Cerpen, Nurkholis, Radar Bojonegoro

Puspa Gandha Wangi

Puspa Gandha Wangi ilustrasi Tini/Radar Bojonegoro

Cerpen Nurkholis (Radar Bojonegoro, 14 November 2021)

NEGERI Nusa Kembang dilanda wabah penyakit. Sudah banyak yang terjangkit, bahkan meninggal dunia. Permaisuri juga terkena penyakit aneh. Mendadak bisu. Tubuhnya kaku seperti patung. Raja sangat sedih melihat keadaannya.

“Ampun Raja, hamba dengar ada tabib muda yang cantik dan sakti dari Lembah Seribu Bunga. Pasti mampu mengobati penyakit permaisuri,” kata Panglima menunduk hormat.

“Jika begitu adanya, kita sendiri yang akan ke sana,” Raja gembira penuh harapan.

Siang sangat terik, raja beserta rombongan tiba di Lembah Seribu Bunga seperti yang dimaksud. Suasananya sepi. Hanya dedaunan yang tertiup angin. Tiba-tiba melintas arak-arakan kupu, capung, dan tawon. Berdengung saling memburu menuju arah yang sama.

“Ini sungguh aneh Panglima Wesi Aji. Kita ikuti arah serangga itu!” Raja mengacungkan telunjuknya.

“Percepat langkah kita!” seru panglima memimpin rombongan.

Sampainya di sana, raja terdiam. Matanya diusap beberapa kali. Seakan tidak percaya dengan yang dilihatnya. Seorang puteri di tepi sungai bercanda bersama kupu-kupu dan tawon. Ia sangat asyik menyenandungkan sebuah lagu dengan gumaman. Lebah yang paling besar dari sekelompok pasukannya itu berdengung tepat di depan telinga puteri.

Puteri Gandha Wangi terkejut mengetahui ada orang yang melihatnya mandi. Hanya beberapa meter dari batu besar tempatnya duduk.

“Apa yang kalian lakukan? Jangan sentuh semua bunga di sini karena beracun. Hanya aku yang punya penawarnya!”

Terlambat. Raja sudah menyentuh kelopak bunga berwarna kuning seperti lonceng. Matanya menutup, perlahan tubuhnya ambruk di samping Panglima Wesi Aji.

“Ampunilah kami!”

Panglima meminta maaf. Ia lalu menjelaskan maksud kedatangannya menuju lembah misteri ini. Setelah agak lama berkomunikasi, Puteri Gandha Wangi merasakan kejujuran di mata panglima itu.

Baca juga  Jejak-jejak Hewaniyah Seorang Filsuf

Semua rombongan singgah di kediaman Puteri Gandha Wangi. Tubuh raja yang tinggi besar bermahkota sederhana dari emas, dipadu kain panjang batik yang bercorak untaian bunga telang merah. Tubuh itu dibaringkan di ranjang kayu dekat jendela. Puteri Gandha Wangi lalu berusaha menyembuhkan raja yang terkena racun bunga.

Setelah siuman, raja berterima kasih pada Puteri telah menyelamatkan nyawanya dari racun bunga yang mematikan. Raja juga meminta obat untuk permaisuri.

Hidangan ala kadarnya di gubuk milik Puteri Gandha Wangi. Baru saja akan melahap ayam bakar hutan, Raja kaget saat melihat tanda lahir bunga mawar kuncup di pergelangan tangan putri itu.

“Siapa sebenarnya dirimu? Apakah tanda lahir itu ada ketika Puteri lahir? Atau dibuat oleh orang?” Raja menyeka peluh yang mendadak mendingin di pelipis dan keningnya.

“Hamba Puteri Puspa Gandha Wangi, anak dari seorang janda di Lembah Seribu Bunga ini, Baginda raja. Tanda lahir ini asli sejak bayi sudah ada,” jawab Puteri Gandha Wangi yang jujur bercerita siapa dirinya di hadapan Baginda Raja Nusa Kembang.

Raja mendesah panjang teringat kenangan masa lalu puterinya. Sang raja bercerita tentang Puterinya yang sampai saat ini hilang entah di mana. Raja berusaha menghapus kenangan dan harapan jika gadis cantik di depannya adalah anak yang selama ini dicarinya.

“Ia Puteri Gandha Wangi yang dititipkan pada hamba belasan tahun lalu, Baginda Raja?” Dayang keluar dari ruang tengah membawa selimut bayi milik Puteri yang badannya beraroma harum semerbak itu.

Raja dan Panglima Wesi Aji kaget melihat dayang kepercayaan permaisuri.

“Bukankah aku anak kandung biyung dan dibesarkan di Lembah Seribu Bunga ini?”

Baca juga  Penugasan Terakhir bagi Papa

Puteri Gandha Wangi tidak percaya atas pengakuan ibunya. Ia belum bisa mempercayai apa yang baru saja tiba-tiba terjadi, kesadarannya perlahan pulih, terkumpul menjadi satu tatkala ibunya yang dipangil biyung itu memeluknya dari depan. Isak tangisnya pecah.

Keadaan Negeri Nusa Kembang sedang genting. Kilat menyambar disertai gelegar suara petir yang semakin bergemuruh. Angin topan menyapu beberapa pohon di taman istana. Tumbang, tercerabut bersama akarnya. Beberapa pohon besar menghantam bangunan istana.

Keringat dingin membasahi pelipis dan kening permaisuri yang tidak memakai mahkota. Rambutnya yang panjang menghitam tampak bercahaya ketika terkena sinar petir. Sementara bau di kamar raja menyengat seperti bangkai, merata di seluruh ruangan. Anehnya bukannya hilang, bau itu semakin menguat.

Tiba-tiba sebuah suara terkekeh-kekeh memecah kebahagian di istana.

“Selamat atas lahirnya penerus tahtamu, wahai Raja Nusa Kembang? Ia hanya akan menghancurkan seluruh rakyatmu. Mereka akan mati lemas mencium aroma busuk dari tubuhnya. Lebih baik buang saja bayi itu sebelum semua terlambat.”

Mendengar penuturan suara gaib itu, isak tangis permaisuri tak tertahankan. Mereka menginginkan anak sudah hampir sepuluh tahun, setelah berbagai usaha dan ritual dijalankan akhirnya bisa mengandung. Tapi kini, bayi itu lahir malah tidak bisa hidup bersama.

Raja sangat mencintai rakyat, dengan berat hati puterinya dititipkan pada seorang dayang yang membantu kelahiran sang puteri. Sebuah pesan untuk menjauh dari istana demi ketenteraman rakyat Nusa Kembang.

Sepanjang perjalanan, dayang istana itu memeluk tubuh mungil puteri yang kulitnya bercahaya, dia tidak berani menatap mata sang puteri secara langsung karena takut mati lemas. Kadangkala ditutupnya kelopak mata sang puteri dengan kain, agar ia bebas membawanya lari menyelamatkan diri.

Baca juga  Di Balkon

Hingga tiba di sebuah hutan yang lebat. Rimbunnya dedaunan menghalangi sinar matahari yang masuk. Gelap. Suara cericit serangga dan burung saling berkicau.

Dayang berusaha mengusir rasa takutnya. Ia mendengar gemuruh suara air terjun tak jauh dari tempatnya berada. Ia melangkah dengan hati-hati mencari air terjun itu.

Seketika, ia tak berkedip ketika dilihatnya air terjun putih bersih dengan debur air yang menyejukkan. Tampak di sebelah kanan ada lembah taman bunga yang bermekaran. Kupu-kupu, capung, dan kumbang saling hingap rukun. Hewan-hewan itu sangat lahap menikmati sari bunga. Mereka tanpa terusik kehadiran dayang yang akan memandikan puteri Gandha Wangi di air terjun itu.

Hingga waktu berlalu, puteri tumbuh menjadi seorang puteri yang sangat cantik dan berbau wangi. Ia memakai cadar tipis agar ketika menatap orang lain akan baik-baik saja. Hingga hari ini semua aman tersimpan. Sekarang rahasia ini terkuak setelah ibunya menceritakan siapa orang di hadapannya itu, ia baru percaya.

“Sudah saatnya kita kembali ke Nusa Kembang, Puteri Gandha Wangi. Ibundamu sakit keras. Sekarang kita bisa berkumpul bersama. Kamu tidak berbau busuk seperti ketika lahir dulu.” Raja memeluk tubuh puterinya yang berbau wangi.

“Benarkah kupu-kupu yang menyedot bau busuk di tubuhku?” Puteri Gandha Wangi bertanya kepada ibunya. Tiada jawaban. Kawanan kupu-kupu terbang mengitarinya yang duduk di amben panjang ruang tamu rumahnya.

Puteri Gandha Wangi menangis tersedu. Kupu, capung, dan tawon berdengung berebutan hinggap di tubuhnya. Semua tersenyum. ***

.

.

NURKHOLIS. Guru MI Al Ulum Guyangan Trucuk Bojonegoro. Puluhan cerita pendeknya dimuat di media. Sekarang sedang menyusun novel berlatar sejarah.

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!