Cerpen, Lampung Post, Yuli Nugrahani

Pikun

Pikun ilustrasi Lampung Post

Cerpen Yuli Nugrahani (Lampung Post, 14 November 2021)

WAJAHNYA tidak cantik juga tidak jelek. Kulitnya tampak kencang walau tidak muda lagi. Kosmetik samar yang dipoleskan membuat wajahnya segar, karena digunakan pas tepat tidak berlebihan dan tidak membuatnya kehilangan warna kulit aslinya yang pucat.

Dia berbaring dalam peti yang dilapisi kain putih, mengenakan kebaya putih, kain parangtritis yang lembut, dan sepatu hitam. Tangannya bersarung tangan putih, tertangkup di bagian dada, dihiasi bunga sekitar selusin bunga sedap malam yang ditalikan pada tangannya dengan pita putih. Tubuhnya tidak bergerak.

Aku mendekat untuk memastikan siapa dia. Andai dia mau tersenyum mungkin aku dapat mengingat sedikit siapa dia. Tapi bibirnya kaku, tanpa lekuk dan matanya tidak juga berkedip sejak pertama aku melihatnya. Rasanya aku begitu kenal dengannya dan nyaman berada di dekatnya, sehingga aku memilih untuk tetap duduk di situ memandangnya, mengamat-amatinya.

Bising di sekitarku membuatku bingung pada awalnya. Orang-orang datang, duduk di sekitarku. Aku tidak biasa dengan kedatangan orang-orang yang tak kukenal sehingga aku sempat mengusirnya tadi.

“Untuk apa kalian datang? Pergi. Aku tak mau diganggu di rumahku sendiri.”

Tapi aku terlalu capai, sehingga akhirnya aku mendiamkan saja mereka datang dan pergi. Mereka memaksa untuk menyalamiku dan mengucapkan beberapa kata yang aku tak mengerti. Parahnya mereka tetap di situ walau aku sudah berterus terang mengatakan aku tak suka mereka datang. Malah banyak kursi ditambahkan di halaman depan sehingga memungkinkan orang-orang lebih banyak lagi datang.

Sekilas aku melihat seseorang memegang jambangan bunga blue cobalt milikku. Hei, itu jambangan yang aku beli di Pasar Bringharjo dulu saat aku masih jadi guru!

“Hati-hati memegangnya. Itu milikku.”

Orang itu memegang jambangan itu dengan kuat memakai tangan kirinya. Buru-buru dia menghampiriku. Tangan kanannya menyentuh bahuku sembari mengatakan bahwa mereka membutuhkan jambangan-jambangan itu untuk meletakkan bunga sedap malam. Mereka bilang akan meminjamnya hanya sebentar, dan nanti dikembalikan lagi dalam lemari.

“Aku punya selusin guci seperti itu. Mari, kuambilkan di lemari. (Aku berusaha bangkit dari dudukku.) Tapi kalian harus hati-hati. Kalau pecah kalian harus bertanggung jawab.”

Mereka menahanku tetap duduk. Mereka bilang bisa mengambilnya sendiri dan memintaku untuk tetap duduk. Antara tidak ikhlas mereka mengacak-acak benda-benda milikku, dan sebal atas larangan mereka, aku bersyukur tidak perlu berdiri dari kursiku itu.

Baca juga  Catatan Pembunuhan

Aku ingat aku membeli barang-barang itu saat aku ikut dalam perjalanan ke Jogja untuk menemani murid-muridku study tour. Aku jarang membeli sesuatu dalam perjalanan-perjalanan seperti itu. Menjadi guru selama puluhan tahun memberiku kesempatan untuk datang ke Jogja selama puluhan kali secara gratis karena mendampingi murid-muridku itu. Aku tak perlu bayar, tentu saja, karena anak-anak usia belasan tahun itu tak mungkin pergi sendiri ke Jogja tanpa pendampingan gurunya. Walau mereka berjumlah banyak, atau justru karena mereka berjumlah banyak, maka mereka perlu pendampingan dari guru-guru. Aku pergi karena kewajiban.

