Cerpen, Mufti Wibowo, Republika

Riak Klawing Malam Itu

Riak Klawing Malam Itu - Cerpen Mufti Wibowo

Riak Klawing Malam Itu ilustrasi Rendra Purnama/Republika

4.5
(4)

Cerpen Mufti Wibowo (Republika, 31 Oktober 2021)

HUJAN awal musim menggiring kawanan laron berebut cahaya neon warung kopi di ujung jalan kampung kami. Mereka tentu takkan peduli dengan pembicaraan serius tiga orang pelanggan warung kopi Jusman. Dan, aku menjadi orang keempat yang menyelisihi kesyahduan malam itu—paduan aroma kopi dan mendoan dengan latar suara riak Sungai Klawing.

Saat kusesap kopi untuk kali pertama, ketiganya meninggalkan warung setelah si kepala botak membayar sejumlah uang yang disebut Jusman untuk mahar semua kopi dan gorengan. Kepada Jusman mereka mengatakan akan pergi ke sungai, menengok ikan-ikan bertelur. Dalam hati aku tersenyum, ada kemungkinan besok ibu akan memasak ikan sungai—lauk kesukaanku. Mereka berencana menawar kesialan hasil panen kebun cabe yang buruk karena hama.

Jusman, pemilik warung itu, adalah sepupuku. Ia anak dari pamanku yang buta permanen setelah operasi kataraknya gagal. Setiap mudik, aku selalu menyertai ibu mengunjungi rumah paman, selain ke makam bapak. Ke rumah paman, ibu akan membekali diri dengan gula, kopi, hingga kaleng bisuit. Ke kuburan, ibu membekali diri dengan bunga-bunga kenanga dan mawar yang dipetik di halaman rumah kami. Tapi, untuk pertama kali setelah lima Lebaran terakhir tak pulang, ibu memintaku pergi sendiri berziarah.

Selesai mondok, tugas utama Jusman adalah mengajar anak-anak kampung mengaji saat sore hari—menggantikan paman. Pagi hingga siang hari ia biasa di sawah. Untuk yang terakhir, dia mesti berguru pada orang yang sebelumnya dipercaya menggarap sawah paman. Setelah pengalaman dua kali masa tanam hingga panen, Jusman memberanikan diri menggarap sawah. Tak beruntung, dua kali tanam, Jusman selalu gagal. Tikus dan wereng silih berganti menyerang sawahnya. Kepercayaan diri Jusman kolaps serta merta.

Peristiwa itu bersisian dengan munculnya wabah aneh yang melanda kampung di seberang Sungai Klawing yang juga menjadi batas sebelah timur kampung kami. Kampung itu sangatlah luas dan memiliki jumlah penduduk tiga kali lipat lebih banyak dari kampung kami. Hanya ada satu jalan untuk memasuki dan keluar kampung mereka, melalui jalan kampung kami.

Anak-anak balita hingga remaja di sana mengalami kelumpuhan massal. Kulit mereka berwarna kuning pucat. Karena itulah, tak seorang pun berani memasuki kampung itu. Konon, penyakit itu dapat menular hanya dengan kontak mata dari jarak sepuluh meter. Tak jelas siapa yang mula-mula mengembuskan kabar itu.

Sementara itu, orang-orang dari luar takut masuk ke sana, orang-orang kampung itu tak pernah diizinkan keluar atau melewati batas kampung mereka oleh orang kampung kami. Terlalu besar risikonya. Untuk itu, orang-orang kampung kami mengadakan ronda pagi dan malam. Pos ronda itu berada di seberang jalan warung Jusman.

Baca juga  Tuan Pengemis

Setelah tersiar kabar wabah aneh itu, serombongan orang turun dari mobil-mobil berpelat merah. Konon, mereka adalah orang-orang dari kota. Kendaraan mereka tak bisa dibawa menyeberang sungai selebar lapangan sepak bola itu sehingga mesti diparkir di tepi-tepi jalan kampung kami.

