Atiyyah Maulaya, Cerpen, Media Indonesia

Buku Bisu

Buku Bisu ilustrasi Budi Setyo Widodo (Tiyok)/Media Indonesia

Cerpen Atiyyah Maulaya (Media Indonesia, 21 November 2021)

AKU adalah sebuah buku. Buku tulis tepatnya. Dulu, saban pagi, aku terbiasa dimasukkan dalam tas, dibawa ke sekolah untuk lalu dipenuhi dengan deretan tulisan rapi nan indah. Kehidupanku selalu terjadwal.

Namun, sekarang ini, semua berubah. Berbeda jauh.

Hari-hari pandemi, ketika virus korona telah membuat kalang kabut semua penduduk Bumi, menjadi awal kisah suram kami. Aku dan pemilikku.

“Ting!” bunyi yang setiap pagi kudengar nyaris selama dua tahun terakhir. Pertanda waktu belajar daring dari sekolah sudah dimulai. Ya, hari ini adalah jadwal ketika seharusnya pemilikku sibuk menulisiku dengan catatan pelajarannya.

“Ah, capek sekali!” ucapnya.

Dalam keheningan itu, seketika aku merasa tak berguna. Namun, mau bagaimana? Aku hanya sebuah buku catatan.

“Rara, ayo sarapan dulu!” Suara seorang perempuan terdengar dari balik pintu. Pemilikku menghela napas dan beranjak pergi.

Ya, pemilikku bernama Rara. Dia duduk di kelas 3 MA Nurul Islam Kriyan. Dia dikenal sebagai murid teladan dan cukup pintar. Hobinya membaca buku dan menulis cerita. Dia pernah bilang kepadaku, “Aku ingin menjadi seperti Andrea Hirata, Asma Nadia, atau Eka Kurniawan.”

Ia dulu sering menulis cerita apa saja di dalamku. Biasanya di bagian belakang. Untunglah ketebalanku lumayan sehingga cukup untuk menampung hobinya itu.

Sayangnya, semua perlahan berubah setelah pandemi mengharuskan semua murid belajar dari rumah. Dia kehilangan waktu untuk membaca buku-buku kesukaannya atau sekadar menulis cerita. Semangatnya mulai memudar.

Di rumah, Rara selalu membantu ibunya bekerja. Waktu belajarnya jadi berkurang dan terbatas. Pagi hari, setelah sarapan dan membersihkan diri, dia membantu ibunya mencuci pakaian di rumah tetangga. Tidak jarang ia juga bantu membersihkan rumah atau menyetrika.

Rara sadar dirinya terlahir di keluarga kurang mampu. Karena itulah dia tak segan bekerja keras untuk memenuhi biaya sekolah sekaligus membantu ibunya. Dia tidak ingin menambah beban ibunya lagi, apalagi masih ada dua adiknya yang harus dipikirkan ibu.

Sampai setahun lalu, keadaannya belum begitu memprihatinkan. Rara menjadi anak yatim setelah kemudian bapak meninggal akibat terinfeksi virus yang masih merajalela ini.

Pengalaman pahit yang takkan pernah ia lupa adalah awal masa-masa isolasi mandiri. Semasa itu, ia dan keluarganya merasa dikucilkan tetangganya. Belum lagi ibunya tidak punya cukup uang untuk bekal berdiam di rumah.

Ibunya sempat menangis di depan orang-orang puskesmas dan mengatakan semuanya dengan jujur. Awalnya mereka memberi ibunya bahan makanan yang hanya cukup seminggu untuk tinggal dan diam saja di dalam rumah. Untunglah kemudian orang-orang puskesmas memperkenalkan program jogo tonggo yang membuat para tetangga kemudian bergantian mengirimkan aneka macam bahan makanan sampai Rara dan keluarganya selesai menjalani isolasi mandiri. Namun, penyakit itu benar-benar membuat para tetangganya ketakutan meski kabarnya ada juga orang-orang di luar sana yang tidak memercayai keberadaannya.

Baca juga  Mang Agus Pulang Kampung

Hari-hari berikutnya, Rara sering menangis di tengah malam. Ia rindu bapaknya. Dulu dia masih bisa bermanja-manja dan tidak perlu memikirkan banyak hal seperti sekarang.

Setelah isolasi mandiri selesai, keluarganya mulai beradaptasi dengan para tetangga lagi. Perlahan, mereka mulai mengerti keadaan keluarga Rara, juga tentang pandemi ini. Hikmahnya, Rara mulai dipekerjakan siapa saja yang butuh bantuan tenaganya sehingga ia akhirnya bisa mencari uang saku sendiri.

Rara lalu bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko serbaada milik Haji Budiman. Ada tiga orang yang bekerja di toko itu. Saat sepi pelanggan, Rara menyambi membersihkan rumah Haji Budiman. Sampai sekarang, seragam sekolahnya belum pernah dia sentuh lagi. Apalagi aku yang hanya sebuah buku bisu.

Aish! Kapan aku dikembalikan ke waktu saat aku dibutuhkan, jadwalku yang selalu padat, dan terisi penuh dengan rumus dan catatan?!” batinku. “Aku bosan dengan keadaan seperti ini.” Aku merasa sudah tak berguna lagi.

Memang, setiap pagi aku masih bisa melihatnya yang hanya melirikku. Sesekali dia juga merapikanku. Namun, aku rindu mendengar tawa Rara bersama teman-temannya. Tawa yang penuh kecerahan. Aku rasa telah banyak hal yang direnggut darinya. Dari hal paling penting, sampai hal yang tidak disadari pemilikku.

Sekarang, aku lebih sering mendengar suara tangisan dari berbagai penjuru rumah ini. Suara tangisan itu silih berganti—seperti arisan. Kadang tangisan Rara, kadang adik perempuannya atau adik laki-lakinya, dan lebih sering adalah ibunya. Kadang suara tangisan itu sahut-menyahut. Adakalanya juga aku mendengar suara tangis yang tertahan. Suaraku sendiri. Ya, aku adalah saksi bisu semua kejadian di rumah ini.

Aku ingat bagaimana dulu rumah ini begitu dipenuhi dengan tawa dan cerita. Yang bersahutan bukan suara tangisan, tapi cerita setiap anggota keluarga saat kumpul makan bersama. Sekarang, bahkan denting piring mereka pun terdengar tergesa.

Setiap subuh, aku juga selalu mendengar lantunan ayat suci Alquran yang kerap membuatku bergetar entah karena apa. Beberapa minggu lagi sudah memasuki bulan puasa. Biasanya keluarga ini menyambutnya dengan gembira dan penuh rencana. Rencana beli baju baru, rencana mau membuat camilan ini dan itu, rencana berkunjung ke tempat wisata ini dan itu, dan banyak rencana lainnya. Namun, sekarang hanya terasa sepi dan hampa.

Baca juga  Redian dan Kulkas Barunya

Aku sungguh merasa kasihan pada Rara. Dia berusaha kuat di depan adik-adiknya. Dia juga berusaha menguatkan ibunya. Namun, orang-orang lupa bahwa sesekali dia juga perlu dikuatkan.

***

Bulan Ramadan pun tiba. Di waktu sahur aku masih mendengar suara piring dan sendok saling beradu. Aku bersyukur akan hal itu meski aku juga mendengar ucapan-ucapan Rara yang sendu.

“Kalau puasa, kita juga bisa mengirit beras ibu,” kata Rara di depan adik-adiknya. “Tapi, niat puasanya jangan seperti itu, ya,” lanjutnya.

Entah berapa kali Rara mengatakan hal serupa kepada adik-adiknya.

“Semoga kalian kuat terus, ya,” katanya di lain waktu. Atau, “Nanti setelah Lebaran kita puasa lagi, ya.” Dan masih banyak lagi. Hingga pada suatu pagi….

Setelah waktu sahur selesai, Rara langsung masuk ke kamar. Aku terkejut karena tidak biasanya—tiba-tiba dia membuka diriku. Aku terhenyak. Rasanya bahagia sekali.

Aku kira dia akan membaca-baca halamanku. Ternyata, Rara justru menuliskan hal yang memilukan.

“Bapak, Rara butuh penguat. Rara juga ingin mencapai cita-cita yang Rara impikan. Tapi, semua orang tahu kan Rara masih punya dua adik. Rara ingin kerja dengan gaji yang besar dan cukup, tapi Rara masih sekolah. Rara harus bagaimana?”

Gaji dari Haji Budiman tak seberapa. Biasanya hanya cukup untuk biaya sekolah dan menambal kebutuhan rumah. Memang, Rara dan adik-adiknya juga mendapatkan beasiswa dengan alasan keluarga tidak mampu. Namun, biaya sekolah bisa berupa-rupa macamnya. Bisa biaya fotokopi, biaya beli pulsa saat pelajaran daring, biaya beli buku-buku tambahan (yang kadang bisa disiasati dengan banyak mencatat), atau iuran kegiatan ini-itu. Kini, setelah virus korona mulai jinak dan sekolah mulai belajar tatap muka bergantian, uang saku juga menambah pikiran.

