Cerpen, Kak Ian, Pontianak Post

Cinderella yang Tidak Ingin Ketinggalan Sepatunya

Cinderella yang Tidak Ingin Ketinggalan Sepatunya ilustrasi Pontianak Post

Cerpen Kak Ian (Pontianak Post, 14 November 2021)

HARI ini, hari terakhir kami meninggalkan rumah besar itu. Walaupun aku sempat sedikit ada perdebatan serta bersitegang pada Dicky mengenai perjanjian yang telah kami sepakati. Aku akhirnya meminta membatalkan perjanjian itu padanya.

“Tiga bulan setelah pernikahan harus meninggalkan rumah itu.” Begitu yang diinginkan Dicky.

“Apa sebaiknya perjanjian itu kita batalkan saja. Lagi pula inikan rumahmu juga. Buat apa kita harus mencari tempat tinggal lagi. Sedangkan ibumu sudah beberapa kali bilang agar kita tetap di sini saja sampai anak-anak kita lahir nanti.”

Saat aku mengatakan seperti itu, mendadak mata Dicky berkilat. Alisnya naik beberapa senti. Wajahnya tampak menegang dan memerah.

“Kau tahu apa tentang ibuku! Dia itu tidak beda dengan dirimu!”

Kucerna ucapan Dicky seketika itu. Ada sebuah rahasia di balik ucapannya.

“Maksudmu… Ibumu itu….”

“Kuperingkatkan sekali lagi kamu mau mengikuti kata-kataku atau…”

“Iya, aku ikuti kata-katamu. Aku tunaikan janji itu untuk meninggalkan rumah besar ini!” tukasku memotong ucapan Dicky yang masih di atas angin, kupenggal langsung dengan sebuah kesediaan mengikuti yang dimauinya.

Saat itu mertua perempuanku hanya melihat saja atas percekcokan aku dengan anaknya. Parasnya yang masih terlihat cantik walaupun dihiasi sedikit keriputnya di wajahnya. Tidak menampakkan jika ia juga memiliki persoalan rumah tangganya yang berat saat aku dan Dicky berselisih. Apalagi saat kudengar dari desas-desus para undangan saat resepsi pernikahanku berlangsung.

Ya, kudengar dari bisik-bisik itu jika mertua lakiku atau ayah suamiku itu punya anak hasil selingkuhannya. Entah apakah itu benar atau tidak. Tapi perempuan paruh baya itu kulihat begitu kuat dan tegar menghadapi persoalan pelik di biduk rumah tangganya.

***

Pagi-pagi sekali akhirnya aku dan Dicky sudah mempersiapkan diri untuk berpamitan meninggalkan rumah besar itu. Walaupun sebenarnya mertua perempuanku itu sudah mengatakan berkali-kali pada kami agar tidak boleh keluar atau pergi dari rumah itu. Tapi apa daya aku harus mengikuti semua permintaan Dicky. Kami harus meninggalkan rumah itu.

“Rumah ini kalau bukan untuk anak dan cucu-cucuku. Memang untuk siapa lagi!” kata mertua perempuanku saat aku sedang memasukan semua pakaianku ke dalam koper. Bersiap untuk meninggalkan rumah itu.

“Tapi, Bu…,” kataku hanya sepenggal karena sudah dipotong oleh ucapannya.

“Tapi ya sudah jika itu sudah menjadi keputusan kalian. Namun yang pasti Ibu berpesan jaga rumah tanggamu serta anakku itu!”

Aku pun tidak menjawab lagi. Aku seraya menunduk dan memahami apa yang disampaikan oleh Ibu dari suamiku. Namun apa yang dikatakannya itu ada benarnya. Apalagi kudengar pula jika suamiku itu dulu playboy kakap. Sudah banyak gadis yang didekati olehnya bahkan ada pula yang ia tiduri.

Tapi aku tidak memercayai rumor itu saat bersamaan resepsi pernikahan kami yang berlangsung pula.

Baca juga  Jika di Antara Kita Lebih Dulu Dipanggil Tuhan

“Masa iya Bapak dan anak sama-sama menganggap perempuan sebagai permen karet. Usai manis sepah dibuang. Kuharap Dicky tidak seperti itu.” batinku mulai bergejolak.

***

Sebenarnya semenjak dinikahi oleh Dicky, aku pun sendiri tidak tahu jika ia anak sulung dalam keluarga besarnya itu. Anak satu-satunya yang dimiliki kedua orang tuanya. Karena sejak aku mengenal dirinya, ia tidak pernah memberitahukanku. Apakah ia anak ke berapa dan berapa saudara?

Lagi pula aku piker-pikir nanti juga akan tahu sendirinya. Maklumlah pengenalan aku dengan Dicky tak lazim kuceritakan di sini. Terpenting aku sudah menjadi miliknya secara agama dan hukum. Bukankah itu yang diinginkan seorang perempuan macamku?

Apalagi aku tahu diri. Siapa aku ini! Ibarat kupu-kupu malam yang beruntung dipersunting sang pangeran seperti dalam dongeng-dongeng kerajaan saat masa kecilku.

Akhirnya setelah aku menetap tiga bulan di rumah besar itu, seusai pernikahan kami. Aku lagi-lagi diingatkan oleh Dicky, tiga bulan menetap di rumah besar itu, seusai itu harus meninggalkannya. Lebih tepatnya ingin dalam keluarga kecil kami tidak boleh satu pun ada yang ikut campur tangan. Tidak diperkenankan masing-masing dari kedua keluarga besar kami ikut campur di dalam urusan rumah tangga kami. Kami ingin mandiri.

Oya, rumah itu cukup besar saat aku menetapinya. Tapi lebih tepatnya rumah mertua atau rumah Dicky, suamiku. Rumah itu berlantai tiga. (Lantai tiga untuk Dicky, suamiku sebelum menikahi aku, lantai kedua untuk mertuaku, sedangkan lantai satu untuk dua asisten rumah tangga serta satu tukang kebun). Sungguh sangat besar bukan bila kukatakan jika hanya dihuni oleh enam kepala (tiga adalah penghuni rumah dan dua adalah asisten rumah tangga serta satu tukang kebun).

Maka pantaslah jika mertuaku tidak menginginkan kami meninggalkan rumah itu. Lebih baik kami tinggal di rumah sampai anak-anak kami lahir nantinya. Tapi Dicky sudah memberitahukanku sebelum aku dikawinkan olehnya. Setelah tiga bulan kami menetap di sana kami harus meninggalkannya.

Kata Dicky, suamiku bilang, “tidak baik jika dalam satu rumah ada dua kehidupan,” katanya. Walaupun tanpa ada alasan lebih rinci Dicky memberitahukan, aku pun mengiyakan saja.

Dengan berat hati mertua perempuanku merelakan kami meninggalkan mereka di rumah besar itu. Walaupun kakiku terasa berat untuk meninggalkannya. Namun segenap kekuatan hati, aku pun meninggalkannya pula. Sedangkan Dicky sudah ada di dalam mobil menunggu untuk kepindahan dari rumah itu. Aku juga tidak tahu mau dibawa ke mana diriku saat itu oleh Dicky.

Tidak lama kemudian aku pun sudah berada di dalam mobil dan mengikuti kemana Dicky mengemudikan. Berharap kami bisa menepati rumah yang nyaman dan asri. Satu lagi memiliki tetangga yang ramah dan tidak mengurusi hidup rumah tangga orang lain. Aku berharap demikian.

Baca juga  Purnama di Pantai Boom

***

“Bertetanggalah dengan baik saat kamu nanti menempati rumah baru. Jika ada tetanggamu yang suka bergunjing tentang rumah tanggamu lebih baik mengalah. Apalagi jika sudah menggunjingkan Dicky, suamimu itu nanti. Kamu harus besarkan hati dan lapangkan dada.”

Akhirnya ucapan mertuaku itu benar-benar kualami. Ucapannya itu disampaikan di saat aku berpamitan meninggalkan mereka. Karena saat itu aku masih manten baru, aku menganggap angin lalu. Tapi kenyataannya…, kini baru aku rasakan.

Saat ini aku sudah tinggal dua tahun di rumah cukup besar pula yang dibeli oleh Dicky untuk kami tinggali. Apalagi ia saat ini menduduki kepala direktur cabang perusahaan milik ayahnya itu. Kami pun tinggal di perumahan komplek tapi berdekatan atau bersebelahan dengan perkampungan. Jadi bila aku belanja sayur-mayur untuk masak aku lebih nyaman membeli ke warung sayur sebelah kampung yang berdekatan dengan perumahan komplek yang kami tinggali. Ternyata dua tahun tinggal di tempat itu aku tidak lepas dari banyaknya menerima cibiran dan bisik-bisik tetangga.

Seperti saat ini ketika aku usai belanja sayur-mayur di kampung sebelah Bu Nur, tetangga yang bersebelahan dengan rumahku bersama yang lainnya menggunjingkan Dicky, suamiku itu. Mereka mengatakan jika suamiku itu pernah satu mobil bersama Rasyidah, anak gadis lurah bahkan mengantarkannya sampai ke rumah hingga peluk dan cium mereka lakukan. Aku yang mendengar itu seketika seperti menahan godam yang menimpahku.

“Pantas saja jika ada suami yang selingkuh dan main lagi dengan perempuan lain. Lha wong istrinya tidak bisa punya anak. Mandul mana ada yang mau bertahan. Palingan jika tidak dicerai suaminya kemungkinan serong atau nikah lagi diam-diam. Apalagi jika lelakinya kaya mentereng. Perempuan mana juga yang tidak mau dengan lelaki macam itu?”

Tanpa menunggu mereka lama dan makin membicarakan Dicky dan kehidupan rumah tangga kami. Aku angkat kaki seribu dari warung sayur itu.

Kugegaskan kakiku agar lekas sampai di rumah. Agar aku bisa menanyakan hal itu pada Dicky. Kebetulan hari ini hari libur, ia ada di rumah tentunya.

Jadi ada kesempatan aku ingin menanyakan. Apakah benar ia selingkuh dengan Syahidah anak lurah itu? Atau, inikah yang Dicky inginkan meninggalkan rumah besar itu agar perilaku kebiasaanya memainkan perempuan itu tidak tercium ibunya. Entah.

Langkahku makin gontai. Hingga awal perkenalanku dengan Dicky di warung tepi jalan yang remang kembali bangkit. Di mana di saat itu aku sedang menunggu para lelaki hidung belang. Kenangan itu langsung mengingatkanku kembali. Dari sanalah akhirnya aku mengenal Dicky panjang lebar.

Dan lebih terharunya lagi saat Dicky menikahiku dengan syarat asal aku meninggalkan pekerjaanku yang hina itu. Ia ternyata ingin menaikkan derajatku.

Baca juga  Lanting Jamban Terakhir

Saat itu pulalah aku menganggap Dicky sebagai pahlawanku. Aku sangat bahagia saat itu.

Tapi kebahagian itu lenyap seketika. Begitu juga dengan gelembung-gelembung kenangan itu hempas dengan begitu cepat tanpa jejak. Saat setiba di teras rumah aku mendengar suara perempuan terkekeh bercampur suara Dicky.

Lebih menyayat hati saat Dicky mengatakan pada perempuan di dalam rumah kami. Ia mengatakan aku seperti keset yang baru naik mobil mewah.

“Ia kunikahi hanya untuk mengangkat dirinya saja. Masih beruntung aku nikahi dan kuberikan gelimangan harta. Sudah begitu tak memberi keturunan lagi. Dasar memang awalnya perempuan lacur tentu ia tidak mau mendapatkan anak dariku.”

Bagaikan petir menyambar aku tidak bisa mencerna ucapan Dicky di luar teras rumah ini. Apalagi mengetahui apa yang dilakukan perempuan itu bersama suamiku. Karena aku tidak tahan mendengar mereka asyik-masyuk berduaan. Kudobrak pintu rumah kami sekuat tenaga. Lalu keluarlah ucapanku yang tidak pantas pada perempuan itu yang ternyata dia adalah Syahidah!

“Dasar perempuan lacur. Enak-enaknya kamu berduaan dengan suami orang!” caciku pada Syahidah.

Kulihat mata Dicky tampak berkilat. Ia lalu menghampiriku dan ….

“Plak!” sebuah tamparan mendarat di pipiku.

“Kamu yang lacur! Bisa-bisanya kamu mengatakan Syahidah seperti itu di hadapanku. Ia sekarang sudah menjadi istriku secara agama. Tapi kamu tidak mengetahuinya itu! Ya, sudahlah lagi pula aku percuma memberitahukan ke kamu. Kamu itu memang tidak pantas bersama kami. Ternyata lacur tetaplah lacur tidak akan berubah menjadi permadani. Kamu tidak ada bedanya dengan ibuku! Walaupun dia bisa berdamai dengan dirinya saat dia tahu diri jika ayahku yang mengangkat dia dari limbah kotor. Tapi ternyata kamu berbeda dari dia. Kamu lebih tidak tahu diri dan kampungan!”

Seketika itu aku pun lari meninggalkan rumah itu. Aku tidak sanggup mendengarkan makian dari Dicky.

Namun belum jauh kutinggalkan rumah itu tetiba dari selangkanganku keluar darah segar banyak sekali. Lalu mataku berkunang-kunang dan gelap. Seketika kuhentikan langkah dengan bersamaan terngiangnya kembali ucapan mertua perempuanku saat ia menanyakan kabarku bertepatan ketika omongan tetangga mulai mengusik dan merusak telinga dan pikiranku.

“Aku juga sama denganmu! Aku juga diangkat oleh ayahnya Dicky dari keremangan malam dunia. Jika ayah Dicky bermain gila dengan perempuan lain atau menikah lagi. Aku tidak mengapa dan ikhlas dengan hal itu semua asal satu keinginanku keluargaku harus tetap utuh!”

Akhirnya dengan sisa tenaga, aku pun kembali ke rumah kami dengan menahan sakit yang kuderita. Karena aku ingin setegar mertua perempuanku. Apa pun yang terjadi aku harus mempertahankan biduk ini. Aku pun kembali ke rumah. Walaupun aku tidak sadarkan diri saat tiba di teras depan rumah. Mataku banyak menghiasi kunang-kunang. Mataku gelap. ***

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!