Lihat saja apa kata orang tua saat aku menemani mereka. Mereka menitipkan satu per satu anak-anak itu saat mereka mulai naik tangga bis sebelum melaju ke Jogja. “Pak guru, titip anak kami. Jewer kalau nakal.” Ah, mereka tidak akan nakal. Aku ingat semua nama muridku, jadi aku selalu tanya pada setiap orang tua, siapa anak mereka. Kemudian aku belajar mengingat mereka itu ayah atau ibu siapa dari setiap muridku.

Kadang aku sangat jengkel pada mereka, bukan, bukan anak-anak itu. Anak-anak muridku tidak pernah membuatku jengkel yang berbekas lama karena aku memahami mereka. Usia remaja ya memang seperti itu. Mereka boleh saja berbuat salah, bergembira karena kenakalan-kenakalan dan sebagainya. Maka kalau aku marah pada anak-anak murid, aku akan segera melupakan. Segera memaafkan. Aku yakin kalau aku marah sungguh-sungguh hanya karena memang mereka memang butuh guru yang mengekspresikan marah saat mereka melakukan salah. Dengan demikian mereka dapat diingatkan bahwa apa yang mereka perbuat perlu diluruskan.

Tentu saja sikap itu kuyakini dan terus kuperbuat. Aku sudah pengalaman mendidik anak-anak. Aku bisa melihat bahwa apa yang mereka alami atau lakukan sekarang ini saat mereka sekolah sama sekali bukan ukuran keberhasilan mereka. Lihat si A, dulu selalu rangking pertama di sekolah. Setelah SMA lalu katanya diterima di sebuah fakultas kedokteran universitas anu, ternyata drop out. Lalu malah menjadi pasien di rumah sakit jiwa sebuah kota.

Si B yang waktu sekolah tampaknya biasa-biasa saja, tidak pernah mendapat nilai 5 untuk Matematika, selalu lebih rendah daripada 5, sering nilai 0, dimarahi hampir setiap hari, buktinya kemudian hampir 10 tahun kemudian dia datang ke rumah membawa selusin roti kaleng. Dia bilang sudah menjadi pemilik pabrik roti, dengan karyawan seratus dua puluh lima orang atau mungkin malah lebih dari itu. Dia bilang masih tetap belum tahu akar pangkat 2 dari 100, tapi menurutnya dia tak perlu menghitung-menghitung hal semacam itu. Dia toh bisa menggaji orang untuk membantunya menghitung hal-hal yang rumit itu.

Baca juga  Sebutir Peluru Saja

Nah, yang membuatku jengkel tak ketulungan itu adalah orang tua. Orang-orang tua yang sok tahu, yang merasa bahwa merekalah tonggak segala keberhasilan anak-anak mereka. Orang-orang tua yang menganggap guru hanyalah kacung karena sudah dibayar tiap bulan oleh mereka melalui uang SPP dan iuran-iuran ini itu dengan paraf bendahara sekolah yang galak.

Nah, itulah. Aku mengajarkan hidup hemat pada para muridku, tapi dalam satu kesempatan aku senang sekali membeli wadah-wadah keramik itu. Warna birunya sangat kusuka, dan langsung kubeli sebagai oleh-oleh untuk… hmmm… untuk siapakah aku beli guci-guci itu? Tiba-tiba aku merasa pusing, aku tak bisa mengingat apa pun. Ohhh….

Di ujung sana, kulihat mereka sedang meletakkan tangkai-tangkai sedap malam ke dalam jambangan-jambangan biru itu. Aku menuding-nuding mereka.

“Itu milikku. Jangan diambil. Harus dikembalikan di tempatnya. Nanti rusak.”

Seseorang di sebelahku bilang bahwa aku sudah mengizinkannya tadi. Seorang yang lain menepuk-nepuk punggung tanganku mengatakan bahwa mereka akan hati-hati, tak akan merusaknya. Mereka hanya ingin mengisinya dengan bunga-bunga sedap malam. Aku mendelik kepada mereka.

“Ada selusin tempat bunga itu. Jangan sampai hilang.”

Mereka saling berpandangan. Mereka bilang hanya ada dua guci berwarna blue cobalt di lemari dan itulah yang mereka gunakan. Aku ngotot bahwa ada selusin jambangan. Aku menuding-nuding mereka telah menyembunyikan jambangan-jambangan itu dan aku terus berusaha memastikan mereka tidak mencuri jambangan-jambangan itu.

“Kakek, tidak usah berteriak-teriak. Malu. Aku akan pastikan wadah-wadah itu tidak hilang.”

Seseorang berkata di dekatku. Huh, mana bisa. Mereka pantas dimaki karena menganggap barang-barang itu bisa dicuri seenaknya dariku, apalagi benda-benda bersejarah dalam hidupku. Benda yang menandai aku pernah jadi guru. Seseorang menarikku duduk kembali di kursi samping peti. Semula aku hendak marah, tapi ketika kulihat wajah perempuan dalam peti masih tetap di sana, tampak tenang, aku pun duduk kembali. Berusaha keras menahan rasa tak sabar supaya tidak menjadi marah. Rasanya malu kalau aku marah-marah di hadapan wajah tenang itu.

Aku mengamati wajah itu kembali. Alisnya nyaris tidak kelihatan mencolok, tapi bahkan pada jarak pandangku ini pun aku bisa melihat barisan rambut-rambut berwarna kelabu yang berjajar di atas matanya yang terpejam. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, pun berwarna kelabu. Beberapa helai rambut yang terjuntai ke keningnya membuatku tak bisa menahan diri untuk mengulurkan tangan ke arah wajahnya. Aku mendekat pada peti tempatnya berbaring, dan merapikan rambut-rambut di keningnya, mengembalikan ke arah belakang, sehingga wajahnya terbebas dari juntaian rambutnya. Aku tersenyum mendekatkan wajahku ke wajahnya sambil tetap memegang rambutnya. Aku memang mengenal perempuan ini, sepertinya. Sayang sekali aku lupa siapa dia.

Baca juga  Mang Agus Pulang Kampung

Saat itulah aku mendengar beberapa isakan tertahan di sekitarku. Ketika aku memandang ke sekitar, beberapa orang segera menunduk dan menutup wajah mereka dengan tangan.

“Yang Ti, cantik ya kek.”

Seorang gadis bicara, memeluk bahuku. Aku memandangnya dengan heran, tapi karena kulihat matanya yang lembut, begitu mirip dengan lekuk perempuan yang berbaring itu, aku mengalihkan senyumku padanya. Poninya tersibak di pinggir dan rambutnya diikat sembarangan di tengkuknya. Matanya merah. Bibirnya merah. Pipinya merah.

Gadis itu mengumamkan beberapa kalimat lagi, mengusap matanya, ah ya, dia menangis.

“Jangan menangis. Hilang cantikmu kalau menangis.” Aku bilang padanya.

Dia terisak-isak dan terus mengusap bahuku.

Setelah itu beberapa kesibukan yang tak kupahami terjadi di ruang itu. Aku menggeser dudukku menjauh dari kotak perempuan. Aku memandang keramaian itu dengan kosong. Sepertinya ada yang hilang dari diriku. Aku tak tahu apa itu, jadi aku hanya diam. Biasanya dengan duduk saja, menunggu, semuanya akan kembali.

“Yang Ti akan diberangkatkan, kek. Kakek di rumah saja, berdoa di sini, tidak usah ikut ke makam. Aku akan menemani kakek, berdoa bersama kakek.”

Kembali gadis itu mengusap-usap pundakku. Aku menatap mata dan wajahnya yang merah dan basah. Aku genggam tangannya, mengangguk-angguk. Aku senang melihat wajahnya. Usapan tangannya yang lembut menenangkanku.

“Aku lapar. Belum ada seorang pun yang memberiku makan hari ini.” Kataku.

Gadis itu melotot sekilas padaku. Tapi segera ia memelukku sebelum kemudian pergi. Semoga sebentar lagi dia mengantarkan sepiring nasi untukku. Diiringi doa-doa yang mengalun pelan, orang-orang ramai berangsur-angsur pergi, mengikuti perempuan dalam peti tertutup yang diusung keluar rumah. Aroma sedap malam tajam menusuk hidungku.

Aku menunggu sepiring nasi. ***

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!