A Makmur Makka, Cerpen, Republika

Kemuning Masih Berbunga

Kemuning Masih Berbunga ilustrasi Rendra Purnama/Republika

5
(1)

Cerpen A Makmur Makka (Republika, 07 November 2021)

Kemuning masih berbunga, menerbarkan bau harum.

Harum bunga itu menyerbu masuk ke dalam rumah, terbawa angin pagi yang sejuk. Lelaki tua penghuni rumah baru saja menyelesaikan bacaan zikirnya. Ia membuka daun jendela kamarnya untuk mendapatkan udara segar. Itulah kebiasaannya tiap pagi, menjalani hari-hari tuanya sendirian sejak istrinya meninggal dua tahun lalu.

Anak laki-lakinya semata wayang, sudah lebih 20 tahun bermukim di Chicago, Amerika Serikat, bekerja pada perusahaan perkapalan. Ketika laki-laki tua itu merasa sudah sangat rapuh dan sering sakit-sakitan, ia mulai merindukan anaknya, ia ingin anak laki-lakinya itu datang menengoknya, mungkin pula untuk terakhir kali mereka akan berjumpa.

Namun, ia mendapat balasan surat dari anaknya yang meminta maaf belum bisa segera pulang karena kesibukan kerja yang tidak bisa ditinggalkan. Anaknya berjanji, mungkin akhir tahun ini, ketika ia mendapatkan libur musim dingin.

Ah, masih tujuh bulan lagi, masih lama, pikir lelaki tua itu setelah melihat ke arah kalender murahan yang tergantung di ruang tamu. Ia kemudian duduk pada kursi yang bantalannya sudah banyak yang koyak dan menyembul spons sumpalan. Badannya terasa hangat dan persendiannya terasa ngilu. Seluruh badannya pegal-pegal.

Ia mulai berpikir liar, apakah ia masih sempat bertemu dengan anaknya yang jauh itu? Maklumlah, ajal manusia tidak bisa ditebak. Sepuluh tahun lalu saja, usia yang dijalaninya sudah usia berkah. Sisa usia yang biasa dikatakan orang sebagai bonus. Ia pun kadang kala menerima kabar, satu per satu pensiunan teman seangkatannya sudah pergi. Itu sudah kodrat manusia, pikir lelaki tua itu, apa yang harus disesali?

Memang tidak ada pesan yang berarti yang akan ia sampaikan kepada anaknya jika datang. Tidak ada juga warisan yang bernilai yang bisa ia berikan.

Rumah yang ia tempati sekarang, di ujung jalan kampung ini, tidak seberapalah nilainya. Tanah dengan luas 200 meter persegi, tempat rumah itu dibangun, dibeli murah 50 tahun lalu dari seorang teman sekolahnya yang bekerja di kecamatan. Waktu itu, tanah sekitar rumah masih ditumbuhi pepohonan yang lebat. Ada pohon melinjo, pohon kecapi, pohon nangka, sehinga selalu terasa teduh. Jalan setapak di depan rumah, baru setahun tahun lalu menjadi jalan pintas, dilalui menuju ke beberapa perumahan yang juga baru berdiri.

Rindu, hanya rasa rindu. Tidak lebih. Naluri setiap orang tua, naluri seorang ayah. Apalagi, pertemuan dengan anaknya kelak, mungkin sekaligus menjadi pertemuan terakhir. Jika benar demikian, ia makin merasa kesepian. “Ya Allah.” Ia menutupkan kedua belah tangan ke mukanya.

Baca juga  Surat Cinta Puluhan Tahun Cahaya

Kemuning masih berbunga, menerbarkan bau harum.

“Assalamualaikum, Pak Rojak.“ Ia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang dari luar. Suara Mang Zaki, penjual sayur keliling langganannya. Lelaki tua itu berdiri malas, persendiannya terasa ngilu, badannya mulai terasa hangat. Tetapi, ia paksakan juga berdiri dan membuka pintu. Ia melihat Mang Zaki menggantungkan plastik keresek di pintu pagar, sebagaimana biasa.

“Bawa apa, Mang?“

“Biasa Pak Rojak, mungkin mau yang berbeda dari kemarin. Ada ikan peda, bahan sayur bening, bayam dan labu, kerupuk, cabai rawit dan kriting untuk nyambel.”

“Terima kasih, gantungkan saja di situ, Mang Zaki,” kata lelaki tua itu pelan.

Mang Zaki yang biasanya terburu-buru menancap gas motornya menuju ke arah perumahan pelanggannya, kini, menahan diri sejenak. Ia kembali menengok lelaki tua itu yang terlihat tidak seperti biasanya.

“Pak Rojak baik-baik saja, Pak?”

“Agak meriang sedikit nih, tetapi nanti sembuh sendiri,” jawab lelaki tua itu berdiri di depan pintu.

“Hati-hati, Pak Rojak, sekarang musim penyakit demam. Dua hari terjang kit bisa lewat.“

Naudzuhubillah, begitukah Mang Zaki?”

“Ya Pak. Hati-hati ya Pak, besok saya bawakan obat.”

“Terima kasih.”

Terdengar suara starter motor Bang Zaki. Kemudian, ia memberi salam, “Assalamualaikum, Pak Rojak.”

Lelaki tua itu membalas salam, kemudian melangkah ke dalam rumah membawa plastik keresek antaran Mang Zaki. Lelaki tua itu mengenal Mang Zaki sejak masih memakai sepeda ontel menjajakan sayur mayur. Hari demi hari, rezeki menghampiri Mang Zaki, sehingga Mang Zaki bisa membeli motor mengganti sepeda ontel-nya.

Laki-laki setengah baya asal Kuningan itu, dua tahun terakhir ini, sejak istri lelaki tua itu wafat, setiap pagi singgah membawa sayur dan bumbu-bumbu yang diperlukan lelaki tua itu untuk memasak. Mang Zaki sudah tahu selera lelaki tua itu, lauk apa yang diperlukannya.

Setiap awal bulan, setelah laki-laki tua itu mengambil uang pensiunan di kantor pos terdekat, ia membayar Mang Zaki dengan jumlah uang yang selalu sama. Tidak ada catatan dan hitungan, mereka sudah saling mengerti dan ikhlas.

Pada setiap awal bulan itu pula, setelah Mang Zaki pulang dari menjajakan jualannya, Mang Zaki menyempatkan diri singgah mengobrol dengan laki-laki tua itu, sambil minum kopi. Begitulah sebuah persahabatan terjalin.

Kemuning masih berbunga, menerbarkan bau harum.

Setelah meletakkan plastik keresek antaran Mang Zaki di dapur, lelaki tua itu kembali berjalan dengan lesu ke tempat duduknya semula. Ia merasa sangat letih. Kabar yang dibawa Mang Zaki mengenai wabah penyakit demam masih melekat pada ingatannya. Tetapi, ajal manusia kan sudah ada dalam suratan nasib setiap hamba Allah, pikirnya. Ia tidak ingin terganggu terlalu jauh dengan berita itu.

Baca juga  Mbah Karjo

Ingatan lelaki tua itu masih tetap tertuju kepada anaknya yang jauh. Apalagi yang bisa diwariskan kepada anak itu, jika saja ia suatu waktu dipanggil menghadap Sang Khalik. Harta yang dimilikinya hanya tanah 200 meter persegi dan rumah reot itu. Tetapi, apalah arti semua itu bagi anak yang sudah puluhan tahun tinggal di kota modern Amerika Serikat.

Di lemari pajangan ada juga map lusuh berisi surat keputusan kenaikan pangkat dan golongan gaji. Dua lembar kertas karton, penghargaan negara atas pengabdian 10 tahun dan 20 tahun bekerja sebagai pegawai negeri. Puluhan buku tua yang terbanyak buku agama, terbitan Medan tahun enam puluhan.

Selain itu, ada buku sastra dari pengarang terkenal Ernest Hemingway, Leo Tolstoy, Edgar Alan Poe, Anton Chekov, Maria Carcia Lorca, dan Maxim Gorky. Buku pengarang Indonesia ada Pramoedya Ananta Toer, Marah Rusli, Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah. Semua buku-buku lama yang dibelinya ketika masih mahasiswa, sebagian besar dari lapak loak.

Atau, mungkin anaknya mau mengoleksi sebuah mesin tik manual merek Olivetti sebagai barang antik? Tetapi, buku agama dan sastra serta mesin tik antik seperti itu, apa urusannya dengan anak yang perhatiannya sejak dulu hanya pada ilmu ekonomi?

Sejujurnya, ia ingin semua harta tetek bengek miliknya itu diselamatkan atau tetap disimpan untuk anak cucunya nanti. Mungkin setelah merasa sehat kembali, ia akan menulis surat wasiat untuk itu.

Kemuning masih berbunga, menerbarkan bau harum.

Lelaki tua itu merasa sangat lelah, temperatur badannya mulai tinggi lagi. Ia kembali masuk ke kamar dan tidur lelap. Menjelang Maghrib, ia terbangun dan menyalakan lampu. Ia merebus air dan setelah mendidih, ia menunggu sebentar sampai air rebusan itu agak dingin dan meminumnya beberapa teguk. Badannya terasa sedikit segar, tetapi ia merasa sangat lelah. Ia pergi berbaring dan tertidur lagi.

Matahari hari pagi sebentar lagi merekah. Lelaki tua itu terbangun setelah mendengar suara azan. Ia melangkah terhuyung-huyung ke kamar mandi mengambil air wudhu. Ia berusaha melaksanakan shalat dan berzikir. Kemudian, ia kembali berbaring dan baru saja memejamkan mata ketika terdengar ada suara.

“Assalamualaikum, Pak Rojak.”

Itu suara Mang Zaki. Lelaki tua itu perlahan bangkit dari pembaringan, membalas salam Mang Zaki dengan pelan. Ketika Mang Zaki melihat lelaki tua itu di balik jendela, Mang Zaki merasa lega.

Baca juga  Subuh Mak’ke

“Saya bawakan obat, Pak Rojak.”

“Repot sekali Mang, beli di mana obatnya?” kata lelaki tua itu dengan suara parau yang hampir tidak terdengar. Ia hampir terjatuh karena tidak ada keseimbangan badan. Ia berpegang pada gorden jendela yang sudah berdebu.

“Di toko obat, Pak Rojak. Ada obat demam, berbagai macam vitamin. Penjual obat mengatakan, obat ini yang paling laris sekarang. Minumlah Pak Rojak, supaya cepat sembuh. Saya bawakan juga sebungkus nasi dan lauk masakan istri saya. Pak Rojak tidak perlu masak, istirahat saja. Semoga segera sembuh Pak Rojak, assalamualaikum.”

“Terima kasih, semoga Tuhan membalas kebaikanmu, Mang,“ kata lelaki tua itu setelah membalas salam Mang Zaki.

Mang Zaki menghidupkan mesin motornya. Menengok ke dalam rumah sejenak, kemudian menekan gas motornya, berlalu.

Kemuning masih berbunga, menerbarkan bau harum.

Pagi itu, Mang Zaki buru-buru ingin cepat sampai di rumah lelaki tua itu membawa sebungkus makanan. Selain itu, Mang Zaki mau mengabarkan bahwa wabah demam yang berjangkit sekarang sangat berbahaya, ditularkan dari orang ke orang dan sangat cepat, berakibat kematian.

Ketika sampai di depan rumah lelaki tua itu, Mang Zaki mengucapkan salam.

“Assalamualaikum, Pak Rojak.” Salam itu tidak terjawab.

Jendela dan pintu masih tertutup. Ia mengulang lagi salamnya.

“Assalamualikum, Pak Rojak.” Tetap tidak ada jawaban.

Ia mengulang sampai tiga lagi, empat kali, ketika tidak ada jawaban, Mang Zaki berpikir mungkin lelaki tua itu masih tertidur. Ia mematikan mesin dan turun dari motornya. Ia mau menggantungkan plastik keresek di pintu pagar, makanan yang dibawanya untuk lelaki tua itu hari ini. Tetapi, ia terhenti, plastik keresek kemarin yang ia gantungkan di bagian dalam pintu pagar itu masih ada pada tempatnya.

Mang Zaki mulai menyadari apa yang terjadi. Wabah deman itu! Ia lemas duduk bersandar di pagar, keringat bercucuran pada wajahnya. ***

.

.

 Jakarta, 22 Oktober 2021.

A Makmur Makka tinggal di Jakarta. Buku yang telah diterbitkan: Buah  Chery Ladang Gandum (antologi cerpen), Ungu bersama Darmanto Jt (kumpulan puisi), Sajak-Sajak Malioboro (kumpulan puisi), Rumpa’na Bone (novel sejarah).

.

.

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: