Cerpen, Jawa Pos, Yetti AKA

Dia Ingin Membunuh Seseorang

Dia Ingin Membunuh Seseorang ilustrasi Budiono/Jawa Pos

Cerpen Yetti AKA (Jawa Pos, 20 November 2021)

DIA datang kepadaku dan menceritakan rencananya untuk membunuh seseorang. Aku tidak tahu siapa sebenarnya yang ingin dia bunuh.

Kami pernah besar bersama di kota ini, sampai dia pindah entah ke kota mana, dan tahu-tahu muncul lagi hari ini dengan cerita mengejutkan itu. Dia sama sekali bukan sejenis anak nakal—setidaknya itulah yang sedikit kuingat tentangnya di masa kecil. Dia nyaris tidak pernah mencari masalah dengan orang lain. Kerjaannya tiap hari adalah belajar. Dia memang cukup pintar di sekolah dan sering juara kelas. Namun, ternyata ada satu rahasia tentangnya yang tidak satu pun orang tahu. Dia membenci kota ini.

Sudah sejak lama, di kota ini, kami terbiasa mendengar berita tentang pembunuhan. Setiap saat mayat tak dikenal bisa saja ditemukan di depan toko roti, tergantung di pohon, tergeletak di selokan, kamar hotel melati, tempat sampah. Aku punya kliping khusus berita semacam itu. Dan menurutnya, karena alasan itu pula dia mencariku. Aku tidak tahu dia dapat cerita dari mana soal kebiasaanku mengkliping berita kejahatan itu. Waktu kecil, kami tidak terlalu saling mengenal. Atau katakanlah hanya aku yang banyak tahu tentangnya, sedangkan dia mungkin tidak tahu namaku kalau bukan karena seseorang menuliskannya di selembar kertas dan memberikan kepadanya dan dia lalu menghubungiku dengan berkata, “Apa kita bisa bertemu hari ini?”

Aku sedang berada di kantor pada hari itu. Aku tidak bisa seenaknya keluar hanya untuk menemui seseorang yang tidak jelas, maka aku berkata, “Maaf, aku sibuk.” Aku sudah biasa membuat alasan begitu untuk orang-orang yang merasa mereka begitu penting hingga menganggap mudah saja meminta sesuatu dariku.

Dia tidak menelepon lagi hingga beberapa hari. Kupikir urusanku dengannya sudah selesai. Aku hampir-hampir tidak memikirkannya lagi. Juga tidak bertanya-tanya siapa dia sebenarnya dan apa tujuannya ingin bertemu denganku. Aku menganggapnya tidak lebih dari pelaku telepon penipuan yang belakangan marak terjadi atau manusia tidak punya kerjaan yang sengaja mengganggu orang-orang untuk bermain-main.

Akan tetapi, hari ini, di hari kelima setelah menelepon itu, dia muncul di kantorku dan aku terpaksa keluar dari ruang kerjaku untuk menemuinya.

“Aku ingin melihat klipinganmu,” itu yang kemudian dikatakannya setelah kami berkenalan dan berbasi-basi dan dia mengaku mendapatkan nomorku dari teman masa sekolah kami yang kukenal dengan baik dan sesekali kami memang masih berhubungan. “Aku ingin belajar menjadi seorang pembunuh,” lanjutnya tanpa ekspresi. Suaranya terdengar mantap dan dingin. Seakan-akan dia benar-benar serius dengan omongannya.

Aku cukup terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba ke kantorku. Dan tentu aku lebih terkejut lagi dengan apa yang dia katakan tentang rencananya ingin menjadi seorang pembunuh. Dia sama sekali tidak punya tampang seseorang yang bisa menyakiti atau membunuh orang lain.

Baca juga  ISOMAN (1); ISOMAN (2); THE TASTE OF AN AFFAIR; BANGUN TIDUR MASA KINI

“Apa aku bisa melihatnya?” desaknya. “Aku benar-benar ingin tahu dan belajar.”

“Kau seharusnya membeli buku teknik membunuh atau cara mudah menghabisi nyawa orang,” kataku setengah bercanda.

Dia tidak tertawa. Mungkin apa yang kukatakan memang tidak lucu.

“Aku mau belajar dari kasus pembunuhan yang pernah terjadi di kota ini,” katanya.

Aku terpaksa minta izin keluar kantor sebentar karena melihat keseriusannya. Aku tetap tidak berpikir kalau dia mampu menjadi seorang pembunuh. Namun, kupikir, paling tidak aku bisa meloloskan keinginannya untuk melihat kliping berita pembunuhan di kota ini. Lagi pula, aku merasa senang juga ada yang tertarik membaca berita semacam itu selain diriku. Mana tahu setelah ini kami jadi sering saling menelepon atau kirim pesan untuk membicarakannya panjang lebar. Selama ini aku tidak punya teman untuk itu. Orang-orang di sekelilingku lebih tertarik pada berita ekonomi, khususnya pergerakan pasar saham—dan belakangan juga soal uang koin digital.

