bhirawa, Cerpen, Teguh Ardiansyah

Hujan Kenangan

Hujan Kenangan ilustrasi Bhirawa

Cerpen Teguh Ardiansyah (Bhirawa, 19 November 2021)

SIANG ini hujan turun dengan deras, pohon-pohon melambai dan guguran daun turut bersama hujan, suasana begitu sejuk. Di depan jendela istriku berdiri termenung menatap keluar pada hujan yang turun. Kulihat wajahnya yang sendu dibelai angin. Ia seperti melamunkan sesuatu yang kurasa begitu pilu hingga kesejukan karena hujan tak ia hiraukan. Aku menghampirinya dengan lembut menyadarkan.

“Dinda, sedang melamunkan apa? Udara di luar sejuk lho, tutup saja ya jendelanya.”

“Eh, Mas. Tak mengapa aku hanya sedang ingin menikmati kesejukan hujan hari ini.” Ujarnya dengan tenang

“Ya sudah jangan lama-lama. Nanti kamu bisa masuk angin. Tapi, Mas lihat wajahmu sendu begini. Ada apa sayang?”

“Hmm… Mas. Aku rindu Caca, anak kita. Biasanya hujan begini dia paling senang. Mandi hujan di teras ini.”

Hati langsung tersentak mendengar ucapan istriku. Akupun turut termenung dan larut dalam ingatan tentang Caca. Selepas setahun lalu ia pergi meninggalkan kami. Hari itu dunia seakan-akan terbalik. Tak percaya ia harus meninggalkan kami dengan usia yang masih belia. Belum sempat kami mengantarkannya ke sekolah, ia telah pergi pada ke abadian.

Caca anak kami yang baru berusia empat tahun. Gadis kecil yang ceria, suka bermain dan bijak sekali ketika berbicara. Rambutnya yang panjang gemar dikepang ibunya. Ketika hujan turun ia paling senang, dan langsung berlari ke teras rumah untuk mandi hujan. Tak pernah kami larang ia mandi hujan, hanya saja kami membatasi waktunya agar jangan terlalu lama bermain hujan.

“Ih… bentar lagi, Bu. Caca masih ingin main hujan.” Ujarnya bila istriku menyuruhnya untuk segera masuk.

Baca juga  Di Mana Old Trafford Kita Sekarang?

Aku hanya tersenyum melihatnya dan istriku yang merepet ketika menyurunya sudahan. Bahkan istriku kerap marah padaku yang hanya membiarkan Caca terlalu lama bermain hujan. Bukan inginkan dirinya sakit, hanya saja tak ingin melihat keceriannya bermain air hujan harus diakhiri.

Siang itu pada setahun lalu, istriku tiba-tiba meneleponku yang sedang berada di kantor. Kuangkat dan kudengar suaranya bergetar dan terisak. Kepanikan tak bisa kututupi, pasti ada kabar yang tidak enak.

“Mas… Caca masuk rumah sakit. Cepat ke sini.” Ujarnya dengan penuh tangis

Aku yang panik langsung menuju parkiran dan membawa mobil menuju rumah sakit yang telah dikirimkannya di pesan. Sesampainya di sana kulihat gadis kecilku sudah berbaring lemah dengan selang oksigen melingkar di hidungnya. Aku tahu sakitnya yang lalu kambuh lagi.

Sejak kecil ia memang sudah terinfeksi di bagian usus besar, Kerap diare dan nyeri di perut ia rasakan. Bahkan hingga berat badannya turun. Dari bayi sudah rutin kubawa ke dokter dan ketika ia berumur tiga tahun sudah tidak pernah kambuh lagi sebab jadwal buang air besarnya sudah kembali normal dan tak lagi diare. Aku dan istriku sangat bersyukur akhirnya tak lagi melihatnya kesakitan saat buang air besar dan menangis setiap malam menahan perih di perutnya.

Sejak itu kami selalu membatasi makanan apa yang harus ia makan. Memberikan makanan yang cocok untuk perutnya. Sebab, kami takut apabila kesalahan dalam pemberian makanan yang dapat menyebabkan penyakitnya kambuh lagi.

Siang ini ketika mendengar bahwa Caca masuk rumah sakit sangat terkejut. Apa sebab penyakitnya kambuh lagi. Apa dia makan sembarangan hingga penyakitnya kambuh? Sekelut pertanyaan ini memenuhi kepalaku. Dokter berujar bahwa saat ini infeksi di bagian ususnya sudah merebak ke organ lain. Herannya belakangan ini caca tidak pernah mengeluh akan sakitnya. Aku terkejut dan menyesal sebab tidak pernah menanyakan keadaannya lagi. Karena anak yang aktif kadang dia tidak menghiraukan sakit yang ia derita.

Baca juga  Upaya Menulis Kiamat

Sepekan ia dirawat, kondisi tak kunjung pulih. Aku dan istriku kerap menangis melihat kondisinya. Wajahnya yang kian pucat dan badan yang melemah. Bahkan ketika makanan di masukkan ke mulutnya ia kerap memuntahkannya kembali.

Akibat kondisi semakin melemah, dokter melarikan ke ruang ICU. Tiga jam diproses, dokter mengabari bahwa Caca telah tiada. Bagai disambar petir di siang bolong. Kami terpaku dengan air mata mengalir deras di pipi. Tak percaya, semacam mimpi tapi ini nyata.

Kupandangi wajah yang lugu itu terbaring dengan tenang. Mengapa Tuhan begitu lekas memanggil buah hati kami. Apa Tuhan tak percaya kepada kami hingga mengambil Caca kembali. Kucoba menguatkan diri, sedang istriku setelah kejadian itu hampir sebulan mengurung diri dalam murung. Rasanya baru kemarin menggendongya waktu bayi. Kini kami harus menggendongnya untuk melepas pergi selamanya.

***

Kupeluk istriku dengan hangat, aku tahu kedukaan yang ia rasakan. Sebagai suami aku harus kuat meski tak dapat kutampik kesedihan yang kerap datang bila terkenang Caca. Aku kerap meyakinkan istriku bahwa Tuhan tidak mengambil sesuatu dari hamba-Nya kecuali menggantinya dengan yang lebih baik. Caca kini telah bahagia di pangkuan Tuhan. Ia tak lagi merasakan sakit.

Siang yang dibasah hujan ini begitu membawa kami ke kenangan tentang Caca. Tiap rintik hujan menyimpan debar kepiluan. Bukan terlalu larut atau tak mengikhlakan, hanya saja kenang tentang Caca ialah kedukaan yang tak dapat kami sembunyikan.

“Pa… Besok pagi kita ziarah ke makam Caca ya.”

Aku menyetujui dengan mengangguk kecil. Ca, kelak semoga kita disatukan Tuhan di surga. ***

.

.

Beranda KOMPAK, 2021

Teguh Ardiansyah. Lahir di Desa Tengah, 09 Agustus 2000. Merupakan Mahasiswa Semester V Jurusan Akuntansi. Aktif menulis di media sosial dan media cetak/koran. Merupakan anggota aktif di Bengkel Literasi Harian Umum Rakyat Sumbar, dan Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK). Tulisan berupa puisi dan cerpen beberapa kali dimuat di media cetak lokal dan nasional. Memegang kuat prinsip “Berkarya Sampai Mampu(s).”

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!