Cerpen, Hasan Aon, Suara Merdeka

Cinta Terantuk di Rahwatawu

Cinta Terantuk di Rahwatawu ilustrasi Nugroho DS/Suara Merdeka

Cerpen Hasan Aon (Suara Merdeka, 14 November 2021)

SIAPA yang mendaki Rahtawu dan memutar wayang di atas bukit itu, ia akan dituduh sedang berkomplot dengan setan. Angin topan datang bergemuruh setelah pentas itu dan hujan deras akan mengguyur tiba-tiba. Terkadang diikuti gempa. Kepercayaan ini menyebar di masyarakat. Anehnya, semakin sering terjadi bencana, semakin kerap orang-orang kota datang ke bukit itu untuk menyak[1]sikan bahkan menantang.

Seratus meter tinggi bukit itu dari kaki lembah. Lerengnya berbentuk bebatuan lebar yang menjulang tegak di punggung pegu[1]nungan Muria. Jalur kelokannya yang tajam sering merongrong setiap pendaki yang melintas.

Di bukit itu sebulan lalu Madinu menyatakan cinta kepada Diyah. Ia gadis tercantik di desa itu. Ia tertegun, tak menyangka Madinu menyatakan secepat itu. Baginya, Madinu adalah lelaki dewasa yang penuh pertimbangan.

Bukan kali pertama Diyah menerima pernyataan cinta yang bergegas dan selalu kandas menjelang lamaran. Bukan karena tidak serius lalu hubungan mereka terputus. Ulah ayah Diyah-lah yang menggagalkan harapan para pemuda di desa itu. Banyak syarat diajukan ayahnya. Salah satunya pandangan tentang pentas wayang di Bukit Rahtawu. Diyah siap menerima risiko itu. Tetapi, terhadap Madinu, penolakan ayahnya rasanya bisa bikin dia gila.

Ia ingin sore ini Madinu menyatakan kembali cintanya. Madinu memenuhinya, bahkan lebih dari yang diharapkan.

“Diyah, aku ingin melamarmu.”

Diyah terperanjat antara senang dan cemas. Ayahnya tak boleh tahu hubungan mereka sebelum prahara di bukit itu reda. Apalagi mendengar niat Madinu melamar.

Diyah tersenyum getir dan memalingkan mukanya ke dasar bukit. Bentangan tanah serupa delta menghampar di bawah bukit itu. Sungai-sungai kecil mengalir di dekatnya. Tatapan Diyah tertumbuk pada aliran itu, berhamburan seperti bebatuan runtuh.

“Bagaimana kalau Ayah tak setuju?”

“Biar aku yang menjelaskan.”

“Apa keyakinan bisa dijelaskan?” tukas Diyah.

Sejoli yang sedang gelisah itu terantuk pandangan pertama dalam debat sengit di teras masjid desa. Dua golongan saling beradu pandangan hingga larut malam. Ujung lidah mereka sangat tajam dan saling menghunus. Bahkan lebih lancip dari ujung belati.

Baca juga  Oooh

Orang-orang muda itu teman satu sekolah sepuluh tahun lalu. Perbedaan keyakinan tentang pemutaran wayang dan rencana penutupan situs telah membelah persahabatan mereka. Yang setuju hampir memenangi perdebatan. Tetapi, Madinu menghentikan perdebatan itu dengan tiba-tiba.

Jika satu kelompok menang dalam situasi yang memanas, pasti akan ada peperangan lanjutan di luar masjid. Begitu pikir Madinu. Interupsi Madinu diterima. Malam itu tidak ada keputusan apa pun soal perdebatan khilafiyah itu.

Sejak perdebatan itu, Diyah mulai simpatik pada Madinu. Ia selalu mengingat Madinu dalam sadar maupun mimpi. Lelaki yang masih menjadi mahasiswa dan tinggal di kota itu selalu memantik rindu hatinya. Saking rindunya, Diyah memberanikan diri mengirim pesan. Sekadar bertanya kabar atau mengirim berita soal perdebatan di desa itu.

“Mas, apa tidak kamu perhatikan dampak perdebatan itu? Masjid sudah mulai sepi. Aku khawatir anak-anak muda makin jauh dari masjid,” kata Diyah.

Ayah Diyah sangat berjasa membantu pembangunan masjid. Ia juragan tambang batu dan penampung log kayu. Ayahnya tak setuju wayang dipentaskan di Rahtawu. Keyakinan itu sejalan dengan kepercayaan warga. Tetapi, ketika situs-situs petilasan para dewa diminta ikut ditutup juga dari kunjungan wisata, warga mulai menjauhi ayahnya.

Wisata itu bagi ayahnya undangan resmi orang-orang kota datang dan mengkritik usahanya menambang bukit. Sedang, bagi masyarakat, menutup situs sama dengan mematikan mata pencaharian mereka.

Situs-situs itu dipelihara masyarakat tak saja sebagai tempat wisata, juga keyakinan. Memang wayang sudah tak dipentaskan sejak masyarakat percaya bisa memicu bencana. Namun, epos Mahabharata yang sebenarnya masih tetap hidup di puncak itu.

Situs-situs itu dipercaya sebagai jejak spiritual para dewa dalam kisah perwayangan. Mulai Klampis Semar hingga Eyang Abiyoso. Ditaburi di atas situs-situs itu setiap Jumat bunga-bunga dan doa dengan gulungan asap kemenyan yang wangi lagi pekat.

“Diyah, warga tidak setuju sikap keras ayahmu. Bagaimana caraku menjelaskan soal ini?” tanya Madinu.

Baca juga  Kinoli

“Jangan! Itu hanya akan memperburuk hubungan kita. Ayah kecewa Mas menghentikan debat semalam,” sergah Diyah.

Matahari perlahan tenggelam. Angin dari puncak bukit menerpa ujung dahan Parijoto. Daun-daun tua di dahan itu berguguran bersama buah sebesar biji kopi. Buah yang dirindukan setiap perempuan yang hamil di desa itu. Suatu ketika pasti Diyah akan membutuhkan untuk janinnya jika hubungan mereka direstui. Warga percaya, bayi-bayi rupawan akan lahir jika perempuan hamil memakannya.

Menyusul di antara buah-buah yang jatuh itu rinai. Makin kencang angin menerpa, makin tajam rintik air memukul pakaian mereka. Gaun Diyah mulai basah. Ia bergegas menyilangkan tangan menutup bagian dadanya yang mulai menerawang. Menonjol seperti gundukan bukit itu.

Madinu canggung memperhatikan dada Diyah. Ia segera berpaling. Punggung mereka saling bertemu. Madinu ingin berbalik dan memeluk Diyah. Tetapi, suara gemuruh di atas kepala mereka menghentikan niat itu.

Rintik air berubah batu. Kerikil sebesar batu-batu kricak menerpa kaki mereka. Dahan-dahan kering mulai berjatuhan dihempas angin. Pohon-pohon di pinggir bukit satu per satu tumbang. Berderak mengeluarkan suara yang sangat keras. Madinu menarik tangan Diyah dan berlari mendekati pohon besar di dekat mereka. Di sela-sela akar pohon yang mencengkeram tanah itu mereka berlindung.

Dan angin membawa kabar tak sedap. Bau pekat humus diiringi suara alunan kendang dan kecrek tanda peperangan dalam kisah wayang terdengar dari atas bukit.

“Siapa yang berani memutar wayang dari radio?! Kamu dengar suara itu, Diyah?!” teriak Madinu cemas.

Ia hendak berlari menghardik para pendaki itu. Namun, tangan Diyah menarik kuat, hingga kuda-kuda kakinya rapuh menahan tarikan dan oleng seketika. Mereka jatuh terjerembab dan saling menindih. Berguling-guling di antara batuan kecil dan akar pohon yang menyembul, lalu berhenti di ujung akar pohon itu.

Derak suara pohon tumbang di bawah tubir makin terdengar keras. Akar-akarnya terbetot. Batang dan ranting-ranting menimpa benda-benda kokoh berwarna kuning sebesar baluh. Tiga alat berat milik ayah Diyah berbaris di situ.

Baca juga  Alkisah Sal Mencari Kang Mad

Madinu kaget dan seketika curiga. Inikah yang membuat bencana itu? Bukan wayang yang tabu diputar warga, tetapi alat-alat yang bikin hutan gundul dan pohon-pohon tumbang? Begitu pikir Madinu.

Madinu mulai sangsi dengan semua drama itu. Ia bahkan meragukan cinta Diyah. Jangan-jangan ia mendekatiku demi usaha ayahnya? Ia tak mau tertipu dua kali. Oleh kepercayaan ayahnya dan pikatan gadis itu. Ia mendambakan cinta agung setinggi gunung itu.

“Diyah, apa benar kamu mencintaiku?!”

Diyah tak menjawab. Ia memeluk Madinu erat dengan mata yang mulai sembab. Air matanya mengucur deras bercampur rintik hujan. Ia tak menjawab. Tangis dan pelukan itu sudah cukup sebagai jawaban.

Terkenang kembali perdebatan keras malam itu. Tetapi, demi melihat tiga alat berat di bawah tubir itu, Madinu yakin akan ada perdebatan lebih keras dari sebelumnya. Dan rasanya ia sudah harus memihak. Tapi, bagaimana dengan gadis yang sedang memagut erat tubuhnya ini?

Dunia kampus telah mengubah lelaki desa ini berpikir kritis. Ia tak percaya mitos pemutaran wayang di puncak bukit Rahtawu. Juga situs-situs jejak dewa yang dirawat dengan aroma magis. Namun, demi kedamaian masyarakat desa, ia harus mengesampingkan semua pikiran logis itu. Meskipun berarti harus berhadapan dengan ayah Diyah.

Ia mulai menyusun rencana, termasuk jika harus menjadi Patih Mandanasraya, penculik Dewi Subadra seperti kisah tragis dalam Mahabharata. Ia rahasiakan rencana itu bahkan terhadap Diyah, yang kelak akan menjadi Subadra dalam drama itu.

Ia tak pernah bimbang akan tekadnya, meski kelak cintanya harus terantuk sikap keras ayahnya. ***

.

.

Kudus, 23 September 2020

Hasan Aoni adalah pendiri sekolah alam Omah Dongeng Marwah di Kudus. Pernah dinobatkan oleh Kemenko PMK sebagai salah satu pemuda inspirator revolusi mental (2018). Penulis serba bisa ini telah melahirkan banyak cerpen bermuatan kritik sosial.

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!