“Mengapa kau tiba-tiba ingin menjadi seorang pembunuh?” tanyaku iseng agar kami tidak terlalu kaku selama dalam perjalanan ke rumahku.

“Dari kecil aku membenci kota ini,” katanya. Aku tidak tahu apa kalimatnya itu ditujukan untuk menjawab pertanyaanku atau dia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Namun, itulah yang kudengar dari mulutnya. Sesuatu yang tidak pernah kubayangkan dari sosoknya yang saat kecil tampak begitu manis dan bertampang anak baik. Dan hari ini—soal tampang itu—dia tidak banyak berubah.

Setiba di rumah, aku langsung mengajaknya masuk ke perpustakaan keluargaku yang letaknya terpisah dari rumah induk. Awalnya, perpustakaan ini dibangun kakekku yang gemar mengoleksi cerita stensilan dengan adegan-adegan vulgar luar biasa, lalu diwariskan pada ibuku yang seorang antropolog dan kolektor buku sungguhan, lalu kepadaku yang gemar membaca koran berita kriminal. Sayangnya, di tanganku, perpustakaan ini hanya kujadikan gudang tempat menyimpan tumpukan koran dari yang lama hingga paling baru, dan di sinilah aku menghabiskan waktu di saat sedang tidak bekerja.

Kali pertama masuk, dia bersin-bersin hebat. Sepertinya dia alergi debu. Di sini memang agak kotor. Maklum, perpustakaan tua tak terurus. Kukatakan, aku tidak bisa lama-lama menemaninya karena harus segera kembali ke kantor. Namun, kalau dia butuh sesuatu, ada orang yang bisa membantunya. Aku menyebut nama tukang kebunku, berikut nomor ponselnya. “Kau bisa mengandalkannya,” kataku. Pak Budu, nama tukang kebun itu, yang juga warisan dari ibuku, orang paling tahu tentang apa yang dibutuhkan seseorang saat mengunjungi perpustakaanku. Pak Budu tidak hanya lihai membersihkan dan merapikan pekarangan, melainkan juga menemukan dengan cepat buku atau kliping yang diinginkan seseorang cukup dengan menyebutkan judul atau informasi spesifik lainnya.

Baca juga  Ada Rumput Tetangga yang Lebih Kering Meranggas

Dia mencatat nama dan nomor ponsel Pak Budu, tapi tampak tidak antusias. Mungkin dia tidak percaya seorang tukang kebun bisa membantunya menyelesaikan masalah. Namun, aku tahu sekali pada akhirnya dia akan menyerah—seperti beberapa orang yang pernah datang ke perpustakaan untuk mencari buku-buku penting koleksi ibuku. Saat itulah takdir mempertemukannya dengan Pak Budu dan selanjutnya dia segera tahu itu adalah sesuatu yang telah ditunggu-tunggunya selama puluhan tahun tepat ketika dia mulai membenci kota ini dan diam-diam ingin membunuh seseorang.

***

Selama di kantor, aku berusaha tidak memikirkan dia. Aku menyibukkan diri dengan laporan-laporan yang harus kubaca sebelum naik ke atas. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai pekerjaanku. Saat kecil, aku bermimpi ingin seperti ibuku. Ibu sering bepergian ke berbagai tempat, melakukan penelitian-penelitian ke pedalaman, dan setiap pulang membawa oleh-oleh cerita menarik. Namun, di meja makan, saat ada kesempatan makan malam bersama, ayah sering berkata kasar, “Jangan seperti ibumu.” Ibu tidak berkata apa-apa tiap kali ayah berbicara begitu. Mungkin ibu malas bertengkar di meja makan. Setelah cukup besar, aku mencoba mengerti bahwa ayah tidak bahagia dan hidup dalam kesepian.

Untuk mewujudkan keinginan ayahku itu, hari ini aku duduk dengan tekun di kursi kerjaku di sebuah ruangan minimalis bercat putih di lantai sepuluh dengan sepasang meja kursi, dua kursi tamu, satu lemari berkas, dan satu pot tanaman berdaun hijau segar. Aku berharap ayah melihatku dan tersenyum bahagia. Aku kembali dan bekerja di kota ini dan tidak pergi ke mana-mana. Aku hanya berada di kota ini dan setiap seminggu sekali mengunjungi kuburannya dan aku berkata, “Apa sekarang Ayah tenang di sana? Aku tidak seperti ibu. Ayah tidak perlu khawatir. Aku selalu bersama Ayah.”

Lelah menghadap laptop, aku berdiri untuk meregangkan badan. Ruangan ini punya dua jendela yang menghadap ke luar. Aku suka berdiri di sana dan menatap hamparan bangunan lain. Memikirkan orang-orang dalam bangunan itu. Memikirkan kenapa kota ini tumbuh demikian cepat dan tahu-tahu sudah sepadat ini. Memikirkan pembunuhan macam apa yang akan terjadi pada pukul tiga sore ini dan tinggal menunggu waktu kapan mayat itu ditemukan dan membuat gempar warga kota, lalu beritanya ditulis berulang-ulang oleh media daring atau surat kabar cetak yang masih mampu bertahan. Dia yang barangkali sedang serius membaca klipingan berita kriminal di perpustakaan keluargaku tentu tidak masuk dalam hitunganku sebagai seseorang yang akan melakukan pembunuhan itu. Karena alasan itu pula, tadi aku tak mendesaknya untuk memberi tahuku siapa sebenarnya yang ingin dia bunuh dan apa alasannya dia harus membunuh. Aku tahu, dia hanya frustrasi pada hidupnya dan mencoba memikirkan tentang kegilaan kecil sebagai hiburan yang mana tahu bisa membuatnya bersemangat kembali menjalani kehidupan ini. Ada banyak orang yang mengalami itu. Jika aku membiarkannya dan seolah memercayainya, anggap saja karena—seperti yang kukatakan di awal—kami pernah tumbuh bersama di kota yang buruk dan makin buruk ini dan sama-sama punya rahasia: kami membenci kota ini. Kota yang nyaris setiap hari menyuguhkan berita pembunuhan dan di antara berita-berita itu, satu hari aku mesti membaca tentang pembunuhan seorang perempuan yang tubuhnya dipotong-potong di meja makan saat aku sedang berakhir pekan di rumah nenek dan itu membuatku muntah berhari-hari.

Baca juga  Kota Kematian

Akan tetapi, sepertinya aku salah besar dalam menilainya. Sepuluh menit sebelum tepat pukul tiga aku menerima telepon. Dengan suara serak dia berkata, “Hari ini aku akan latihan membunuh seseorang.”

“Siapa memangnya yang akan kau bunuh?” akhirnya aku tidak tahan untuk tak bertanya.

“Kau baca saja nanti di berita,” katanya. “Jangan lupa juga untuk mengklipingnya.”

Sambil meneruskan pekerjaanku, aku menunggu-nunggu jam menunjuk angka tiga. Aku tidak tahu kenapa aku selalu meyakini bahwa waktu yang tepat untuk membunuh itu pada pukul tiga—baik itu pukul tiga dini hari maupun sore. Dan ketika waktu yang kutunggu itu tiba, sejenak aku membayangkan seseorang datang ke perpustakaan untuk mencari buku koleksi ibuku—nyaris setiap hari memang selalu saja ada yang datang ke sana. Pak Budu, seperti biasa, menyambut kedatangannya dengan ramah dan mengatakan akan membantu mencari buku yang diinginkan. Sementara, dia yang bersembunyi di antara dua rak buku yang setinggi langit itu bersiap dengan golok besar di tangannya. Dia mungkin gemetar, sebab dia orang baik, dan tidak masuk akal rasanya akan membunuh seseorang. Saat kesempatan itu datang, tanpa membuang waktu, dia mengayunkan golok ke leher seseorang yang bahkan tidak sanggup berteriak saking kagetnya. Pak Budu buru-buru menyiapkan meja makan di sudut perpustakaan dan prosesi memotong-motong mayat itu pun segera dimulai.

Aku melepaskan tanganku dari keyboard laptop. Tubuhku seketika berkeringat. Untuk ribuan kali berita kematian seorang perempuan yang tubuhnya dipotong-potong di meja makan dan kubaca waktu kecil itu kembali muncul dalam kepalaku dan bagai bocah yang terjebak dalam kegelapan, aku terisak dan memanggil-manggil, “Ibu. Ibu.” ***

.

.

Rumah Kinoli, 2021

YETTI AKA. Tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat. Buku kumpulan cerpen terbarunya, Tentang Kita dan Laut (2021).

.

.

1 Comment

  1. Pak Tori

    Jika cerpen ini yang nulis penulis pemula(penulis yang notabene belum pernah karyanya dimuat di JP), saya yakin diTOLAK.

    dan saya yakin, jika cerpen ini diikut sertakan lomba di grup Facebook pasti KALAH. PASTI. ITU YAKINKU.

Leave a Reply

error: Content is protected !!