Cerpen, kompas, Muna Masyari

Pamengkang

Pamengkang ilustrasi Rismanto/Kompas

Cerpen Muna Masyari (Kompas, 07 November 2021)

HAMPIR lima tahun tidak menginjak kampung halaman, suatu hari dia pulang hanya untuk menjual rahim ibunya demi membayar pelacur!

Gambar rumah berdempet-dempetan yang berukuran dan berbentuk sama dan hampir tanpa halaman itu justru mengingatkanmu pada kandang jangkrik berkotak-kotak yang dia tenteng pulang suatu sore dengan senyum mengembang dan peluh membulir di dahinya.

Berceloteh riang sekaligus bangga, dia bercerita bagaimana dia dan kedua temannya sampai berhasil menangkap delapan jangkrik dan memamerkannya dengan menggeser seruas bambu bagian atas kandang itu padamu. Sudah disediakan daun singkong dan kedebong pisang saat kauintip ke dalam.

Sebinar itulah wajahnya kali ini ketika memperlihatkan gambar rumah dari ponsel berlayar lebar, ke bawah dagumu. Hanya beberapa menit setelah temannya pamit dan kau bermaksud membereskan dua cangkir yang tinggal ampas, namun dia menahanmu untuk duduk di kursi sebelahnya. Dengan menggeser dan menyentuh layar sana-sini, gambar-gambar di ponsel itu memperjelas desain rumah dari empat sudut.

Setiap rumah memiliki halaman depan selebar beberapa langkah saja. Satu sudut depan berdinding kaca bening dan menampakkan bunga hias dengan pot porselen putih susu, tersusun rapi dan cantik. Garasi sempit bersebelahan dengan teras yang sama kecilnya. Lantai teras itu lebih tinggi sejengkal dari garasi, ditopang dua pilar persegi berlapis keramik batu alam berwarna kelabu, sedikit lebih tua dari warna keramik lantai.

Tidak ada celah sedikit pun untuk menanam pohon di samping atau belakang rumah. Pun tidak ada tempat untuk membentangkan tali jemuran. Sekilas jajaran rumah itu tampak seperti jemaah salat dalam posisi duduk tawarruk.

“Dapur dan kamar mandinya ada di dalam,” ujarnya, kembali menyentuh layar, hingga tampaklah isi rumah, bagai bangunan tanpa atap dan disorot mata kamera langsung dari langit.

Ada dua kamar tidur di dua sudut, ruang makan, ruang tamu, dapur, dan satu kamar mandi.

Nenek berusaha melihat gambar di layar dengan menjulurkan kepalanya. Sebentar kemudian, kepalanya ditarik kembali dengan kesan sinis tanpa minat.

Tidur, makan, dan berak dalam rumah, apa bedanya dengan kandang hewan? Nenek menyembur dengan cibiran yang membuat bibirnya meliuk lucu, seraya membuang muka.

“Jadi tak perlu merasa takut kalau malam-malam kebelet kencing,” lanjutnya, seolah masih mengingat masa kecil ketika mengeluhkan letak kamar mandi yang cukup berjarak dan harus membangunkan nenek gara-gara mendapat panggilan alam di malam gelap buta.

Baca juga  Perburuan Agustus 1947

Sekolah jauh-jauh, tetapi dia tetap saja bodoh! Serasa menggamit pundakmu, nenek menunjuk ke arahnya dengan dagu. Gerak bibir perempuan itu masih terulang seperti tadi.

Kamar mandi itu tempat pembuangan kotoran. Tempat yang paling disenangi setan. Makanya dibangun terpisah dari induk rumah! Tangan nenek menunjuk kamar mandi yang masih kokoh tak tergerus usia. Hanya kulitnya yang sedikit mengelupas hingga seperti tubuh disinggahi kurap.

Letak kamar mandi itu selurus sekaligus menghadap serambi, namun di depannya terbentang sekat dari seng setengah badan, dan di bawah sekat itu ditanami berbagai pohon rempah, jeruk purut, serta dua pot seledri. Berjarak sekitar 8 meter di samping rumah. Bersebelahan dengan lubang sumur yang airnya tak pernah kering meskipun kemarau menggugurkan daun-daun di sekitar. Ada pohon nangka, mangga, jambu air, belimbing wuluh, sukun, gerombolan pohon pisang, semua berjajar menyamping dari sumur hingga ke sudut halaman belakang.

Dulu, ketika mangga kesukaannya mulai matang, dia sering menggerutu dongkol karena banyak dimakan codot, tidak mengindahkan seberapa sering nenek bilang bahwa hewan juga butuh makan.

Halaman samping yang luas dan diteduhi rindangnya pohon-pohon menjadi tempat ternyaman bagi nenek untuk memberi makan ayam-ayamnya, setiap pagi dan sore.

Sementara di belakang rumah, terhampar sebidang kebun yang sering ditanami talas, singkong, ubi ungu. Bagian pinggir dijajari pohon kelor yang bisa disayur daunnya kapan saja, sedangkan pinggir yang lain ditanami terong, cabai, kadang tomat. Juga ada lima pohon saga yang daunnya selalu menjadi santapan sapi. Daun saga seperti uban; semakin ditebang, tumbuh semakin rimbun. Jenis pohon yang tegak pongah melawan bengis matahari.

“Untuk memasak cukup menggunakan kompor gas, tidak perlu tungku!” paparnya lagi. Gambar posisi dan isi dapur di ponsel itu diperbesar.

Perabot-perabotnya tertata rapi. Ada kompor gas, kulkas, rak piring, tempat botol-botol rempah yang menempel ke dinding, ada blender di bawah colokan listrik, gantungan serbet, wastafel, dan entah apa lagi.

“Temanku tadi memang punya modal besar untuk membangun perumahan, dan tempat ini sangat strategis karena dekat dengan kota, tetapi tidak terlalu bising. Jadi, walaupun memasang harga jual yang tinggi, pasti akan diambil.” Dia menarik kembali ponselnya dengan senyum terkembang.

“Kau ingin menjual tanah ini?” kau tatap wajahnya lekat-lekat dengan dahi mengerut. Baru memahami maksud kepulangan dan gambar-gambar yang diperlihatkan baru saja.

Baca juga  Dongeng Terakhir untuk Jingga

Kau melirik raut wajah nenek juga sama terkejutnya. Matanya melotot protes, marah dan tak terima.

Dia menggeser letak duduk, lalu membetulkan kacamatanya sebentar. Kau tidak tahu sejak kapan dia menggunakan kacamata. Kedatangannya tiga hari lalu memang menunjukkan banyak perubahan. Dibanding lima tahun silam, ketika meninggalkan kampung halaman dan berjanji tidak akan pulang sebelum membawa kesuksesan, posturnya jauh lebih tinggi, kulitnya cerah, kuku-kukunya panjang bersih, dan tak pernah meninggalkan ponsel kecuali sedang mengisi baterai.

Dia menarik napas sejenak seolah tengah menyusun kalimat yang tepat.

“Rumah ini sudah tua. Kayu-kayunya sudah lapuk, hanya menunggu ambruk. Jika kita menjual tanah ini, lalu dibangun perumahan, kau bisa tinggal di salah satunya!” cara bicaranya seperti orang yang sedang hati-hati menyusun tumpukan gelas.

“Tidak! Tanah ini tidak akan pernah kita jual! Walaupun harus memperbaiki rumah, masih bisa melepas sapi di kandang!” Tukasmu cepat dengan suara menekan, seolah merobohkan tumpukan gelas yang disusunnya. Darah di tubuhmu menghangat bagai air baru dijerang.

“Sembarangan saja mau menjual pamengkang [1]!” Nenek bangkit dan berkacak pinggang.

Dia kelihatan berpikir sejenak. Tampak ragu. “Masalahnya, aku juga butuh uang 300 juta untuk meluluskan jabatan. Kalau tidak, nanti bisa dialihkan pada orang lain!” intonasinya berubah bujukan.

300 juta hanya untuk sebuah jabatan? Kau tercengang tanpa kata. Sementara nenek melotot tak percaya. Kepalanya sedikit terjulur hingga punggungnya agak membungkuk.

“Ini kesempatan langka. Tidak semua orang memiliki kesempatan seperti ini. Gajinya lumayan besar.”

“Menjual tanah warisan, apalagi pamengkang, tidak akan pernah menjadikan hidup kita makmur!” tandasmu.

“Yang ada malah kena tulah!” sambung nenek mengangguk setuju.

Tanah warisan adalah pusaka yang harus dirawat dan dijaga.

“Lalu dari mana akan kudapatkan uang sebanyak itu?”

“Kalau untuk mendapatkan jabatan masih harus mengeluarkan uang ratusan juta, tinggallah di sini. Di sini kita tidak akan mati kelaparan!” kau segera bangkit membawa dua cangkir kosong beserta tatakannya, ingin segera menyudahi pembicaraan itu.

Tanah ini telah menyediakan penghidupan tanpa kurang suatu apa pun! Di tanah inilah keluargamu hidup dan mengisap saripatinya. Di sumurnya, keluargamu seolah menyesap air susu di dada ibu. Darah juga mengalir dari tanaman-tanaman yang tumbuh di sini. Dari hasil tanah ini juga kau dan nenek memberi dia kesempatan menadah ilmu ke tanah rantau.

Setiap kali menerima telepon darinya untuk sekadar tanya kabar dan meminta kiriman uang, nenek menjual salah satu ternak di kandang. Sisanya dibelikan sekarung beras, ikan asin, dedak untuk pakan ayam, sabun, dan kebutuhan lain.

Baca juga  “Aku Ngenteni Tekamu...”

“Masa seorang sarjana harus bertani dan mengurusi sapi?” teriaknya, menghentikan langkahmu di undakan serambi.

