi Tengah, suasana hening. Tiba-tiba terdengar suara jeritan seekor burung. Ya, dialah Mimu si burung Maleo.

“Ada apa Mimu? Kenapa kamu berteriak sangat keras?” tanya Noa si anoa.

“Noa, telurku hilang. Hu… hu…,” isak Mimu menangis.

“Kamu mengubur telurmu di mana, Mimu? Apa ada yang mengambilnya?” tanya Monyi si monyet hitam.

“Aku yakin mengubur di dekat pohon kelapa ini,” jawab Mimu.

Sudah menjadi kebiasaan, burung Maleo selalu mengubur telurnya setelah bertelur di dalam pasir sedalam 50 sentimeter. Cara unik ini dilakukan Mimu dan kawanannya karena telur mereka sangatlah besar, dibandingkan tubuh mereka yang kecil.

“Telur kamu kan besar, ukurannya bisa lima kali ukuran telur Yapung si ayam kampung itu. Siapa ya yang bisa mengambil telurmu?” tanya Noa.

“Tadi, waktu mau mengecek telurku, aku melihat Bimbi si biawak. Gerak geriknya mencurigakan. Jangan-jangan, dia yang mengambil telurku!” kata Mimu.

“Keterlaluan sekali Bimbi!” kata Noa geram.

Kebetulan Bimbi sedang lewat tak jauh dari Mimu, Noa, dan Monyi. Mereka bertiga lalu memanggil Bimbi. “Bimbi, Bimbi, sini!”

Bimbi mencari arah suara yang memanggilnya. Dilihatnya ada Mimu, Noa, dan Monyi.

“Hei, kalian sedang kumpul ya. Ada apa kalian memanggilku?” tanya Bimbi heran.

“Kamu kan yang sudah mengambil telurku?” tanya Mimu menyelidik.

“Telur? Telur yang mana?” Bimbi balik bertanya.

“Tadi aku melihatmu di sekitar tempat aku mengubur telurku,” kata Mimu.

“Ayo, mengaku saja, Bimbi. Kasihan kan Mimu!” kata Monyi tak mau kalah.

“Aku tidak mengambil telur Mimu. Aku hanya kebetulan lewat di dekat pohon kelapa ini. Aku sedang mencari air untuk minum,” jelas Bimbi.

Baca juga  Bermain Ayunan

“Ada apa ini? Kalian sedang ribut apa?” tanya Momo si burung maleo jantan.

“Bimbi telah mengambil telurku, Momo. Tapi, dia tidak mau mengaku!” lapor Mimu.

“Telur? Bukannya kamu mengubur telur di dekat batuan besar di sebelah sana?” kata Momo.

Mimu mengingat kembali. Lalu….

“O iya, aku lupa! Aku memang membuat beberapa lubang untuk mengecoh siapa saja yang akan mengambil telurku, agar telurku aman,” kata Mimu.

“Kalian seharusnya tidak boleh sembarangan menuduh tanpa ada bukti,” kata Momo.

Mimu, Noa, dan Monyi merasa bersalah karena sudah menuduh Bimbi.

“Bimbi, kami minta maaf ya, sudah menuduh kamu mencuri telurku,” kata Mimu menyesal. Noa dan Monyi juga meminta maaf kepada Bimbi.

“Iya, aku maafkan kalian,” kata Bimbi.

Mimu, Noa, dan Monyi bersalaman dengan Bimbi. Mereka bertiga berjanji tidak akan menuduh sembarang lagi tanpa ada bukti. ***

.

.

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: