Achmad Mudjaki, Cerpen, Suara Merdeka

Perampokan pada Malam Jumat

Perampokan pada Malam Jumat ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

4.3
(6)

Cerpen Achmad Mudjakir (Suara Merdeka, 07 November 2021)

MALAM Jumat, Bu Darsih seperti malam-malam sebelumnya selalu makan sendiri. Bu Darsih seorang janda tua yang telah ditinggal mati suaminya sepuluh tahun lalu. Ia hidup sendiri di rumah tua yang tak terlalu luas. Warisan dari suaminya. Mempunyai empat anak. Satu putra dan tiga perempuan. Mereka sudah mempunyai keluarga sendiri dan berdomisili di luar kota. Setiap akhir pekan, empat anaknya selalu bergiliran untuk menginap di rumah Bu Darsih bersama keluarganya.

Tak disangka malam Jumat itu ada perampok menerobos masuk ke ruang makan sambil mengancam Bu Darsih dengan pistolnya.

“Ibu jangan berteriak!” kata perampok sambil mengacungkan pistolnya.

Bu Darsih yang tengah menikmati makan malam, kaget dan pucat. Benar-benar tak diduga ada seorang laki-laki memakai penutup muka, yang hanya kelihatan kedua matanya nyelonong begitu saja ke ruang makan dan mengacungkan pistol. Tentu saja, Bu Darsih tidak bisa berbuat lain kecuali harus menuruti kemauan perampok itu. Bu Darsih ambil napas pelan-pelan supaya tetap tenang dan tidak bertindak melawan. Meskipun ketika masih muda dulu, Bu Darsih memiliki ilmu bela diri ‘pencak silat’. Bu Darsih juga mantan atlet pencak silat. Pernah mendapat medali emas ketika ikut kejuaraan Asian Games dalam olahraga pencak silat melawan atlet dari Malaysia.

“Wah, saya sedang makan je!” kata Bu Darsih sambil meneruskan mengunyah makanan yang sudah telanjur masuk ke dalam mulutnya.

“Tak peduli! Tunjukkan simpanan emas[1]berlian Ibu!”

“Ibu tak punya emas berlian!”

“Jangan bohong Bu. Mana brankasnya?”

“Ibu tak punya brankas.”

“Tempat menyimpan uang atau perhiasan?”

“Ibu juga tak punya.”

“Bohong!”

“Kalau begitu, cari sendiri di semua ruang rumah Ibu!”

Baca juga  Muntah

Berkata begitu, Ibu Darsih menurunkan tangannya dan ingin meneruskan makannya.

“Jangan bergerak!”

Tapi Bu Darsih tidak peduli pada perintah si perampok. Bu Darsih mengambil sendok dan garpu, lalu meneruskan makan dengan tidak menghiraukan perintah si perampok.

“Saya tengah makan. Tidak baik berhenti di tengah jalan. Kalau Anda mau, silakan duduk dan kita makan bersama-sama!”

Si perampok diam. Agaknya ia ragu-ragu. Atau bingung apa yang harus dilakukan. Barangkali ia berpikir: lebih baik menggunakan kekerasan atau tidak?

“Kenapa rumah ini yang Anda pilih untuk dirampok?” tanya Bu Darsih sambil meneruskan makannya.

“Saya sudah ‘keliling kota’ dan tak menemukan sasaran yang baik.”

“Lantas kenapa rumah saya yang dipilih?”

Feeling saya yang menyuruh… Jadi Ibu hanya sendirian saja di rumah ini?”

“Seperti Anda lihat. Anak-anak dan cucu tinggal di keluarganya masing-masing. Saya tinggal sendirian. Ini rumah warisan suami saya!”

Bu Darsih tampak benar menikmati makan malamnya. Pintu depan tadi oleh Bu Darsih memang sengaja tidak ditutup, karena belum malam benar. Ternyata malah kemasukan perampok!

“Ibu tidak takut ditembak?”

Bu Darsih merampungkan makannya. Lalu minum. Mengusap bibirnya. Berdiri.

“Jangan bergerak! Nanti saya tembak beneran,” bentak perampok.

Tapi Bu Darsih tidak peduli. Ia bangkit dari duduknya, berjalan ke arah bufet, mengambil sesuatu dan diletakkan di atas meja.

Perampok itu kaget luar biasa. Tapi, tidak berapa lama kemudian, kekagetan itu berubah menjadi sesuatu yang ‘menyenangkan’. Buktinya: Ia tertawa terbahak!

“Nggak lucu ya, kalau kita tembak-tembakan?!” kata si perampok.

“Kecuali kalau kita ingin mengulangi masa kanak-kanak kita,” jawab Bu Darsih, nyaris tanpa ekspresi. Dulu ketika masih kanak-kanak suka main tembak-tembakan. Karena saudara kandung Bu Darsih dulu semua laki-laki.

Baca juga  Tepi Laut Kadra

Perampok itu kini duduk di kursi, meski agak jauh dari Bu Darsih. Kain penutup wajah yang sejak tadi menutupi mukanya, ia copot.

“Bagaimana Ibu tahu pistol ini hanya mainan?”

“Pistol mainan seperti itu ada dua di sini. Persis sama. Ini salah satunya,” kata Bu Darsih sambil menuding ‘benda’ yang diambil dari bufet tadi.

“Berarti feeling saya tidak benar!” Kini perampok itu lesu.

“Anda bukan perampok seperti lainnya. Itu jelas. Tapi kenapa ingin merampok juga?”

“Saya terpaksa merampok. Sudah setahun lebih saya di[1]PHK. Gara-gara musibah pandemi Covid-19 yang masih merajarela sampai saat ini. Perusahaan tempat saya kerja, bangkrut. Mencoba berdagang dari uang pesangon perusahaan, malah bangkrut. Lagi pula barang-barang berharga di rumah juga sudah ludes, untuk kebutuhan sehari-hari, Bu!”

“Berapa anak Anda?”

“Memang baru satu. Tapi istri dan anak kan….”

“Berapa kira-kira yang Anda butuhkan saat ini?”

Perampok itu menatap tajam Bu Darsih. Ia seperti tak percaya mendengar kata-kata pemilik rumah yang dirampok itu.

“Berapa?”

“Paling tidak 2 atau 3 juta rupiahlah. Sebagian untuk bayar utang di warung kelontong dan untuk modal usaha lagi.”

Bu Darsih bangkit dari duduknya. Lalu berjalan ke kamarnya. Keluar lagi dengan membawa sesuatu.

“Ini ada 3,5 juta rupiah. Ambillah. Dan jangan berpikir ini ‘hasil rampokan’. Kasihan istri dan anakmu, kalau mencari uang dari usaha barang haram. Saya ikhlas. Jangan khawatir!”

Bu Darsih melihat perampok itu akan memotong kata-katanya. “Saya masih ada yang lain. Percayalah!” lanjutnya.

Perampok itu ragu-ragu harus mengambil uang itu atau tidak.

“Hmmm…. apakah saya pernah melihat Anda?” Tiba-tiba Bu Darsih itu bertanya menyelidik.

“Barangkali. Rumah saya memang tidak terlalu jauh dari sini. Hanya sekitar 500 meter. Mungkin Ibu pernah melihat saya?”

Baca juga  Kakek Kesekian

Di luar dugaan, Bu Darsih menangis. Sesenggukan, seperti tak dapat dibendung. Si perampok kaget. Tak tahu apa yang harus dilakukan.

“Kenapa Ibu menangis?”

“Anda susah. Menderita. Sampai harus melakukan kejahatan untuk mencukupi kebutuhan sandang pangan istri dan anak. Sungguh keterlaluan!”

“Keterlaluan?” perampok itu kaget.

“Saya yang keterlaluan. Kami, para tetangga Anda. Kenapa tidak tahu kesulitan yang tengah Anda hadapi.”

Perampok itu benar-benar kaget atas ‘simpati luar biasa’ yang diperlihatkan Bu Darsih yang akan dirampok itu. Hatinya tergoncang, sehingga tak terasa air hangat memenuhi pelupuk matanya.

“Ayo, ambillah uang itu. Saya ikhlas seribu persen. Gunakan sebaik-baiknya untuk keluarga Anda. Hanya segitu yang kali ini dapat saya berikan.”

Perampok itu mengambil uang itu. Lalu mendekati Bu Darsih dan menubruk kakinya sambil menangis. Bu Darsih cepat menyuruhnya berdiri, kemudian memeluknya dengan hangat dan kasih sayang. Seperti ibu dan anaknya sendiri. “Maafkan kami,” kata Bu Darsih berbisik.

Masih tidak percaya, perampok itu melangkah meninggalkan rumah itu dengan hati campur-aduk. Bangga, malu, sedih, gembira, takjub.

“Pistolnya tertinggal!” Bu Darsih mengingatkan.

“Biar jadi koleksi mainan cucu Ibu!” ***

.

.

Achmad Mudjakir, penikmat sastra dan pembelajar otodidak. Tinggal di Yogyakarta, dengan berwiraswasta.

.

.

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: