Anton Kurnia, Cerpen, Koran Tempo

Karanfil

Karanfil - Cerpen karya Anton Kurnia

Karanfil ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

4.7
(12)

Cerpen Anton Kurnia (Koran Tempo, 07 November 2021)

INGATAN datang dan pergi, tetapi hanya cinta yang bisa mengawetkan kenangan. Ada sebuah ruas jalan di kota itu yang lekat di hatimu. Tempat itu terletak di kawasan Taksim, di pusat kota yang biasanya ramai. Ke sanalah kau berjalan-jalan sendirian pada satu malam di awal musim semi yang dingin. Saat kau menatap orang-orang yang berlalu-lalang, kau teringat waktu kali pertama berkunjung ke kota itu bertahun-tahun lalu. Kau terkenang kepada satu senja yang kemilau saat kau dan Adina berjalan menyusuri trotoar di jalan itu. Ketika melintas di depan sebuah gereja tua, kau dan dia mendengar serombongan pemusik jalanan membawakan Katyusha—sebuah lagu rakyat Rusia yang amat kau suka.

Beberapa jam sebelumnya, kalian duduk di beranda sebuah kedai yang, menurut Adina, hidangan kebabnya paling enak di seantero kota. Letak kedai itu terpencil di antara lorong-lorong sempit di kawasan Beyoğlu. Dindingnya bercat merah. Di satu sudut dinding terdapat foto Anthony Bourdain berukuran besar. Chef Bourdain memang pernah merekomendasikan kedai kebab itu sehingga membuatnya termasyhur.

Di kedai Durumzade itu, kau dan Adina memesan kebab adana dan teh tawar. Kebabnya memang sedap sekali. Bisa dibilang itu kebab terenak yang pernah kau cicipi. Lebih lezat dari kebab yang pernah kau santap di Jakarta, Dubai, ataupun Wina.

Setelah makan kebab, Adina ingin mencuci mulut dengan kudapan manis. Kalian berjalan menelusuri lorong-lorong tua yang di kedua sisinya terdapat rumah-rumah dan bangunan bertingkat menuju arah Menara Galata. Di sekitar kawasan wisata itu, Adina menggamit tanganmu, mengajakmu masuk ke sebuah kafe yang menyajikan kunafe. Kalian lalu menyantap kunafe hangat yang bagian atasnya dibubuhi es krim vanila yang lekas mencair. Sambil makan dengan perlahan, kalian bercakap-cakap akrab dan tertawa ria. Seperti sepasang kekasih yang mesra.

Ketika berjalan menembus malam di musim semi itu, kau terkenang lagi kilau-kilau di mata Adina saat kalian bertukar cerita. Kau tak pernah bosan menatap cahaya matanya dan wajahnya yang seakan bercahaya. Tetapi malam itu kau sendiri. Tak ada lagi Adina.

Tak banyak orang berlalu-lalang di malam dingin itu. Banyak toko tutup, meski malam belum beranjak larut. Semua orang memakai masker. Suasana terasa pilu dan mencekam. Pandemi tengah berkecamuk. Banyak orang menjadi korban, dan kau tak tahu apakah minggu esok masih akan bisa merasakan hangat cahaya matahari.

Kau datang lagi ke kota itu untuk memenuhi undangan mengikuti sebuah acara pertemuan perbukuan internasional. Semula kau tak ingin hadir. Situasi dunia yang tengah dilanda pandemi berkepanjangan membuatmu waswas. Namun atasanmu memintamu tetap datang karena ada hal mendesak yang harus kau tangani di sana. Ada orang-orang penting dari Turki, Jerman, dan Uni Emirat Arab yang harus kau temui, dan itu menjadi penentu kesepakatan kerja sama yang amat bernilai.

Baca juga  Semua Berkat Romlah

Tiga tahun sebelumnya, kau menghadiri acara serupa. Kau datang dari Jakarta mewakili sebuah penerbit buku sastra. Adina datang dari Banja Luka mewakili sebuah penerbit buku anak-anak. Kalian berjumpa, berkenalan, dan lekas menjadi akrab.

Malam itu, kau terkenang lagi kepada cahaya kemilau di mata Adina. Di dekat seorang penjual kacang kastanye bakar di pinggir jalan, kau membetulkan balutan syal merah kirmizi di lehermu, lalu kau berbelok ke sebuah toko buku bekas yang pernah kau masuki tiga tahun sebelumnya bersama Adina.

