Cerpen, Chalvin Pratama Putra, Singgalang

Cinta Kecil Seorang Penyair

Cinta Kecil Seorang Penyair ilustrasi Singgalang

Cerpen Chalvin Pratama Putra (Singgalang, 14 November 2021)

JIKA hanya bertopengkan puisi, mungkin para perempuan yang kusinggahi akan begini-begini saja. Mengira aku seorang premanisme yang bicara semaunya, mengungkapkan apa yang terasa, apa-apa yang lucu, gombal tak berujung tak berpangkal.

Kalimat filosofi, majas, metafora, diksi, maupun satire yang berbelit-belit macam sebuah kemubaziran, sehingga dari kaca mata para perempuan hal itu terkesan lebay. Tapi, apakah pernah terbesit dalam benak mereka, tentang penyair yang membekukan dirinya dalam ruang kesunyian, kesepian yang menghamilkan syair yang purba, syair yang fana, yang bahkan kematian pun tidak bisa melenyapkannya.

Semasa sekolah menengah pertama, aku sudah berjabat dengan perasaan. Walau sering dibilang cinta-cinta monyet, namun seiring jarum jam berputar monyet itu pun tumbuh dewasa, menjadi cinta gorila, cinta dinosaurus, yang bahkan saking besarnya bumi pun tak sanggup menopang cinta jika doktrin itu dialihkan menjadi sebuah fisik.

Fey, sesosok perempuan yang berbolak-balik datang di saban hari. Seperti bulan, atau matahari yang belum tega meninggalkan bumi. Keakraban kami berawal dari kepompong, hingga musim menceraikan dan mempertemukan kembali setelah menjelma kupu-kupu.

Gadis bermata purnama itu kini tengah menyelesaikan skripsinya, bidang keperawatan yang dianutnya sangat serasi dengan kelembutannya. Dan mungkin ia semakin jauh kudekap dalam dada, terbilang aku hanya seorang badut jalanan, terbilang tak berpunya, baik dari segi materi maupun jabatan dalam keluarga. Hasil keringat cukup untuk pagi dan cukup sehabis petang, dan bersyukur badut seperti ini masih lulusan SMA.

Perihal membaca dan menulis mungkin hanya itu yang dapat kutenteng dari bangku sekolahan. Tapi aku yakin, ia tak memandang dengan satu mata kiri atau satu mata kanan. Hanya saja aku juga yakin, ia juga tak memandang jantungku, jiwaku, dadaku dan apa-apa tentang perasanku.

Pipinya serupa yang agar-agar, lentik bibir serupa bayi baru keluar dari rahim. Aku baru menyadari keindahan Fey, padahal aku tau persis bentukan kecilnya dahulu. Barangkali ini yang namanya cinta, dari mata turun ke saban hari penuh khayal.

Baca juga  Penikung dan yang Tertikung

Ketika Fey terjatuh, aku selalu ada untuknya. Ketika jatungnya diremukkan lelaki, aku selalu menjadi dokter bedah atasnya. Tapi siapa sangka, sekalipun ia tak pernah paham maksud hati. Ia hanya menganggap aku seorang sahabat kupu-kupunya, padahal, sudah sekian naskah cinta kutulis untuknya, ribuan puisi, atau kata-kata cinta kuucap padanya, tapi ia hanya menyangkal aku gombal, puitis hanyalah bagian dari diriku sebagai penulis, pikirnya barangkali.

***

MALAM itu aku melihat Fey singgah di sebuah kafe. Tak sengaja motor CB100 peninggalan Bapak mogok di parkiran kafe. Aku melihat di sisi kirinya seorang pria berjas biru, berdasi, pria yang tidak begitu tampan dariku menggengam jemari Fey.

Alunan musik kafe yang terdengar samar dari luar ikut serta membunuhku dalam pandang yang menyakitkan, mataku enggan berkedip menatap sepasang merpati itu. Aku takut, genggaman itu menyakiti Fey, sedangkan aku hanya beberapa meter darinya, sia-sia jika aku tak bisa melindunginya. Aku berlalu dalam tatapan terkejam semasa jiwa mulai mengukuhkan cinta.

Aku betah menatapmu lama di parkiran kafe, remang kuning menggigit seluruh tubuhku. Aku berharap malam ini hujan turun, membiarkan tubuh berbasahan di luar dan kau menatapku dengan haru, mendekatiku, memelukku seperti di film-film. Benar, Fey, hujan itu turun deras, tapi bukan dari langit, melainkan dari mataku yang tak lagi berbinar.

Setengah jam berlalu, pria itu meninggalkanmu sekejap. Aku melihatmu menunduk menatap gawai. Ingin rasanya aku mendekatimu dan membawamu pulang. Singkat saja, aku cemburu, Fey, dan sangat cemburu.

Betapa berlipat kepedihan ini, serupa bara api bertonggok di kepala, luka di basuh asam, terlihat sepasang keluarga di arak oleh pria itu kehadapmu. Ya, malam itu ternyata ia melamarmu, Fey. Dua keluarga berbagi senyum atas rencana melenyapkan cintaku untukmu, Fey.

Baca juga  Sengsara Membawa Petaka

Fey, apakah kau tahu? Waktu terus mengejarku, aroma kehilanganmu terus mendekat. Beri aku kesakitan termanismu, atau luka tak berlembah, atau kesunyian tak bernama. Karena di balik langkah seorang penyair, ada sosok perempuan yang tersembunyi, cinta dalam penantian, atau rindu kekal dalam menunggu, lebih tepatnya semua itu tak terlepas tentang dirimu.

“Fey, selama ini aku menunggumu, di laut, di gunung, di kilatan pedang, namun kau tegah berlalu di mimpi orang lain,” kata puitis membuatku berbicara sendiri. Kukibas kesakitan ini, dan kembali menghitung-hitung hidup yang pahit, sambil mendorong motor CB100 keparat.

***

“Gan! Kemana saja kau, aku mencarimu dari tadi, mau curhat dikitlah, kenapa motormu?” Arnold melambai dari sudut malam tepat di depan rumahku. Aku tahu, ia mencariku hanya untuk curhat cinta tak berlesudahannya dengan mantan pelacur itu.

Hampir satu jam setengah aku mendengar curhat Arnold, curhatan yang tak beralur.

“Tuhan tidak keliru, Nold! Problem hidup perihal cinta-cinta kau masih di papan bawah. Jadi simpan cerita kau, pinanglah ceritaku. Tengok aku, sejak emak pergi bapak berjalan, aku hidup menjelma badut jalanan, berkembang biak di tiap kartu kehidupan, serupa joker, sesekali aku pantang kalah. Kehidupanku yang sebenarnya adalah ‘kebebasan’. Hampir tujuh tahun aku tidak pernah di suruh pulang, Nold. Walau tidak pulang sekalipun. Kau tahu alasannya?

Orang yang biasa menyuruhku pulang, orang yang biasa mengingatku makan, ia sedang tidur pulas sampai hari kiamat. Aku hanya memiliki keluarga sambung, kesederhanaan milik mereka tapi aku tetaplah aku. Orang baik selain orang tua kandung hanya baik selama beberapa hari, setelah itu kebencian mulai beranak pinak, apalagi terbilang aku orang tak berpunya apa-apa.”

“Kok malah kau yang curhat?” sambar Arnold.

Baca juga  Perempuan yang Ingin Menjadi Seekor Kucing

Tapi aku terus mengeluarkan isi perut ini. “Hanya satu yang membuatku kokoh gelak tersenyum, yaitu cinta. Walau terkadang aku salah menempatkannya.”

Ia hanya terpana mendengar celotehku, matanya menatap sayu, berkaca-kaca serupa akan menangis, seolah menjadi diriku dalam beberapa detik.

“Sekarang, daripada kau curhat cinta-cinta gak jelas, coba ceritakan bagaimana rasanya ngumpul keluarga? Bagaimana rasanya minta jajan ke emak atau bapak? Bagaimana rasanya diingetin makan, mandi, tidur? Dan seperti apa rasanya ketika dua keluarga berkumpul untuk lamaran anaknya?”

Ia semakin merasa tersindir.

Mungkin kau takkan pernah tau, aku dibesarkan dari sebuah kepedihan, tumbuh dewasa dalam gundah, oleh sebab itu khayalan dan imajinasi adalah hal yang aku konsumsi setiap hari. Kutulis, kutulis hingga koran-koran ikut menyiarkan hasil kepiluanku.

Orang-orang kerap memandangku seorang penyair, begitu juga dengan wanita yang kusinggahi. Dan malangnya, penyair tidak terlepas dari kebohongan, itulah sebabnya cinta jauh benar untuk dapat kugenggam.

“Gan! Kau masih ingat dengan Fey?”

Gani mengangguk dengan kepala miring.

“Ia adalah gadis yang kupupuk dalam angan, kuhidupkan dalam tulisan dan kuabadikan dalam palung paling dalam. Tapi, apa kau tahu? Secuilpun ia tak pernah percaya akan gelombang cinta yang maha dahsyat ini. Kau tahu alasannya?

Ya, gelar penyair telah membantai cinta-cinta yang kumiliki. Tak ada seorang wanita pun yang percaya akan lidah ini. Di tambah di luar sana lelaki berpangkat, mentereng, berpunya segalanya ikut menyaingi cinta kecilku, sedangkan aku hanya serupa abu di atas tunggul. Yang kapan saja bisa lenyap dipeluk angin.

Saban malam aku menghitung nasib yang pucat dan sekarat. Memeram diri di bawah naungan insomnia. Tidak ada ucapan selamat tidur di sini. Kecuali tulisan selamat tidur yang kutulis, kubaca, dan kuucapkan untuk diri sendiri.” ***

.

.

Bayang, 2021

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!