Cerpen, Farizal Sikumbang, Republika

Iblis di Rumah Tuhan

Iblis di Rumah Tuhan ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Cerpen Farizal Sikumbang (Republika, 21 November 2021)

KATA istrinya, Haji Safidun sudah menjadi manusia kamar. Shalat dan berdoa saja kerjanya sekarang. Beliau—juga kata Bu Halimah, istrinya—lebih banyak diam dan tidak mau diajak bicara. Wajahnya selalu tampak sedih. Selera makannya juga menurun drastis.

Terakhir kali aku berjumpa dengan Haji Safidun satu hari sebelum Badar menjadi guru mengaji di mushala al-Sidiq.

“Wah, ini kebetulan aku bertemu denganmu,” katanya.

“Ada apa Pak Haji. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakan.”

“Iya. Kau kan ketua pemuda kampung kita. Aku kasih kabar jika mulai besok aku tidak lagi menjadi guru ngaji. Maksudku, ada yang menggantikanku. Namanya Badar. Karena ia bukan orang sini, jadi ia tinggal di mushala. Maksudku, nanti kamu jangan terkejut ada orang asing di mushala kita.”

“Iya, Pak Haji. Tapi, maaf Pak Haji. Kenapa Pak Haji tidak menjadi guru ngaji lagi? Pak Haji kan jadi tuntunan di sini.”

“Aku sudah tua. Tenagaku sudah tidak seperti dulu. Sudah lama aku berharap ada yang mau menggantikanku sebagai guru ngaji dari kampung kita. Tapi, aku perhatikan tidak ada yang mau. Termasuk kau juga. Nah, kebetulan ada orang yang meminta menjadi guru ngaji. Ya, Badar itu. Aku uji dia bacaan Alquran. Bagus suaranya. Tajwidnya benar. Kuiyakan saja keinginannya.”

***

Pada hari pertama Badar menjadi guru mengaji, aku singgah di mushala al-Sidiq. Ketika itu, aku menjemput adik laki-lakiku yang mengaji di mushala itu. Aku memasuki pekarangan mushala dengan pelan. Terdengar dengan jelas suara seorang anak perempuan mengaji. Aku menempatkan sandal jepit di samping pintu masuk, lalu duduk di pojok paling ujung. Di pojok ruangan mushala itu kulihat seorang laki-laki di keliling sekitar tiga puluhan anak-anak mengaji. Tubuh laki-laki itu kekar. Rambutnya pendek. Suaranya sangat lantang memperbaiki setiap kesalahan bacaan anak-anak mengaji. Kuyakin itulah Badar.

Ketika pengajian usai, anak-anak berhamburan ke luar dari mushala. Aku berdiri menyambut adik laki-lakiku yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar itu. Aku berpesan kepadanya jika aku akan menemui guru Badar. Ia mengangguk dan berlari ke luar.

Baca juga  Pak Sobirin, Guru Mengaji

“Perkenalkan, saya Salim, ketua pemuda kampung sini. Kemarin Pak Haji sudah memberi tahu jika Anda akan menggantikan beliau,” kataku sambil mengulurkan tangan kepada Badar.

Ia pun mengulurkan tangannya. Di pergelangan tangannya terpasang sebuah gelang dari besi putih yang melingkar. Aku jadi ingat, jika dua bulan yang lalu aku juga memiliki gelang yang serupa. Tapi, milikku raib jatuh ke selokan pasar saat aku mencuci ayam potong.

“Ya, ya, saya Badar. Guru ngaji yang baru,” jawabnya.

Ia bercerita asal-usulnya dari kota lain. Menyelesaikan pendidikan agama di sebuah pesantren. Ia bercita-cita menjadi seorang ustaz dan imam mushala atau masjid. Ia bersyukur jika Haji Safidun menerimanya di mushala al-Sidiq.

Aku bilang kepadanya, semoga ia betah dan senang mengajar anak-anak mengaji di kampungku. Kupesankan juga kepadanya, jika ia membutuhkanku, aku siap membantunya.

Aku meninggalkan mushala itu tepat pada pukul enam sore. Kudapatkan adik laki-lakiku sudah menunggu di halaman dengan tidak sabar.

“Ayo pulang,” kataku.

Ia mengangguk dan berjalan di sampingku dengan sedikit melompat-lompat. Aku tahu itu kebiasaannya. Ia adik laki-laki yang tidak mau diam.

“Ustaz Badar jahat.” Sebuah kalimat meluncur dari bibirnya.

Urung kulanjutkan langkah.

“Memangnya Ustaz Badar kenapa?”

“Ia mencubit pantatku.”

“Kau usil padanya?” Aku bertanya dengan sedikit tersenyum.

“Tidak. Aku hanya terlalu keras mengucapkan basmalah sebelum mengaji.”

Sedikit kugaruk kepala mendengar ucapannya.

“Ayo kita pulang,” kataku. “Dan, lain hari jangan kau ulangi lagi.”

Adik laki-lakiku itu tidak menghiraukanku. Ia telah berjalan lebih dulu meninggalkanku.

***

Mushala al-Sidiq terletak di tepi jalan. Dan, setiap pergi dan pulang dari pasar, pasti aku akan melewatinya. Melewati mushala al-Sidiq setelah Badar tinggal di tempat itu, entah mengapa ada sesuatu yang janggal di telinga. Mengapa Badar memutar musik dangdut beraroma cinta dan suaranya sampai ke tepi jalan?

Di hari ke empat aku mendengar alunan musik pop yang berasal dari kamar belakang mushala. Kali ini aku menghentikan langkah. Mematung sebentar. Dan, sebuah pertanyaan mencuat di kepala. Mengapa Badar tidak memutar kaset mengaji atau kaset ceramah agama? Dan selalu, setelah lebih kurang enam kali aku mendengar musik-musik yang janggal diputar di mushala al-Sidiq, aku biasanya akan berlalu begitu saja.

Baca juga  Dendam Pohon-Pohon

Namun, tentunya, perihal musik-musik beraroma cinta yang diputar Badar di Mushala al-Sidiq sempat juga menjadi perbincangan beberapa orang.

“Tak semestinya Badar memutar musik dangdut di mushala.”

“Aku pernah mendengar lagu Dian Piesesa, sesekali Inul Daratista,” kata yang lain.

“Salim, kau harus sampaikan pada Pak Haji. Biar Badar tidak memutar lagi musik seperti itu.” Itu pesan Abang Jauhari kepadaku.

Ketika masih bekerja di pasar, aku sudah membulatkan keinginan untuk menyampaikan keluhan warga itu kepada Haji Safidun. Aku pulang hari itu agak terlambat. Aku berjalan agak tergesa. Berharap bertemu dengan Haji Safidun sebelum shalat Maghrib tiba.

Aku tidak tahu peristiwa apa sore itu sehingga mushala sesak oleh orang sekampung. Para perempuan berteriak memanggil nama Badar. Beberapa laki-laki memegang kayu sedepa. Dengan sedikit berlari aku memasuki halaman mushala.

“Salim, anak laki-laki Bang Jauhari disodomi Badar,” teriak Kahar yang merupakan tetanga dekat rumahku.

Aku seperti tersengat aliran listrik. Kulihat Bang Jauhari meronta-ronta. Tubuhnya di pegangi beberapa pemuda. Istri Jauhari berteriak-teriak seperti kesetanan. Dan, aku ingat adik laki-laki yang rewel itu.

“Guru ngaji biadab! Setan alas…,” umpat Jauhari tidak putus-putus.

“Mana Badar,” kataku pada Kahar.

“Di kamar mushala. Ia bersama Pak Haji. Kalau tak ada Pak Haji, sudah mati Badar,” tambahnya lagi.

Aku menyelinap di antara kerumunan orang. Mencapai kamar belakang mushala dengan susah-payah. Di kamar itu aku menemukan Badar di samping Haji Safidun. Wajah Badar membiru. Bibirnya berdarah.

“Kenapa kamu sodomi anak orang,” tanyaku.

“Aku hanya meraba-meraba.”

Usai ia mengucapkan kalimat itu, aku layangkan sebongkah tinju ke mulut Badar. Badar tersungkur. Dan, Haji Safidun dengan susah-payah memegangku.

Baca juga  Mata Marza

Sepuluh menit kemudian, polisi kecamatan datang. Badar dibawa keluar dari kamar belakang mushala dengan pengawalan ketat. Sorak cemoohan tidak henti-hentinya menggaung. Dan, beberapa pemuda ingin sekali menghajar Badar.

“Aku yang salah. Aku yang salah.” Itu kalimat yang diucapkan Haji Safidun kepada warga di mushala saat Badar dibawa polisi. Dan, sejak itulah aku tak melihat Haji Safidun lagi.

***

Beberapa hari setelah perjumpaanku dengan Bu Halimah, kudapat kabar kalau beliau meninggal dunia. Aku yakin sakit jantung kronis yang sudah bertahun-tahun diidapnya telah membuatnya kini tidak berdaya. Tapi, apakah ada hubungannya dengan sikap Haji Safidun yang berubah membuat Bu Halimah meninggal?

Di rumah duka aku duduk di samping Haji Safidun. Persis di depan jenazah Bu Halimah. Ruangan itu agak sesak oleh pelayat. Jenazah akan dimakamkan siang hari. Jenazah belum dikafani. Seperti kata Haji Safidun, anak semata wayangnya yang tinggal di Jakarta akan sampai di rumah pukul sepuluh siang.

Di sela-sela riuh rendah suara al-Fatihah yang diucapkan para pelayat, Haji Safidun membisikkan sesuatu di telingaku. “Mungkin beberapa hari setelah pemakaman, aku akan tinggal di Jakarta. Aku adalah guru mengaji yang gagal. Aku tak bisa melahirkan seorang guru mengaji,” kata Haji Safidun.

“Bukan begitu Pak Haji….”

Belum usai aku menuntaskan maksudku, Haji Safidun menyuruhku untuk diam.

“Tidak usah dibahas lagi,” katanya.

Aku pun terdiam. Suara al-Fatihah masih bergema di ruangan itu, dan aku jadi ingat tingkah laku selama mengaji pada Haji Safidun ketika masih kanak-kanak. Aku tahu, aku bukan murid mengaji yang patuh. Sampai hari ini hanya mampu menghafal dua surat pendek. Itu pun surah an-Nas dan al-Falaq. Bacaan shalatku payah. Tiba-tiba wajah kawan-kawanku yang mengaji dulu membayang di ingatanku. ***

.

.

Banda Aceh 2021

Farizal Sikumbang lahir di Padang dan bekerja di Aceh. Bukunya yang sudah terbit Kupu-Kupu Orang Mati (Basabasi, 2017) dan novelnya, Perempuan dalam Prahara (Phonex Publishing, 2019).

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!