Biasanya pula hanya tinta yang ditorehkan Rara ke tubuhku. Namun, kali itu tetes-tetes air mata juga membasahiku. Ingin kuusap lembut bekas air mata di pipinya. Namun, kodratku sebagai buku bisu jelas menghalangiku.

***

Kisah baruku diawali dengan tangis yang amat dalam. Namun, lagi-lagi, siapakah yang akan mendengarkan tangisku? Aku harus tabah. Jika Rara bisa tabah dengan kepergian kedua orangtuanya, mengapa aku tidak bisa tabah untuk berpisah dengannya? Maka, ketika dimasukkan ke dalam karung bersama barang-barang tidak terpakai lainnya, aku sudah ikhlas dengan apa-apa yang akan terjadi denganku selanjutnya.

Di tempat pengumpulan barang bekas, aku selalu berdoa agar kisah Rara yang tersimpan di dalam tubuhku tidak terpencar ke mana-mana. Namun, doaku itu ternyata tak terkabul. Yang tersisa padaku kemudian hanyalah lembar tanggal dan hari yang menyimpan peristiwa kepergian ibunya tercinta, hanya selang satu setengah tahun setelah bapaknya meninggal.

Baca juga  Yang Sepia, Pernah Sepia

Sementara itu, pisahan tubuhku mulai terpencar-pencar ke banyak orang, tubuh utamaku kemudian beralih ke seorang perempuan penjual ikan di sebuah pasar. Aku kemudian beralih pemilik lagi ke seorang ibu yang membeli ikan kepadanya sebelum kemudian dibuang di pinggir jalan.

Aku sungguh kangen dengan Rara. Tubuhku mulai robek di sana-sini dan terlihat ringkih sekali. Namun, aku terus saja berdoa. Sebelum mati dan menghilang, aku ingin bertemu dengan pengukir jiwaku itu. Apa pun yang terjadi, aku akan tabah sepertinya.

Doaku kali ini terkabul. Sesaat sebelum diriku diangkut ke dalam bak truk sampah, aku melihat tiga anak yang sedang beristirahat di dekat lampu lalu lintas. Meski wajahnya kusut dan kemudian ditutupi kepala boneka raksasa, aku masih sempat mengenalinya dengan jelas.

“Kalian enggak usah ikut mengamen. Cepat pulang dan belajar! Biar Kakak yang cari uang,” ujarnya menasihati dua bocah di sebelahnya. Benar, itu suara Rara!

Aku jadi bersemangat ingin terus melihat dunia. Betapa pun nasibku lebih buruk dari Rara, aku tahu hari-hari pandemi pasti berlalu, entah kapan itu.

Kalau diizinkan terlahir kembali, aku harap bisa bertemu dengan Rara lagi. Tentu saja dalam kondisi yang semoga lebih baik dari sekarang.

***

Tanpa kusadari, aku terbangun lagi. Namun, ada yang berbeda. Tubuhku masih bersih dan kosong. Tanpa tulisan dan coretan.

Waktu berlalu dan aku bersama banyak temanku masih di toko buku ini. Kami berharap mendapat seseorang yang dapat merawat kami dengan baik.

Suatu hari, seorang anak laki-laki mendekatiku. “Ibu, aku ingin membeli buku ini,” serunya.

“Kalau Rico mau membelinya, janji dulu sama Ibu. Kamu bakal jaga buku ini seperti Rico jaga Risa, ya,” ucap seorang perempuan paruh baya di belakangnya.

“Iya, Rico janji, Bu,” jawabnya yakin menghadap adik kecilnya yang digandeng sang ibu.

Perempuan paruh baya itu tersenyum. Entah mengapa senyumannya mengingatkanku pada seseorang.

Sedetik setelahnya sungguh keajaiban itu ada. Dialah orang pertama yang menorehkan tinta padaku.

Rara! Raraku sudah bahagia. ***

.

.

Atiyyah Maulaya, pemenang III kategori pelajar Sayembara Cerpen Media Indonesia 2021. Attiyah tinggal di Jepara dan bersekolah di MA Islam Kriyan Kalinyamatan.

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!