Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Rumadi

Perempuan Bunga

Perempuan Bunga ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

Cerpen Rumadi (Kedaulatan Rakyat, 19 November 2021)

SEMUA orang begitu bersedih setiap kali melihat Nurman lewat. Ia akan selalu mampir di toko bunga, rumah yang ada bunganya, mampir di pinggir jalan yang tumbuh bunga, dan dia akan berhenti di mana pun ia melihat bunga. Ia tak sekadar berhenti, tetapi seperti menghayati aroma yang keluar dari setiap bunga-bunga dengan aroma yang beragam. Ia akan menghirup udara dalam-dalam setiap kali melihat tanaman bunga, seperti ia adalah lelaki yang paling mencintai bunga-bunga.

Nurman adalah saksi hidup, bagaimana kota itu berdiri. Ia pernah menjadi bagian terburuk dari kota itu. Segalanya terbengkalai. Sampah di mana-mana, bau bangkai menyeruak, tetapi tak banyak penduduk kota itu yang menginginkan pindah dari sana.

Kriminal bukan lagi hal yang tabu. Setiap hari ada perempuan yang diperkosa, maling, rampok, tetapi Nurman tak pernah peduli. Ia tahu, ia akan mati konyol jika berusaha menghentikannya.

Dan kota itu kembali hening. Pada sore yang muram, saat Nurman hendak berjalan-jalan menghirup aroma buruk yang tercium di sepanjang kota, Nurman melihat bunga di tepi jalan. Ia dekati bunga itu dan menciumnya.

Sebelum Nurman sampai, bunga itu menjelma menjadi seorang perempuan. Nurman terbelalak. Perempuan yang berasal dari sekuntum bunga itu, begitu menawan. Rambutnya lurus sebahu, berkilauan. Dan Nurman melihat lehernya yang begitu jenjang, yang membuat ludahnya tertelan secara tidak sadar.

Perempuan itu bersuara, begitu syahdu, begitu merdu. Nurman seperti diajak makhluk yang bertutur sedemikian lembut, seperti para bidadari surga yang sering diceritakan oleh guru mengajinya semasa kecil. Nurman melihat perempuan itu, giginya berjajar begitu rapi dan sempurna. Bulu mata yang begitu lentik. Mata yang bening bercahaya.

Baca juga  Suara Tokek

Dan mereka pun berjalan bergandengan tangan menyusuri kota. Kota yang semula berbau busuk, menjadi sedemikian harum. Ajaib, penduduk kota yang semula begitu sunyi, begitu menaruh curiga kepada sesamanya, kini sudah mulai selalu berbaik sangka. Mereka saling bahu-membahu membersihkan kota, membakar seluruh sampah pada sore yang cerah.

Tak ada lagi aroma busuk yang tersisa di kota itu. Tak ada lagi buruk sangka. Tak ada lagi kriminal. Semua orang mengelu-elukan Nurman dan gadis yang tercipta dari bunga-bunga itu.

Mereka pun terus bergandengan tangan berhari-hari tanpa henti. Menyusuri kota yang hampir mati, menjadi hidup kembali. Betapa penduduk kota itu menginginkan Nurman menjadi pemimpin mereka, karena Nurman dielu-elukan, karena menebarkan aroma bunga.

Dan kota itu mendadak menjadi kota yang dipenuhi bunga-bunga di sepanjang jalan. Di depan setiap rumah tumbuh tanaman di dalam pot. Dan semua orang tampak berbahagia. Dalam sorot matanya, senantiasa terpancar kebahagiaan yang tiada tara.

Hingga peristiwa nahas itu terjadi. Perempuan itu tertabrak mobil secara tak sengaja ketika menyeberang. Ada sebuah mobil dengan kecepatan tak terukur, telat mengerem, dan menabrak perempuan bunga itu. Nurman menjerit seketika ketika bunga itu berhamburan. Ia kembali menjadi bunga.

Maka Nurman meratapi perempuan bunga itu, begitupun dengan semua orang di kota itu, merasa bersedih dengan kematian perempuan bunga yang menghidupkan kota yang hampir mati.

Maka Nurman sendiri lagi. Tidak ada lagi perempuan yang menggandeng tangannya, yang mengajak bermain ke mana pun. Tak ada lagi canda tawa. Yang ada hanya kesenduan, hingga seluruh angan dan tangisnya bergetar. ***

.

.

Rumadi, lahir di Pati, 1990. Cerpennya dimuat berbagai media cetak dan daring.

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!