Cerpen, Koran Tempo, Marlin Dinamikanto

Semua Berkat Romlah

Semua Berkat Romlah ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Cerpen Marlin Dinamikanto (Koran Tempo, 21 November 2021)

ROMLAH. Nama itu fiktif. Gadis kurus berdada besar. Semua hanya rekaan Parjo saat menggelandang di Terminal Pasar Senen. Kala itu, banyak cerita stensilan yang beredar ditulis dengan nama Anny Arrow. Parjo tahu, Anny Arrow hanyalah nama samaran dari banyak penulis.

Parjo pun ikut-ikutan menyabung nasib dengan menulis cerita khas Anny Arrow. Awalnya, sambil menunggu giliran ngamen, Parjo oret-oret ceritanya dengan pulpen Boxy di buku kursus menjahit yang besar.

Setelah itu, Parjo meminjam mesin tik milik sahabatnya yang kuliah di IKIP Rawamangun. Judul ditulis dengan rugos dan ditata rapi. Setelah seri ke-5, Parjo baru mampu membeli mesin tik bekas di Pasar Ular.

Kebetulan Parjo pernah mengelola majalah dinding saat sekolah di SMA swasta di bawah pohon melinjo, Kampung Pecandran. Sudah terbiasa dengan layout.

Supaya menarik, setiap cerita stensil ditambahkan ilustrasi gambar gadis telanjang yang dibuat Mangapul dengan upah sebungkus rokok.

Setelah dicetak dengan mesin stensil, cerita dengan tokoh utama Romlah itu dititipkan ke loper koran yang diam-diam mengedarkannya ke metromini, Kopaja, mikrolet, dan bus kota.

Romlah Simpanan Pak Lurah adalah judul pertama karya stensilan Parjo yang hit di Pasar Senen pada awal 1980-an. Sudah itu lahir, Romlah-Romlah yang lain. Sosoknya sama: bekerja sebagai pembantu rumah tangga, kurus, berdada besar, hypersex, suka menggoda pejabat atau orang kaya, dan sesudah itu selingkuh dengan mahasiswa yang indekos di rumah majikan.

Alurnya sederhana. Tapi pembacanya ada yang diam-diam mencari Parjo, minta diantar ketemu dengan Romlah. Mereka percaya betul Romlah itu orangnya betul-betul ada. Bahkan ada kernet Kopami yang pesan cincin ke tukang emas pinggir jalan untuk melamar Romlah.

“Tahulah aku, Abang pasti mengenal luar-dalam. Paten kali itu Romlah. Cemana Abang kenal dia?” desak Sangab, kernet metromini 45 jurusan Senen-Pulogadung. Selain Mangapul, Siburian, dan Eko Biola, Parjo bersahabat dengan Sangab selama menggelandang di Pasar Senen.

Bukan Sangab saja yang percaya Romlah benar-benar ada. Hampir semua penghuni terminal percaya. Cerita fiksi yang menjadi nyata, menyebar ke warung-warung di sekitar terminal, kios buku loak, grosir jam, toko suvenir, hingga ke bioskop di seberangnya, bahkan ke seluruh Jakarta.

Ada yang menyebut Romlah berjualan kopi di sekitaran stasiun. Ada juga yang menyebut Romlah berjualan kue baskom di Pasar Cikini. Tidak sedikit pula yang bercerita Romlah adalah tukang jualan jamu keliling di Kemayoran.

Parjo, yang punya mesin stensil dan pernah menyewa ruko tidak jauh dari Wayang Orang Bharata, sudah tidak menggelandang di terminal. Banyak penulis stensil dan tukang loper koran yang datang kepadanya. Hidupnya yang beranjak usia 30 tahun berkecukupan.

Baca juga  Ama Nara

Sayang, ruko yang disewanya setiap tahun menaikkan harga. Kebetulan, di jalan di belakang stasiun ada ruko yang dibangun dan bisa dibeli dengan cicilan hingga 5 tahun. Sejak 5 Juni 1983, dia tinggal di daerah Bungur. Sebelum akhirnya pada 25 Agustus 1988 mesin-mesin cetak miliknya disita petugas. Parjo dijebloskan ke Lapas Salemba selama satu tahun enam bulan.

Keluar dari penjara, Parjo berjuang mendapatkan lima unit mesin cetak miliknya yang disita petugas dan berhasil berkat bantuan orang dalam.

Tapi Parjo enggan meneruskan profesi juragan cerita stensilan. Dia, seperti halnya tetangga-tetangganya di Bungur, membuka percetakan biasa. Modal ada.

“Semua berkat Romlah,” tuturnya kepada wartawan Media Kota yang kemudian dijadikan judul feature edisi Minggu. Judul lengkapnya: “Pengakuan Juragan Stensilan yang Tobat; SEMUA BERKAT ROMLAH”.

Headline koran abal-abal itu dia bingkai dalam pigura yang bagus. Diletakkan di dinding ruang kerjanya. Di tengah-tengah antara foto Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Try Soetrisno. Parjo bukan lagi penulis stensilan yang sukses, melainkan pengusaha ekspedisi yang awalnya mengelola bisnis gelap pejabat yang tadinya pelanggan percetakannya. Karena pejabatnya meninggal mendadak dan lupa memberi tahu kepada ahli warisnya, usaha itu menjadi miliknya.

“Semua itu berkat Romlah,” bisiknya dalam hati. Diam-diam pula dia percaya Romlah yang diciptakannya benar-benar ada. Bahkan menjadi terbalik seperti kebiasaan manusia lainnya: bukan Parjo yang menciptakan Romlah, melainkan Romlah yang menciptakan Parjo.

***

Romlah mengganggu pikirannya. Setiap hari nama itu minta disebut tujuh belas kali dengan cara dicicil. Saat bangun tidur harus disebut Romlah, Romlah, dua kali. Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih. Siang bolong harus disebut empat kali, sore hari empat kali lagi, saat matahari tenggelam disebut tiga kali, dan menjelang tidur disebut lagi empat kali. Tanpa itu, hidupnya gelisah. Tak ada arah. Hatinya pun seperti air yang berdansa di daun talas.

Romlah sudah menjadi dalang dari seluruh cerita hidupnya, sejak kemalaman di Terminal Pasar Senen dan tak bisa pulang karena kehabisan ongkos. Selanjutnya diajak Eko Biola mabuk di warung kosong. Bertemu dengan Mangapul, Sangab, dan Siburian. Minum pil anjing biar terlihat sangar saat ngamen di jalur PPD jurusan Tanjungpriok.

Singkat cerita, hidupnya—sebagaimana ditulis wartawan Kembang Pos, Najamuddin Rangkuti, yang asli Penyabungan, Sumatera Utara—kais manyogot ditoduk potang. Mengais rezeki sejak pagi dan habis dimakan di sore hari. “Kais Manyogot” dijadikan judul BAB II buku biografinya yang berjudul SEMUA BERKAT ROMLAH; Perjalanan Spiritual Sang Anak Jalanan, yang ditulis Najamuddin Rangkuti dan Sabar Siburian.

Baca juga  Pasir Sagadish

Buku itu mendapat pujian dari sejumlah pakar. Salah satunya Prof Dr Sarpin Penipunegara yang mengajar di Undip—bukan Universitas Diponegoro, melainkan Universitas Depan IKIP Persis.

Dalam endorsement-nya di sampul belakang buku, Profesor Sarpin menulis: “Romlah is a golden gate to prosperity. With Romlah, he finds this way, etc.” Sedangkan Eko Biola, yang mengajarinya mabuk dan minum pil anjing, menulis, “Ingat Wak Jo, Romlah jalan hidup yang mengentaskan kita dari kemiskinan. Bukan Bappenas.”

Kita? Ya, Eko tercatat sebagai direksi di PT Sember (Tbk) yang menaungi semua perusahaan miliknya.

Parjo mengakui, sebelum menemukan Romlah, hidupnya sengsara. Tinggal di Pecandran, ikut tetangganya yang sama-sama asal perdukuhan Karangkemiri, Banyumas. Tetangga bernama Mas Yanto yang bekerja menjadi wartawan Pos Kota itu sesungguhnya baik hati. Selain diberi uang jajan bulanan, Parjo disekolahkan di SMA swasta kebun melinjo.

Parjo menurut saat Mas Yanto memintanya aktif di majalah dinding. Dari sana, Parjo belajar layout, suatu life skill yang membuatnya bertemu dengan gadis fiksi bertubuh kurus dengan BH ukuran 36.

Namun Mas Yanto menerapkan disiplin yang keras, tidak saja kepada dirinya, tapi juga kepada dua adik kandung yang ikut ngenger di rumahnya. Karena dimarahi saat hendak pergi ke kantor, dirinya masih tidur, padahal mau diajak magang di kantornya, di Jalan Gajahmada Nomor 100, Parjo menenangkan pikiran dengan naik PPD No. 12 jurusan Blok M-Pasar Senen lewat Senopati Harmoni dan tidak bisa pulang setelah kemalaman dan kehabisan ongkos.

Sejak saat itu, Parjo menggelandang di Terminal Pasar Senen hingga bertemu dengan Romlah—tokoh fiksi cerita stensilan yang pertama kali ditemukan di warung makan Ibu Yayuk di samping terminal, dekat toilet. Sebelum menulis stensil dan akhirnya menjadi juragan cetak, Parjo ngamen dengan gitar pinjaman almarhum Pak Tua yang lagunya itu-itu saja.

Karena suaranya tidak bagus, main gitar pas-pasan, kalau yang lain dapat 300 perak, Parjo hanya mendapat 60 perak. Tapi lumayan. Harga bakso semangkok masih 30 perak dan rokok 70 perak sebungkus isi 12 batang.

Romlah digambarkannya sebagai gadis kurus berdada besar, pelakor sempurna, dicaci sekaligus dicintai dengan sembunyi-sembunyi. Tak ada seorang pun calon mertua yang menginginkan anak lelakinya menikah dengannya.

Gambaran itu yang selalu dirawatnya hingga dia menulis ratusan seri. Setelah memiliki mesin cetak sendiri, Parjo sengaja mengumpulkan para epigon. Setiap satu cerita ditawari honor Rp 50 ribu. Menulis di Anita Cemerlang honornya hanya Rp 35 ribu. Menjadi wartawan pemula, gaji Rp 125 ribu.

Baca juga  Percakapan di Ruang Tunggu

Tentu saja para epigon berlomba membuat imajinasi tentang Romlah dan menyetor naskah kepadanya. Parjo bisa membeli ruko dan alat cetak yang lebih modern sebelum percetakannya digerebek petugas dan membawanya masuk penjara.

Kini Parjo sudah tua. Umurnya 64 tahun. Tidak punya istri. Di kepalanya hanya ada Romlah. Gadis kurus berdada besar. Tiba-tiba kepikiran, Romlah itu nyata. Bukan tokoh fiksi yang ditemukannya di warung makan Bu Yayuk.

Tiba-tiba Parjo tergila-gila sendiri dengan Romlah. Seperti Sangab yang dulu menyebutnya, “paten kali, Bang”. Tapi ke mana Parjo mencari Romlah? Ke Sukabumi kah, Cianjur, Sumedang, Indramayu, Cirebon, Bunut, Karangkemiri, Kaligesing, Plumbon, Bojonggede, Citayam?

Tidak ada Romlah di sana, begitu lapor Mangapul yang diberi tugas mencari keberadaan Romlah. Panitia tingkat pusat, wilayah, cabang, dan ranting dibentuk untuk mencari Romlah yang ingin segera dinikahi juragan Parjo yang berumur 64 tahun.

Tak seorang pun menemukan Romlah. Di buku kuning nomor telepon lama memang banyak bertebar nama Romlah. Tapi bukan Romlah yang itu. Karena memang Romlah yang itu hanya ada dalam pikiran juragan Parjo saat meneguk kopi tubruk di warung almarhumah Ibu Yayuk di Terminal Pasar Senen.

The Dream Comes True Project memang sengaja dia gerakkan. Pertama, Parjo mengakui dia bisa seperti sekarang karena Romlah. PT Sember (TBK) adalah singkatan semua berkat Romlah. Maka, Parjo menyimpulkan bukan dia yang menciptakan Romlah, melainkan Romlah yang menciptakan dirinya. Kedua, dia memang ingin menikah dengan perempuan prototype Romlah sebagaimana yang ada dalam pikirannya.

Untuk itu, Parjo harus berbakti kepada Romlah, selalu mengingat namanya, dengan menyebut Romlah sebanyak tujuh belas kali sehari. Tanpa itu, hatinya hampa. Hidupnya sia-sia. Berkah pun takkan menghampirinya.

Romlah tidak menua. Tidak seperti dirinya yang mulai pikun dan sakit-sakitan. Usianya tetap 19 tahun. Tapi dia tidak pernah ditemukan dalam proyek Dream Comes True. Dia hanya menggoda—persis saat perempuan itu ditemukan di sudut pikiran.

“Saya hanya menemukan. Tapi tidak menciptakan. Justru dia yang menciptakan saya,” tutur Parjo kepada wartawan Tabloid Merapi yang datang kepadanya. ***

.

.

Bogor, 3 November 2021

Marlin Dinamikanto lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1967. Ia lama berkecimpung di dunia jurnalistik, pernah menjadi penerjemah freelance, dan telah menulis sejumlah buku. Cerpen-cerpennya pada era 1980-an dimuat di sejumlah media. Ia terlibat dalam sejumlah antologi puisi bersama. Selain itu, ia menerbitkan antologi puisi tunggal, Yang Terasing dan Mampus (2018) dan Menyapa Cinta (2020).

.

.

1 Comment

  1. Rml

    Tidak ada kandungan konflik yang mendebarkan dan mencengangkan. Ceritanya lebih semacam biografi hidup orang yang jatuh cinta pada imajinasinya. Begitu saja. Sangat datar.

Leave a Reply

error: Content is protected !!