Cerpen, Nilla A Asrudian, Republika

Cicak

Cicak ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Cerpen Nilla A Asrudian (Republika, 14 November 2021)

SUDAH lima hari saya bolak-balik ke kamar mandi, binatang itu masih ada di sana: seekor cicak kecil menempel erat di dinding, membelalakkan mata seolah main adu kuat pandang tanpa kedip dengan saya. Sempat terpikir—sebab cicak itu tak sekalipun tampak bergerak—ia adalah cicak malang yang sedang sekarat.

Namun, setelah saya lihat lagi, tubuhnya tidak putih-kehijauan sebagaimana pernah saya amati di masa kanak-kanak: bahwa cicak rumahan yang akan mati, bagian perut dan punggungnya akan berwarna hijau pucat. Lalu, ketika ajalnya tamat, rona tubuhnya redup menggelap.

Dan, cicak itu memang tak sekarat. Saya melihatnya pertama kali sedang menempel di atas keran pencuci tangan. Lalu, saat hendak buang air, dia sudah ada di seberang kloset yang saya duduki. Diam berhadap-hadapan seolah penasaran dengan kegiatan yang saya lakukan. Gila barang kali, saya pernah dengar orang menyebut arwah penasaran, tapi cicak penasaran?

Anehnya, setiap kali cicak kecil itu terlihat oleh saya, tidak bersembunyi ketika saya dekati. Tidak lari ketika saya menyiramnya dengan air, juga tidak terkejut waktu saya iseng pukulkan ujung sikat gigi ke sisi tempatnya menempel. Saya semakin berpikir ada yang tidak beres dengan cicak itu.

Yang lebih mengherankan, dari seluruh titik di kamar mandi yang luas ini, makhluk berukuran tak sampai empat sentimeter itu memperlihatkan dirinya di tempat-tempat yang mudah terlihat oleh saya, seolah sengaja menarik perhatian saya. Hal itulah yang membuat saya memikirkan berbagai kemungkinan mengenai keberadaannya.

Bisa saja ia adalah pembawa sihir yang di kirim seseorang untuk mengganggu keluarga saya. Konon, seorang dukun bisa mengirimkan ilmu hitamnya melalui perantara binatang yang biasa mendiami rumah, melalui cicak, misalnya. Saya hampir yakin sebab kelakuan cicak itu berbeda dari umumnya dan ia selalu mengintai saya! Tapi, kemudian saya sadar, mistik adalah satu dari sekian hal yang sejak dulu tidak pernah saya percayai. Dan, jikapun itu sihir, mengapa tak ada yang ia lakukan selain diam memata-matai saya?

Pada hari berikutnya, saya melihat cicak itu menempel di langit-langit. Kepalanya menjulur ke arah saya. Meski tampak di ketinggian, mata dan raut wajahnya jelas terlihat seperti menyeringai. Hati saya sedikit ciut. Saya bukan seorang penakut, tapi mengapa saya mulai terganggu oleh kehadiran cicak kecil yang tatapannya serupa ancaman maut itu?

Baca juga  Senja Itu Senja yang Tak Biasa

Saya selalu waswas saat mandi. Meski bersikeras untuk tetap waras, tak jarang saya mendongakkan kepala untuk memastikan binatang itu tetap diam di tempatnya; tetap cicak kecil dan tak berubah jadi buaya yang menjatuhkan diri menerkam saya. Sungguh luar biasa gila pikiran saya. Acara mandi menjadi tidak menyenangkan sejak binatang itu menjadikan kamar mandi sebagai tempat tinggalnya.

Apa maunya cicak itu? Membunuhnya tentu mudah. Ia hanya cicak kecil tak berdaya. Sekali pukul ia akan rata dengan dinding. Namun, saya tidak bisa melakukannya. Melihat bulat matanya saja, saya sudah ciut.

Teror yang dilakukan cicak kecil itu tidak berhenti meskipun saya telah keluar dari kamar mandi. Saat hendak tidur pun ia tetap membayangi saya. Ketika saya mulai tertidur, cicak itu menampakkan diri lagi. Seolah nyata, saya melihatnya menempel di langit-langit, tepat di atas tempat tidur saya. Ia memang hanya berdiam diri seperti biasa, tapi saya bisa melihat mata bulatnya membesar melebihi ukuran kepala. Mata itu tajam mengawasi saya, mengancam saya. Ketika matanya sebesar bola dan hampir meletus, saya terbangun dengan kecemasan dan ketakutan yang lebih besar lagi terhadapnya.

Pagi harinya, bergegas saya temui dokter untuk memeriksakan diri, untuk mendapatkan jawaban atas ketakutan saya terhadap makhluk sekecil itu.

“Apakah sebelumnya Anda takut pada cicak?” tanya dokter.

“Tidak, Dok.”

“Apakah Anda kurang tidur atau istirahat?”, “Apakah ada suatu masalah yang sangat mengganggu, tapi tak ada seorang pun untuk Anda ajak bicara?”, “Apakah pekerjaan Anda sebagai kepala di sebuah departemen sedang mengalami ancaman atau masalah besar?”, “Apakah Anda sedang mengalami masalah dengan istri, sehingga menyebabkan Anda tertekan?”

“Tidak, Dok, semua berjalan baik.” Saya menjawab berkali-kali.