Waktu itu, hujan turun tiba-tiba. Kau dan dia berlari-lari kecil—berusaha mencari tempat berteduh. Adina tertawa-tawa riang seperti bocah manja. Jemari kalian saling bertaut. Seperti sepasang kekasih yang mesra.

Begitu melihat buku-buku ditata berderet di muka jendela kaca, kalian bergegas masuk ke dalam toko itu. Toko yang lebih cocok disebut kedai barang antik itu dipenuhi buku-buku tua dan pernak-pernik benda dari masa lalu. Seorang lelaki berkumis dan berambut kelabu duduk di depan meja di sudut ruangan. Kau mengangguk memberi salam. Penjaga—atau pemilik?—toko itu hanya menatap kalian dalam diam.

Sambil menunggu hujan reda, kau dan Adina menggerayangi rak buku berdebu yang berdiri berderet-deret di ruangan yang tak terlalu luas. Kebanyakan buku itu berbahasa Turki. Kau melihat sebuah terjemahan novel Kafka dan buku puisi Nazim Hikmet. Ada juga buku-buku berbahasa Inggris dan Prancis.

Di satu sudut terdapat tumpukan beraneka CD musik dan DVD film. Kau membolak-baliknya. Ada Casablanca, film lawas Ingrid Bergman yang telah kau tonton lebih dari tujuh belas kali.

Di sudut lain terlihat poster-poster film tua dan grup band yang telah lama bubar. The Doors. The Beatles. The Police. Ada pula tumpukan kartu pos lawas. Kau asyik melihat-lihat. Kau pandangi lekat-lekat sepucuk kartu pos bergambar pemandangan hitam-putih di sekitar jembatan di Karakoy dari masa 1980-an. Lalu matamu tertambat pada sehelai foto lama Hagia Sophia dalam warna sephia.

Sehari sebelumnya, kalian mengunjungi bangunan kuno itu. Di dalam gedung luas berlantai pualam yang disebut Aya Sofia oleh penduduk setempat itu, kau dan Adina sempat bermain-main dengan Gli—kucing penghuni tempat itu. Di Istanbul memang banyak terdapat kucing liar yang lucu-lucu. Di sana kau dan Adina berfoto bersama. Seperti sepasang kekasih yang mesra.

Hagia Sophia, yang telah berusia lebih dari 1.500 tahun, adalah peninggalan Imperium Byzantium. Dahulu ia berfungsi sebagai gereja, tetapi kemudian digunakan sebagai masjid pada masa kekuasaan Khilafah Usmani. Kini bangunan itu dijadikan museum dan tempat wisata. Di dindingnya yang megah, kaligrafi raksasa bertulisan Muhammad berbagi ruang dan berdampingan secara damai dengan lukisan mural Yesus selama ratusan tahun.

Baca juga  Di Langit, Ayub Melaut

Tempat itu seakan mempersatukan kau dan Adina yang berbeda akar. Kau seorang lelaki Kristen yang datang dari sebuah negeri Timur multietnis dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Dia seorang perempuan muslim yang datang dari sebuah negeri di benua Barat yang pernah dikoyak perang saudara akibat perbedaan etnis dan agama. Akibat tragedi itu, Adina kehilangan kakak perempuannya yang diculik milisi Serbo-Kroasia. Dia juga kehilangan ayahnya yang tewas dalam satu pertempuran.

Tiba-tiba kau tersadar dari masa silam dan kembali ke malam dingin di sebuah toko buku tua. Toko itu tak jauh berubah dari apa yang kau ingat tiga tahun lalu. Kau bahkan masih mengenali lelaki penjaga—atau pemilik—toko yang berkumis dan berambut kelabu. Tetapi tampaknya dia sudah lupa kepadamu. Mungkin karena kini mulutmu terbalut masker.

Kau memberi salam dengan anggukan kepala. Dia membalasnya dengan tersenyum. Lelaki itu tak memakai masker. Dia sedang minum teh. Dalam bahasa Turki bercampur bahasa isyarat, dia menawarimu teh. “Cai?” katanya seraya menunjuk tehnya. Dia tak bisa berbahasa Inggris. Sementara kau hanya paham dan bisa mengucapkan sedikit kata dalam bahasa setempat: teşekkurler, tamam, gunaydin, kitap, kedi.

Kau mengangguk. Pak Tua itu lalu menuangkan air teh panas mengepul ke dalam cangkir kaca mungil. “Şeker?” tanya dia sambil menunjuk gula batu.

Yes, please. Teşekkurler,” katamu.

Kau menerima tehmu setelah membuka masker dan meminumnya sedikit. Tubuhmu terasa menghangat di malam yang dingin berangin.

Sigara?” tanya Pak Tua lagi seraya menyorongkan bungkus rokoknya.

No, thanks,” katamu seraya mengeluarkan sebungkus kretek yang kau bawa dari Jakarta. Kau lalu menawarinya. “Indonesian cigarette with clove,” ujarmu.

Dia mengambil sebatang. Kau menyalakannya dengan pemantikmu. Kemudian kau nyalakan lagi sebatang untukmu sendiri. Dia mengisap kretek darimu, lalu mengembuskan asapnya dan tersenyum seraya mengangkat jempol. “Ah, karanfil!” serunya.

Kau cari arti kata itu di kamus digital dengan ponselmu. Karanfil adalah cengkeh dalam bahasa Turki.

Dia lalu menyalakan musik dari komputer di mejanya. Terdengar irama mengentak dan nyanyian merdu seorang perempuan. “Sıla. Karanfil,” katanya seraya jemarinya menari-nari. Yang dimaksudkan Pak Tua adalah lagu Karanfil yang dibawakan oleh Sıla Gencoğlu, biduan tenar Turki.

Lagu itu bercerita tentang seorang wanita yang kecewa karena cinta. Dia ingin dikenang oleh lelaki yang tak bisa bersatu dengannya meskipun dia mencintainya. “Setidaknya sekali setahun, nyalakanlah rokok cengkehmu sebagai kemenyan persembahan untuk mengingatku,” kata Sıla dalam lagu itu.

Baca juga  Saksi Mata

Kau tersenyum dan mengacungkan jempol kepada si Pak Tua. “Tamam!” katamu.

Lalu kau memberi isyarat hendak melihat-lihat buku. Dia mempersilakanmu dengan membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Saat menggerayangi buku-buku tua di atas rak, kau kembali terkenang kepada Adina.

Tiga tahun lalu, di toko itu, kau menemukan sebuah novel Orhan Pamuk dalam terjemahan bahasa Inggris, Museum of Innocence. Novel itu bertutur tentang kisah cinta yang berakhir sedih antara seorang lelaki pemimpi bernama Kemal dan seorang wanita bernama Fusun—istri orang. Kau membelinya.

Pada malam terakhir kau dan Adina di Istanbul, kau berikan buku itu di depan pintu kamarnya di Hotel Radisson yang kalian tempati. “Tanda mata untukmu,” katamu.

Adina menerimanya dengan bibir tersenyum dan sepasang mata berbinar. Kau nyaris tak tahan hendak mengecup bibirnya yang penuh, tetapi sesuatu menghalangimu. Kau tak tahu, itu terakhir kalinya kau bisa menatap langsung bibir dan mata itu.

Dua minggu sebelum kau bertolak ke Istanbul, sebuah surel masuk ke akunmu. Dari akun pribadi Adina. Namun penulisnya bukan Adina, melainkan seseorang di Bosnia yang mengaku bernama Vahid Hazibegic. Dia suami Adina. Dalam surel yang dikirim ke semua kontak di akun Adina itu, dia menyampaikan kabar duka. Adina telah tiada. Pandemi ganas ini telah merenggutnya.

Malam itu, sekeluar dari toko buku tua di Taksim, kau berjalan sendiri menembus kelam menuju hotelmu di dekat alun-alun Monumen Republik. Kau rapatkan jaketmu untuk melawan dingin. Dengan sedih kau nyalakan sebatang kretek sebagai kemenyan persembahan untuk mengenang Adina. ***

.

.

Istanbul-Amsterdam-Jakarta, Maret 2021—Ponggok, Oktober 2021

.

Catatan:

Teşekkurler: terima kasih

Tamam: oke

Gunaydin: selamat pagi

Kitap: buku

Kedi: kucing

Cai: teh

Şeker: gula

Sigara: rokok

Karanfil: cengkeh

.

.

Anton Kurnia menulis dua kumpulan cerpen, yakni Insomnia (2004)—telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa Arab—dan Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam di Tengah Gelap Malam (2019). Buku terbarunya adalah Menulis dengan Cinta: Pengantar Belajar Menulis Kreatif (2021). Bukunya yang akan terbit adalah Seni Penerjemahan Sastra: Panduan, Gagasan, dan Pengalaman. Datang dan pergi di banyak kota, kini ia tengah menyepi di satu desa di Jawa Tengah.

.

Karanfil. Karanfil. Karanfil.

 145 total views,  2 views today

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Tenggara

    Keren 👍🏻. Aku suka cerpen2 seperti ini.

Leave a Reply

error: Content is protected !!