Kau menoleh. Wajahnya yang terlihat kalut dan kesal jadi tampak menyedihkan di matamu. Dia lupa, gelar sarjana itu diperolehnya dari mana.

“Apa kubilang? Sekolah jauh-jauh dia tetap saja bodoh!” rutuk nenek, berlalu meninggalkan serambi.

Tentu saja dia tidak mendengarnya.

***

Ketika kandang ternak dirobohkan begitu penghuninya digiring ke pasar, gergaji besi menumbangkan pohon-pohon tanpa sisa, tanah diratakan, bahkan makam kakek-nenek dipindah ke pekuburan umum seperti memindah bangkai, kau melihat nenek tersedu di sudut halaman. Itulah terakhir kali kau melihat bayangannya, sejak meninggal 6 bulan lalu.

Setelah pamengkang itu rata, dua dump truck bolak-balik mengangkut batu bata, abu batu, pasir, kerikil, dan bahan material lain. Sesuai kesepakatan, hanya rumahmu yang belum disentuh sampai satu rumah selesai dibangun dan bisa kautinggali.

Membayangkan tinggal di rumah yang berdempet-dempetan itu nanti, tiba-tiba kau merasa jadi jangkrik dalam kandang yang pernah dia tenteng pulang suatu sore.

Nanti, sebelum perumahan itu selesai dibangun, akan datang dua pemuda berdiri di depan pintu rumahmu. Yang satu menenteng koper berwajah letih, sementara satunya berbadan lusuh, rambut kusut, tatapannya tak terarah, dan kadang cekikikan sendiri sambil menggaruk telinga. kuku-kuku jarinya yang panjang agak menghitam.

Jari tangan itulah yang tempo hari membubuhkan tanda tangan. Tangan yang lebih berkuasa daripada tanganmu.

“Sejak gagal mendapatkan jabatan dan uangnya hilang tak kembali, dia jadi seperti ini.” Pemuda satunya menjelaskan begitu kausilakan masuk. ***

.

.

Madura, Oktober 2021

.

Catatan:

[1] Pamengkang: tanah yang mengelilingi rumah.

.

.

Muna Masyari. Bertempat di Pamekasan, Madura. Kumpulan cerpennya, Martabat Kematian, mendapat anugerah Sutasoma sebagai Sastra Indonesia Terbaik 2020. Kumpulan cerpennya, Rokat Tase’, mendapat Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi 2021. Sementara novelnya, Damar Kambang, masuk dalam 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa ke-21.

Rismanto. Lahir di Bantul pada 1972. Lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa. Ikut terlibat film animasi Legenda Nusantara di Bening Studio sebagai animator. Sekarang tinggal di Bantul, Yogyakarta. Pernah pameran tunggal bertajuk Awasspoor di Taman Budaya Yogyakarta tahun 2016 dan pameran-pameran lainnya sampai sekarang.

.

.

6 Comments

  1. Cak

    Terlalu bermain detail, berpotensi bikin cerita jd membosankan. Sampai pertengahan, baru jelas konfliknya apa. Tidak sebaik cerpen2nya yg lain di koran yg sama.
    Oya, kata ‘pelacur’ di paragraf 1 merujuk ke siapa ya? ?

  2. Ricardo Marbun

    Agak berbeda dari cerpen cerpen sebelumnya. Metafora meliuk liuk manjhahh berkurang banyak. Amanat dari cerpen ini bagus. Cara maracik kata memang sudah khas Muna. Paragrap pertama mungkin sengaja untuk menarik perhatian redaksi ya?

    Sebab tidak ada kelanjutan kata Pelacur dengan cerita, atau ini semacama kiasan?

    Terus berkarya Muna.

  3. Ahmad

    Untuk memahami korelasi “pelacur” dalam cerpen itu, sebaiknya cari dulu maknanya. Pelacur sama saja dengan orang yang memperdagangkan kenikmatan sesaat. Jadi, jika merujuk pada isi cerpen di atas, pelacur adalah org yang memperjualbelikan jabatan. Sementara “rahim ibu” adalah tanah pamengkang. Tanah kelahiran tempat pertama kali menyesap kehidupan. Bukah kita memulai hidup dari sejak rahim?

    Sepehaman saya untuk cerpen ini.

    • Cak

      Melacur itu lebih ke makna ‘menjual’ saja ketimbang ‘menjualbeli”. Melacur tidak membeli, dia menjual, apa pun.
      Nah di paragraf pertama itu, ‘dia’ kan dimaksudkan si tokoh yang pulang ke kampung halaman untuk menjual tanahnya, jadi si pelacurnya ya ‘dia’ ini. Menjadi janggal jika dia membayar dirinya sendiri.
      Saya si membacanya begitu.

  4. Cak

    Kalau pun orang kantornya yang menjual jabatan itu diartikan pelacur juga, berarti makna kalimat paragraf pertama itu: pelacur yang membayar pelacur.

Leave a Reply

error: Content is protected !!