Setelah merenung beberapa saat, dokter menjelaskan bahwa kemungkinan tanpa sadar saya mengalami gangguan kecemasan. Ia pun meresepkan beberapa butir penenang agar saya dapat beristirahat dengan baik.

Baca juga  Mahar yang Tertinggal

“Kembali kepada saya lima hari lagi dan kita lihat perkembangannya,” pesan sang dokter.

Malam harinya saya dapat tidur nyenyak, tak ada mimpi tentang cicak kecil itu, tapi di pagi hari, saat saya terbangun dan ingin ke kamar mandi, kegelisahan saya berubah menjadi ketakutan saat melihat cicak itu menempel di dinding tepat pada saat saya membuka pintu. Ia menatap saya dengan mata sangat marah. Wajahnya serupa setan murka meski tak pernah sekali pun saya berjumpa dengan setan. Saya tidak jadi masuk, lutut saya gemetar. Saya merasa cicak itu tahu saya telah membicarakan dirinya dengan seorang dokter, dan karena itulah ia menjadi marah.

“Tidak masuk akal,” tangis saya, mencoba menolak bayangan menakutkan yang begitu melemahkan diri saya.

Namun, pikiran itu begitu kuat. Bahwa dia, cicak kecil itu, tahu semua tentang saya dan perbuatan yang telah saya lakukan.

Saya memang tidak menceritakan yang sesungguhnya kepada dokter, bahwa memang banyak hal akhir-akhir ini telah menekan jiwa saya. Tak mungkin saya ceritakan kepadanya bahwa sebagai seorang pejabat, saya telah berkomplot dan melakukan korupsi besar-besaran demi kesejahteraan saya dan kroni-kroni saya di masa rakyat sedang kesusahan.

Kecurangan demi kecurangan yang saya lakukan telah memakan jiwa saya yang dulu pernah terisi gambaran ideal tentang melayani rakyat, bekerja untuk rakyat. Betapa jiwa saya yang telah kosong itu kemudian penuh kembali dengan begitu banyaknya rahasia serta ambisi yang lebih besar akan harta dan kuasa.

Tak mungkin saya menceritakan hal itu pada dokter, atau bahkan anak dan istri saya yang sedang larut dalam sejahtera. Sering kali, ketakutan saya datang menggila: bagaimana jika suatu hari saya ketahuan? Bagaimana jika suatu saat saya dikorbankan se bagai tersangka sendirian? Saya tidak ingin mengusik kenyamanan hidup keluarga saya, tidak pula ingin menghabiskan sisa hidup di penjara.

Dan cicak itu, yang akhir-akhir ini berkeliaran di kamar mandi saya, sepertinya dia tahu segalanya. Mungkinkah ia penyidik kasus korupsi yang menyamar dan dikirim untuk menangkap saya? Ataukah ia adalah nurani saya yang telah saya gencet menjadi debu pada kali pertama saya mengeruk uang yang satu sen pun bukan milik saya? Mungkinkah kini ia kembali dalam bentuk apa pun untuk meneror saya? Tapi, ia benar-benar hanya seekor cicak kecil, kan?

Baca juga  Perahu Penjemput Arwah

Sekarang, masalahnya—tak peduli ia penyidik ataupun nurani saya yang mencoba hidup lagi—saya sudah tak tahan ingin buang air kecil. Saya harus masuk ke kamar mandi dan menuntaskan segala kepentingan saya di sana. Kalau saya terus diamkan, cicak itu mungkin tidak lagi menempel di dalam kamar mandi, tetapi meloncat ke dalam kepala saya, mencengkeramkan keempat kaki kecilnya pada otak saya.

Cukup sudah! Meski saya bisa pergi ke kamar mandi lain di rumah ini, tapi kamar mandi tempat cicak itu menempel adalah milik saya, wilayah kekuasaan saya. Pilihannya adalah: dia mati atau saya akan mengompoli celana!

Segera saya buka pintu kamar mandi. Ia masih di sana. Diam menempel di dinding di hadapan saya. Kepalanya mendongak, matanya nyalang, bersiap melahap kewarasan saya.

Saya hampiri ia. Tak tampak tanda ketakutan atau usaha menghindar darinya. Melihat itu, saya semakin bernafsu untuk membungkamnya, mencolok matanya, dan meremas tubuhnya agar ia tidak bisa lagi mengawasi apa pun yang saya lakukan.

“Mampus kau cicak kecil!” Seringai saya penuh kemenangan. Sekali pukul, ia lumat di sela jemari saya. ***

.

.

Nilla A Asrudian adalah cerpenis dan penulis lepas. Saat ini berdomisili di Depok. Awalnya adalah penikmat cerita pendek, novel, fabel, dan cerita anak, hingga akhirnya menuliskan buku cerpen pertamanya Warna Cinta(-mu Apa?) dari trilogi kumpulan cerpen bertema Love-life-afterlife. Penulis juga sudah merampungkan dua novel. Novel pertama berjudul Aku Adiva yang bertema tentang pergulatan psikologis seorang perempuan dalam mengarungi cinta dan kehidupan. Novel kedua, Simulacrum, bertema kebangkitan alter-ego yang dirayakan besar-besaran di jagat Twitter. Kedua novel itu belum diterbitkan.

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!