Ketika orang kampung lebih memilih tidur meski hari belum terlalu larut, rombongan orang dari kota kembali menyeberangi sungai dengan dasar bebatuan licin berlumut. Saat itu bukan malam purnama, tapi tak ada pencari ikan yang biasanya meramaikan sungai pada malam hari. Sepanjang hari itu langit mendung, tak seorang pun tahu kapan hujan akan turun di bukit utara, hulu Sungai Klawing. Kali benar-benar sepi berlatar suara riak air.

Angin berembus ke selatan membawa bulir-bulir gerimis. Air hujan bercampur lumpur dari hulu Klawing menyeret batu-batu besar dan pohon dari akar hingga daunnya. Pada saat material banjir mulai melintasi perbatasan kampung kami, rombongan orang kota itu berada di tengah arus Klawing. Secepat kedipan mata, tak terlihat lagi rombongan orang kota hingga sehari kemudian mereka dikabarkan ditemukan di Bendung Serayu sebagai mayat.

Karena peristiwa itu, orang-orang kota berikutnya datang untuk membangun jembatan penghubung kampungku dengan kampung yang dilanda wabah itu. Orang kampungku sempat memboikot pembangunan jembatan itu karena khawatir wabah akan dengan mudah menyeberang dan menjangkiti warga kami. Orang-orang kota—dengan bingkisan berisi beras, minyak, gula, dan mi instan—berhasil meredam ketakutan itu yang diam-diam berubah menjadi sakit kepala karena tekanan darah tinggi. Jembatan itu selesai dalam waktu enam bulan.

Selama enam bulan itulah, Jusman menjadi tempat bergantung para pekerja proyek jembatan. Ia menyediakan berbagai keperluan makan dan minum mereka. Setelah proyek itu selesai, dia tetap berjualan di dekat jembatan itu.

Menurut Jusman, atas kesepakatan warga kampung itu dengan orang-orang kota—sebagai syarat tak tertulis atas di[1]bangunnya jembatan itu—semua rumah di kampung mereka harus bercat kuning. Maka, kemudian kami sebut Kampung Ku ning. Pun jembatan itu, jembatan kuning.

***

Melihatku mencuci muka, Jusman menyeringai memamerkan seekor ayam jantan muda yang akan dipotong seperti janjinya. Jam sembilan, ayam itu sudah masak dan menjadi menu sarapan kami menemani nasi liwet hangat di atas lincak bambu ungu.

Baca juga  Persimpangan Tak Bertu(h)an

Setelah membakar rokok, aku meminta pendapat paman mengenai rencana pernikahanku lalu memboyong ibu untuk tinggal di kota. “Tapi, ibu berkeras ingin tinggal di kampung hingga akhir hayatnya sembari membantu Ruslan menemukan kembali kehidupannya yang normal.”

“Jadi, karena itu kamu kemari sendiri?” tukas paman melucu.

Bagi paman, kematian bapak belasan tahun masih menyisakan luka di hatinya. Ketika bapak memutuskan merawat bayi Ruslan, kakakku, paman sudah mewanti-wanti. Paman memang tidak pernah mengatakan ajallah yang akan bergerak lebih cepat menghampirinya, tetapi dengan yakin ia membaui akan datangnya petaka di masa yang akan datang jika bapak mengadopsi Ruslan. Saat itu, aku belum lahir meski pernikahan ibu dan bapak sudah berusia belasan tahun.

Bapak bergeming. Rasa cinta pada ibu telah mementahkan anjuran paman. Dialah orang yang menyimpan rahasia-rahasia bapak—bahkan yang tak pernah ibu diketahui. Ibu terlahir dari keluarga berada, lain dengan bapak. Jika kemudian bapak dapat pekerjaan di kantor pegadaian, tidak lebih karena pengaruh orang tua ibu. Lima tahun menikah, orang tua ibu memberikan rumah yang kami tinggali hingga saat itu. Pada saat bersisian, ibu terus larut dalam kesedihan karena tidak kunjung memiliki buah hati.

***

Malam sebelum air Klawing yang biasanya kehijauan atau pekat tanah saat banjir mendadak menjadi kemerahan dan menguarkan aroma kematian, seorang kawan bapak datang mengendap-endap dari pintu belakang rumah. Ia menyodorkan bayi yang tengah tidur dalam buntalan jarit dan buntalan pakaian bayi. Ia berbicara kepada bapak dengan berbisik-bisik, tapi degup jantung yang rapat dan napas yang memburu. Bapak mengangguk mengerti setelah dikabari penggarukan orang-orang yang menghadiri rapat-rapat itu.

“Di mana ibunya?” tanya bapak dengan bibir yang gemetar dan dahi berkeringat.

“Pagi tadi dia pergi ke pasar, hingga malam ini tanpa kabar. Aku tak berani mencarinya ke pasar.”

Di hari ke tujuh setelah kematian bapak, setelah tamu-tamu pamit, di hadapan Ruslan, ibu, dan aku yang kata paman tengah tertidur setelah kenyang menetek, paman merasa tak perlu lagi menyimpan rahasia bapak. Tanpa sungkan ia membuka simpul dan merentangkan segala rahasia bapak.

***

Paman, hingga saat itu—mungkin juga sekarang jika saja setahun lalu ia bisa menolak ajalnya yang sebenarnya selalu ia rindukan sejak kehilangan penglihatannya—selalu merasa menjadi saudara yang sia-sia. Nasihat yang ia berikan kepada bapak, saudara lelakinya tercinta, mentah di hadapan sumpah setianya pada ibu dan sahabatnya. Yaitu ayah kandung Ruslan yang menghilang sejak terakhir kali diketahui bersama segerombolan orang dinaikkan dengan paksa ke bak truk yang kemudian melaju ke arah hulu Sungai Klawing—beberapa saat sebelum Klawing memerah.

Baca juga  Ular Randu Alas

Sejak malam itu, Ruslan mengunci diri di kamar secara konstan hidup tanpa kata-kata. Jika tengah malam, ia akan keluar dari kamarnya untuk pergi berjalan ke Klawing. Ia baru akan pulang bila hari menjelang Subuh. Dengan cekatan, ia bisa mencapai batu gajah tanpa sedikit pun air menyentuh tubuh atau pakaiannya (begitu kata para pencari ikan yang kerap didengar Jusman).

Batu gajah itu adalah sebuah batu besar seukuran rumah yang ujug-ujug muncul setelah peristiwa air Klawing berwarna kemerahan. Orang akan mudah mengatakan batu itu diseret banjir dari hulu, tapi mereka pura-pura lupa bahwa saat peristiwa itu terjadi adalah pertengahan musim kemarau di mana langit dan malam menjadi begitu dingin karena pergerakan tekanan udara dari selatan Jawa.

Para pencari ikan begitu hafal dengan sosok Ruslan. Diam-diam, mereka menjadikan kehadiran Ruslan sebagai penanda Klawing takkan banjir meski hujan selebat apa pun. Sebab, setiap kali datang banjir dari hulu, Ruslan selalu absen di sungai.

***

Sejak mengantar pemakaman ibu, Ruslan tak pernah pulang ke rumah. Sepanjang hari, ia hanya duduk di atas batu gajah seperti seorang resi yang bersemedi. Hingga seminggu kemudian ia menghilang sama sekali setelah banjir Klawing. Jasadnya tak pernah ditemukan, tapi aku percaya ia telah moksa atau mengubah diri dalam wujud ikan yang tinggal di lubuk Klawing. Dan sejak itu, Klawing tak pernah banjir lagi.

Riak Sungai Klawing malam itu membuatku tersihir dalam kenangan. Tiba-tiba aku sadar, sudah ada gelas kopi kedua di hadapanku. Aku menoleh ke Jusman yang tersenyum. Aku menemukan wajah paman di sana, samar-samar juga wajah bapak.

“Besok, bisa antar aku tabur bunga di makam ibu, bapak, dan paman.”

“Tak sekalian di batu gajah?” tukas Jusman bersemangat. ***

.

.

Fakuntsin, 2021

Mufti Wibowo lahir dan berdomisili di Purbalingga, Jawa Tengah.

.

Riak Klawing Malam Itu. Riak Klawing Malam Itu.

 546 total views,  1 views today

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. ling

    diksinya kok awut awutan menurutku.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: