Cerpen, Tiana Amelia, Waspada

Cerita Single Papa

Cerita Single Papa ilustrasi D Cartoon/Waspada

4.5
(2)

Cerpen Tiana Amelia (Waspada, 14 November 2021)

“Papa… papa….”

Balita yang belum genap berusia lima tahun itu menarik-narik kemeja papanya yang tengah memasak sarapan pagi untuk mereka berdua.

Lelaki brewokan itu melirik putrinya.

“Iya sayang. Kenapa?”

Gadis berkulit kuning lagsat itu mengangkat kedua tangannya tanda minta digendong.

Sang Ayah tanpa mengeluh mengangkat putrinya yang manja.

“Sini sayang. Duh… Anak Papa semakin berat yah. Ini pasti karena kebanyakan susu, cokelat dan es krim.”

Gadis manis itu mengerutkan bibirnya lalu dibalas sebuah cubitan manja dari Papa tercinta.

“Papa masak apa?” Tanya malaikat kecil lelaki tinggi itu.

“Makanan kesukaan Erlin dong. Nasi goreng nuget.” Jawabnya dengan ceria.

Seketika Erlin manyun kembali.

“Kenapa, Sayang?” Papa Erlin mengangkat dagu putrinya.

“Mama kapan pulang sih, Pa?”

Lelaki berkulit hitam manis itu meletakkan spatulanya. Ia sedikit terkejut mendapati pertanyaan yang sudah lama tidak ia dengar itu.

“Ee… itu… sebentar lagi ya, Sayang. Mama kan lagi cari uang yang banyak agar Erlin bisa beli mainan yang banyak, sekolah, jalan-jalan ke pantai. Erlin mau kita jalan-jalan ke pantai seperti dulu kan?”

Erlin mengangguk dengan semangat.

“Nah kalau begitu Erlin harus belajar yang pintar, jadi anak baik agar Mama senang jika kembali nanti.”

Lelaki yang akrab disapa Rio itu menurunkan putri semata wayangnya.

Erlin kembali menarik lengan baju Ayahnya. “Papa[1]papa.”

Rio kembali menoleh. “Ya, Sayang?”

“Memangnya uang Papa kurang banyak ya? Kenapa Mama lama sekali cari uangnya?”

Bak disiram minyak panas, hati Rio meleleh kepanasan tidak tahu harus menjawab apa.

Rio melirik ke sekelilingnya. Rumah yang tidak begitu mewah, namun sebuah hunian yang cukup besar untuk mereka tinggali. Mobil sedan yang terparkir di garasi dan pekerjaan dengan gaji yang lumayan.

Baca juga  Tuah Segelas Air

Bagaimana ia akan menjawab pertanyaan putrinya barusan? Sementara mereka telah memiliki apa yang orang lain begitu impikan.

“Oh itu. Eh sudah jam berapa ini ayo segera sarapan biar Papa antar. Nanti kamu terlambat ke sekolah, Nak.”

Untungnya pikiran Erlin bisa dialihkan. Ia bergegas lari ke kamar untuk mengambil tas lalu bersiap untuk sarapan.

Di kantor.

“Selamat pagi, Pak!” Sekretaris baru nan seksi itu menyapa Rio.

“Pagi!” Rio menundukkan pandangannya dari keelokan ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya.

Wanita itu mendekat ke sebelah Rio dengan kertas agenda kegiatan Rio hari ini. Harum aroma parfumnya begitu menyengat. Hampir saja Rio tenggelam dalam harum aroma tubuh sekretaris seksinya ini.

Tok… tok… tokk!

Sebuah ketukan pintu berhasil menggagalkan usaha sang sekretaris.

“Itu pasti Vino. Tolong bukakan pintunya dan tinggalkan kami sebentar.”

Wanita berlipstik merah tebal itu mengerutkan bibirnya.

“Baik, Pak.”

Pintu dibuka. Bola mata Vino tak berkedip memandangi kecantikan tubuh sekretaris sahabatnya itu.

“Widih pagi-pagi sudah dapat suntikan vitamin kau ya Rio.” Celetuk Vino.

“Suntikan apamu? Godaan terberat iya. Siapa sih yang rekrut dia. Kan sudah kubilang cari yang biasa-biasa saja kalau perlu laki-laki pun tak apa.” Rio melonggarkan ikatan dasinya.

“Bisa menurun kualitas pekerjaanmu kalau sekretarismu lelaki, Vin. Apalagi yang melambai.” Rio menaikkan sebelah bibirnya.

“Ya sih tapi yang beginian asli bikin aku gak kuat nih lama-lama.” Keluh Rio.

“Ya sudah kalau begitu menikah saja lagi. Biar sekretaris seksimu itu berhenti mengganggumu.”

Rio termenung sejenak memikirkan omongan Vino.

“Ah gila kamu. Bagaimana mungkin aku menikah lagi sementara aku dan Calista belum resmi bercerai?”

Baca juga  Gelap Mata

What? Kamu masih berharap sama istri yang sudah ninggalin kamu bertahun-tahun itu bahkan ninggalin anaknya untuk kamu urus sedari bayi?”

Rio membalikkan kursinya. Pandangannya jauh kejalan raya yang ada di bawah sana. Ia teringat akan kejadian empat tahun lalu dimana Calista pergi dengan sadar meninggalkan ia dan Erlin demi mengejar karir.

“Bukankah kau degar bahwa ia juga telah menikah lagi?” Tanya Vino.

“Itu belum jelas, Vin. Aku masih belum memastikannya.”

Vino menggelengkan kepalanya.

“Luar biasa kesetiaanmu, Bro. Benar-benar lelaki idaman. Kamu rela mengurus anak yang bukan anak kandungmu sendiri dari bayi sampai dengan sekarang. Bukannya bersyukur mempunyai suami baik dan kaya sepertimu malah mengulah dengan pergi dan meninggalkan anaknya padamu pula.”

Prok.

Sebuah buku terjatuh di lantai di luar ruangan Rio. Rio dan Vino saling berpandangan keheranan.

***

Brak.

Suara bantingann pintu mengejutkan Rio yang tengah bekerja dengan laptopnya.

“Astaga, Vin. Ketuk dulu bisa kali, hampir saja kau buat Erlin jadi yatim piatu,” kesal Rio.

“Justru sebaliknya, Bro. Erlin akan segera memiliki orangtua lengkap, lihat ini.” Vino menyerahkan ponselnya.

Rio mengambil ponsel Vino. Matanya terbelalak melihat sebuah akun facebook yang ada di ponsel Vino.

“Ii…ini…Calista?” Tangan Rio gemetar meletakkan ponsel Vino ke atas meja.

“Aku tidak sengaja buka-buka facebook dan melihat akun Calista. Sepertinya ia kesulitan uang dan tidak bisa kembali selama beberapa tahun ini. Tapi aku heran mengapa ia tak berusaha menghubungimu?”

Rio sejenak merenung.

Tak berapa lama sebuah bantingan pintu mengagetkan kedua Papa muda itu.

Brak.

“Papaaaa….” Tangis Erlin pecah memasuki ruangan kerja Rio.

“Loh, Sayang? Siapa yang mengantarkan kamu ke sini? Kenapa kamu menangis?”

Baca juga  Lewat Viaduct

Rio segera memeluk putri kesayangannya itu.

“Erlin di antar Ibu guru. Tapi bu guru langsung pulang, Pa. Pa apa benar Erlin bukan anak Papa?” Tangis Erlin kian kuat.

Rio mengepalkan tangannya. Dadanya sesak menahan amarah kepada orang yang tega berkata seperti itu pada Erlin.

“Siapa yang berkata begitu padamu, Nak?” Tanya Rio kesal.

“Tante cantik yang di sana!” Erlin menunjuk sekretaris Rio yang tengah asyik bergosip.

“Tidak, Sayang, itu tidak benar. Kamu adalah anak Papa. Papa yang merawat dan membesarkanmu dari bayi. Jangan menagis yah, kita akan pergi menemui Mama. Vin tolong siapkan tiket kami dan jangan lupa ganti sekretarisku.”

Mulut Vino menganga mendengar keputusan Rio. Namun ia tersenyum dengan bahagia.

“Siap Pak!” Tegas Vino. ***

.

.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: