Resensi, Singgalang, Yulianti

Kau Tak Sendirian

Dear Evan Hansen ilustrasi GPU

Oleh Yulianti Sikumbang (Singgalang, 14 November 2021)

NOVEL inspirasi kategori fiksi remaja ini dirilis oleh Val Emmich pada tahun 2018 yang diadaptasi berdasarkan musical broadway milik Steven Levenson, Benj Pasek, dan Justin Paul yang meraih Tony Awards 2017.

Saat debutnya, novel ini meraih posisi 2 bagian best seller New York Time. Dan novel ini juga telah diadaptasi menjadi sebuah film drama musikal dengan judul yang sama dirilis pada 24 September 2021. Tetapi bagi Anda pecinta buku, pasti lebih memilih untuk membaca daripada menonton kan?

Yup! Novel ini wajib ada di pajangan rak buku Anda jika Anda telah mendedikasikan diri Anda sebagai pecinta dan pecandu buku, terutama novel terjemahan. Mengapa?

Karena novel ini menyajikan cerita yang bertajuk mental health/kesehatan mental. Hal yang saat ini sedang menjadi perhatian banyak orang terutama pada masa pandemi. Bahkan UNICEF memperingatkan pada tanggal 5 Oktober bulan lalu bahwa anak-anak dan remaja berpotensi mengalami dampak jangka panjang dari COVID-19 terhadap kesehatan mental mereka.

Berdasarkan data terbaru, diperkirakan terdapat lebih dari 1 dari 7 remaja berusia 10-19 tahun di dunia yang hidup dengan diagnosis gangguan mental. Setiap tahun, tindakan bunuh diri merenggut nyawa hampir 46.000 anak muda—tindakan ini adalah satu dari lima penyebab utama kematian pada kelompok usia itu. Jadi masihkah kita menutup mata dari pentingnya memahami bahwa kesehatan mental itu penting?

Tak ada salahnya untuk mencari jawaban tersebut di dalam novel Dear Evan Hansen. Novel yang menceritakan kehidupan seorang remaja usia sekolah menengah yang mengalami depresi setelah perceraian kedua orangtuanya.

Kisah bermula ketika Evan menulis surat untuk dirinya sendiri yang berbunyi:

Baca juga  Perempuan yang Menggali Kubur untuk Suaminya Sendiri

Dear Evan Hansen, Hari ini bakal luar biasa. Karena hari ini yang perlu kulakukan hanya menjadi diri sendiri. Juga percaya diri. Itu penting. Dan menarik. Mudah diajak bicara. Gampang didekati. Jangan bersembunyi. Terbukalah kepada orang lain. Bukan dengan cara yang aneh. Tidak perlu terlalu transparan. Jadi diri sendiri saja. Dirimu yang sebenarnya. Jadilah diri sendiri. Jujurah kepada diri sendiri. (hal.12)

Dia mencoba menuliskan hal-hal yang bersemangat dan bermakna positif di dalam suratnya. Surat itu merupakan PR terapi dari psikiaternya, dr. Sherman yang ditulisnya sebelum berangkat ke sekolah pertama kali setelah libur musim panas. Itu adalah cara lain selain mengonsumsi Lexapro dan Antivan agar kesehatan mental Evan kembali membaik. Namun, surat-surat yang seharusnya memberikan efek positif itu pada akhirnya hanya membuat Evan merasa lebih buruk. Surat itu menjadi bukti bahwa dia berbeda dengan semua orang lain.

Pada hari berikutnya, Evan menuliskan surat berikutnya. Dia menceritakan tentang Zoe Murphy, adik kelas yang telah lama ditaksirnya. Di sinilah hal baru dalam hidupnya dimulai.

Ketika dia hendak mencetak surat itu, Connor—abangnya Zoe Murphy masuk ke dalam ruang komputer. Mereka berbincang sedikit tentang liburan musim panas yang membuat lengan Evan patah dan harus digips. Connor tanpa diminta mengambil sebuah spidol dan menuliskan namanya besar-besar di gips Evan agar mereka berdua bisa berpura-pura menjadi teman.

Connor juga dikucilkan di sekolah mereka. Itu karena dia pernah mengonsumsi narkotika dan dikirim ke pusat rehabilitasi. Sejak saat itu dia menjadi lebih agresif dibanding anak-anak lain dan menjadi mudah tersinggung.

Judul : Dear Evan Hansen
Pengarang : Val Emmich, Steven Levenson, Benj Pasek, Justin Paul
Alih Bahasa : Rosemary Kesauly
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun : 2021
ISBN : 9786020647098
Jumlah Halaman : 424 halaman

Di saat itulah Connor membaca surat Evan yang telah selesai dicetak. Dia membacanya dan mendapati nama adiknya ada di dalam surat itu. Connor marah dan dia membawa surat Evan pergi.

Baca juga  Memahami Isi Hati Anak Lewat Tulisan

Ternyata itulah pertemuan terakhir mereka karena setelah membawa surat itu pergi, Connor terkena kecelakaan dengan surat Evan di genggaman tangannya. Namun, isi surat itu hanya tinggal sebagian kecil karena sebagian lainnya telah dirobek dan dibuang Connor.

Karena surat itu, Evan harus berbohong kepada kedua orangtua Connor, mengatakan bahwa mereka adalah sahabat. Awalnya Evan ingin jujur, tetapi dia urung melakukan karena melihat ibu Connor sangat senang mengetahui bahwa putranya memiliki seorang sahabat. Ayah Connor dan Zoe juga sangat senang dengan hal itu. Sejak saat itu, Evan dibantu oleh Jared untuk membuat email palsu untuk membuktikan bahwa Evan dan Connor sesekali bertukar pesan.

Kehidupan Evan mulai berubah. Dia dikenal sebagai sahabat Connor. Dia juga dekat dengan kedua orangtua Connor. Mendapatkan sosok ayah yang selama ini tak ditemukan di rumahnya. Evan Hansen juga membuat sebuah proyek sosial bernama Proyek Connor bersama Alana agar orang-orang tak melupakan Connor. Mereka akhirnya memiliki banyak pengikut di internet.

Di balik kebohongannya Evan merasa dihargai dan tidak lagi dipandang sebelah mata. Dia bahagia sekaligus khawatir. Dia takut kebohongannya akan terbongkar dan banyak orang akan kecewa karena hal itu terutama keluarga Connor.

Novel ini menyadarkan kita bahwa jangan pernah membuat seseorang merasa sendiri dan tak berarti. Gangguan mental yang sering diabaikan karena tidak selalu terlihat sangat sulit untuk disembuhkan. Peran keluarga juga sangat penting.

Jangan sampai karena keegoisan orangtua, anak-anak menjadi tidak memiliki tempat untuk mencurahkan segala kekhawatiran dan kesedihannya. Jangan tunggu nanti untuk menghibur seseorang. Jangan tunggu dia mengakhiri hidupnya baru kita menjadi peduli.

Cerita disampaikan dengan sudut pandang orang petama. Hal ini sangat bagus karena dengan begitu kita paham betul dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan Hansen tentang kehidupannya dan orang-orang di sekelilingnya.

Baca juga  Kesepian Linduang Bulan

Saya merasa sangat emosional saat membaca novel ini karena dapat memahami Hansen dan Connor. Terkadang kita lupa untuk melihat orang lain dari sudut pandang mereka.

Untuk diperhatikan, di bagian belakang cover terdapat panduan bahwa novel ini hanya boleh dibaca oleh remaja berusia 17 tahun ke atas karena ada beberapa istilah yang sebaiknya belum dibaca oleh anak-anak. Selamat membaca. ***

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!