Cerpen, Fajar Makassar, Nur Alawiyah Khaerunnisa

Pesawat Syurga Zee

Pesawat Syurga Zee ilustrasi Fajar Makassar

Cerpen Nur Alawiyah Khaerunnisa (Fajar Makassar, 14 November 2021)

TEPAT di depan pintu rumah sakit, Ayah datang menggendong seorang bayi perempuan yang sangat lucu. Menangis dan kita semua tertawa di sisinya. Bayi mungil itu bernama Zee, adik yang telah 9 bulan kutunggu kehadirannya. Ayah sangat bahagia membawa aku dan adik kecilku ke ruangan perawatan yang menjadi ruangan adikku untuk sementara.

“Di mana Ibu? Aku mau mengucapkan selamat kepadanya,” tanyaku pada tubuh kekar di sampingku.

“Sini ikut Ayah, kita lihat ibu sama-sama.” Ayah sembari memegang tanganku kuat-kuat dan mengantarku ke ruangan di sisi yang tadi.

“Haruskah genggamannya sekuat ini?” lirihku dalam hati, tapi aku tetap berjalan melewati terowongan sepi di tengah malam yang dingin dan gelap.

Hidupku tiba-tiba berubah, mendengar suara bayi tanpa suara ibu. Tapi aku telah berjanji di hadapan Ibuku bahwa aku akan menajaga adik sepenuh hati. Aku yang tidak pernah menjaga anak-anak, harus bisa menjaga seorang bayi yang tak berdaya. Membuatkannya susu, bangun tengah malam dan merawat adikku sesuai janjiku pada Ibu.

Ayahku dengan berat hati resign dari pekerjaannya yang lama karena berjarak sangat jauh dengan aku dan adikku sedangkan aku masih berusia 15 tahun yang belum banyak tahu tentang menjaga rumah dan adik. Walau pekerjaannya sekarang hanya pegawai biasa yang sangat berbeda dengan tempatnya dahulu tapi Ayah memutuskan bahwa ini hal terbaik yang ia lakukan sepanjang hidupnya.

“Andai dari dulu Ayah dekat dengan kalian, pasti Ayah sering berada di antara kalian terutama untuk ibumu. Maafkan Ayah,” suara Ayah bergetar.

Untuk kedua kalinya dalam hidupku Ayah menangis, setelah yang pertama saat di makam Ibu.

Baca juga  Bayangan Walter Lippman

“Ayah, kita kuat kok! Sudahi penyesalan yang hanya membuat Ibu bersedih di alam sana.” Kataku sambil menggendong Zee yang tersenyum entah karena apa tapi membuat seisi rumah juga tersenyum. Hadirnya Zee bagai bunga bagi kami, karena Zee menjadi orang tercantik di rumah ini.

5 tahun berlalu, masa kelam itu akhirnya terlewati. Saat-saat terberat dalam hidup, air mata yang sering menetes tanpa kusadari. Tapi kini perlahan menerima takdir dan menjalaninya dengan ikhlas. Zee pun tumbuh dengan sangat menawan, persis Ibuku mulai dari paras, suara, kelembutan dan segalanya. Aku dan Ayahku seperti melihat “Ibu kecil” dalam tubuh Zee.

Akhirnya rindu pun perlahan terbayar. Sekarang Zee bersekolah PAUD di dekat rumah.

Hingga suatu saat di sekolah Zee ada lomba mewarnai, aku menemani Zee ke mall membeli crayon dan alat tulis lainnya.

Sejenak aku melihat poster lomba Zee dan ternyata tema mewarnai saat itu yakni “Ibu” dalam rangka memperingati Hari Ibu 22 Desember.

Zee bertanya dengan polosnya, “Kak, Ibu itu seperti apa? Apa Ibu cantik?” sontak aku kaget dan tiba-tiba kesedihan memenuhi isi hariku.

Tapi aku kuat! Jadi kutatap langit-langit untuk mencegah butir air mata mengalir di pipi. “Iyalah, Dek, Ibu sangat cantik. Persis muka Zee, kan Zee sudah sering lihat fotonya,” kataku sambil melanjutkan memilih crayon yang Zee sukai.

“Yey, besok Zee akan lomba mewarnai untuk Ibu. Ibu pasti senang kan Kak?” Zee memelukku sambil teriak dengan senangnya.

“Iya dong, Ibu akan bahagia kalau Zee jadi anak yang baik dan rajin belajar. Ditambah lagi Zee pintar mewarnai persis kaya Ibu. Zee tahu gak? Dulu Ibu juga sering juara lomba mewarnai loh!”

Baca juga  Kenangan dalam Kepala

Zee menunduk perlahan dengan bibir tersenyum. Pemalu juga rupanya, lagi-lagi seperti Ibu. Langit semakin temaram, waktunya Zee tidur menyambut esok yang menyenangkan.

Selama perlombaan Zee terlihat sangat antusias mengambil crayon demi crayon. Dengan lihai tangannya mewarnai sisi demi sisi.

Waktu pun habis, Zee dengan bangganya mengangkat hasil mewarnainya untuk dilihat oleh aku dan Ayahku. Pewarnaan yang Zee lakukan betul-betul di luar ekspektasi. Sangat bagus. Saat pengumuman juara pun, sudah kuduga Zee pemenangnya.

Saat memberikan pesan dan kesan di saat penerimaan piala, Zee dengan muka berseri-seri berkata, “Ini hadiah untuk Ibu, semoga Ibu bahagia di Syurga. Karena kata Kak Rizki kalau Zee menang Ibu bahagia di Syurga yey.”

Momen bersejarah ini sungguh mengharukan. Kulihat di mata Ayah juga ada kaca yang hampir pecah.

Saat langit berwarna jingga dan angin menyambar-nyambar tubuh adik kecilku di teras rumah, dia sibuk membuat pesawat kertas. Aku mengatakan padanya kalau pesawat kertas itu akan terbang ke Syurga membawa pesan yang Zee akan tulis. Tapi Zee harus pintar dulu menulis dan membaca agar Ibu di Syurga bisa membaca tulisan Zee. Dan jangan lupa untuk meminta kepada Tuhan agar Ibu senantiasa bahagia di Syurga.

Tak kusangka Zee sangat semangat belajar menulis dan membaca sedikit demi sedikit menghapal huruf dan mengeja. Di setiap sholat bersama di rumah Zee pun sering mendoakan Ibu. Anak itu memang sangat penurut, dan begitu polos untuk diajarkan banyak hal tentunya hal yang baik-baik. Hingga suatu hari Zee menulis “IBU SAYANGKU” yang ia pelajari dari menulis, mengeja dan dari gurunya di sekolah PAUD.

Lalu Zee dengan senangnya melompat-lompat sambil berteriak kencang menerbangkan pesawat kertas, “Kak, lihat pesawat kertasnya untuk Syurga sudah terbang jauh sekali!” pesawat kertas pun terbang dan menghilang entah kemana. Mungkin sudah sampai di Syurga.

Baca juga  Pulung Lurah

Walau hanya itu yang ia bisa baca dan tulis sekarang, masih kalimat itu yang berulang kali ditulis di kertas dan dibuat menjadi pesawat kertas yang ia terbangkan di halaman rumah. Mungkin sudah sekitar 20 pesawat kertas yang Zee buat dalam sepekan ini.

“Bu, semoga aku dan Ayah kuat merawat Zee sampai dewasa dan terus baik, cerdas dan sholehah seperti sekarang aamiin,” dua tanganku membasuh wajahku di dalam sujudku untuk mendoakan ibu di tengah malam yang dingin dan gelap saat ini, tepat 6 tahun saat pertama kali berjalan di rumah sakit kala mencium kening ibu di ruangan sendu itu. ***

.

.

NUR ALAWIYAH KHAERUNNISA biasa disapa Alawiyah. Lahir di Bulukumba, 15 Februari 1996. Alumni Ners Universitas Hasanuddin dan bekerja di Medical Pertamina Sulawesi. Saya sangat suka menulis berbagai hal. Selamat bertemu dalam karya lainnya!

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!