Cerpen, Radar Bromo, Reni Asih Widiyastuti

Anak Pungut

Anak Pungut ilustrasi Radar Bromo

Cerpen Reni Asih Widiyastuti (Radar Bromo, 14 November 2021)

SETELAH lama terpisah, dua anak berbeda warna kulit yang dulu pernah mendekam salah satu panti di kota ini, kembali bertemu di tempat sampah. Sebut saja Wati dan Ahmad. Wati seorang gadis mungil berparas khas pribumi, sedangkan Ahmad anak kecil berwajah kearab-araban. Keduanya kabur dari panti karena berkukuh ingin mencari orang tua kandung. Padahal, jelas-jelas pengurus panti sudah berulang kali memberitahu. Sejak bayi mereka diletakkan begitu saja di depan pintu panti di malam yang dingin.

Meski berbeda warna kulit dan wajah, Wati dan Ahmad tetap menjadi sahabat baik dan selalu menjaga kerukunan satu sama lain. Bahu membahu setiap kali ada yang berusaha menindas mereka. Sebab bagi mereka, setiap kasta memiliki sisi baik dan buruk. Tidak melulu baik selalu dinikmati oleh kasta tertinggi, begitu juga sebaliknya.

“Wah, tidak kusangka kita bakal bertemu lagi di sini,” ucap Ahmad sambil menutupi hidungnya lantaran tak kuat menahan bau busuk yang sangat menyengat.

“Iya. Aku juga tidak tahu, kenapa kita justru bertemu di tempat sampah seperti ini. Ah, mungkin karena wujudku memang pantas menyandang status sebagai pemulung.” Wati menuturkan cerita dengan raut wajah sedih.

Seketika ia memandang ke atas langit. Mungkin berharap supaya hujan segera turun, agar bau busuk yang menguar bisa sirna. Setidaknya ia bisa menghirup udara segar dan menyimpannya di dalam paru-paru. Dadanya sudah terlalu sesak. Apalagi jika mengingat perjalanan hidupnya setelah memutuskan kabur dari panti.

“Sudahlah. Jangan bersedih. Buktinya sekarang aku juga menjadi pemulung.”

Wati tersentak. Benar juga. Sekarang, di tempat sampah ini, mereka sama-sama mencari barang bekas untuk dijual ke pengepul. Berbeda ketika semasa di panti dulu. Mandi, makan, belajar, bermain, semua itu bisa dilakukan dengan senang hati dan tanpa beban.

Baca juga  Berkunjung ke Rumah Tahanan

“Nah, kau sendiri kenapa sampai di tempat sampah ini?” Wati mulai penasaran dan melontarkan pertanyaan pada Ahmad.

“Entahlah. Hidup terlalu mewah terkadang juga membosankan. Mungkin itu yang kurasakan setelah sempat dipungut orang. Ujung-ujungnya aku kabur lagi.”

“Maksudmu?” Wati semakin tak mengerti dan mulai mengerutkan keningnya.

“Kehidupan orang kaya itu aneh-aneh. Aku tidak terbiasa menggunakan barang-barang mewah. Kamar mandi dengan WC duduk, AC, mobil, dan masih banyak lagi.”

“Ah, kupikir hidupmu bakal enak lantaran dipungut oleh orang kaya! Tak kusangka nasibmu juga sama sepertiku.” Wati menanggapi pernyataan Ahmad sembari menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. Mencoba menenangkan.

“Ya beginilah hidup. Tidak selamanya yang terlihat enak itu enak.”

“Betul. Apa yang kamu bilang itu memang benar. Lalu, sekarang enaknya bagaimana?”

“Ya nikmati saja. Perputaran roda itu pasti ada dan sekarang kita sedang menjalani proses itu. Siapa tahu ada yang memungut kita lagi.”

Dalam pekatnya bau busuk yang menyengat, Wati dan Ahmad serentak berdoa. Tak lama setelahnya, ada yang menghampiri mereka. Ternyata Tuhan begitu cepat mengabulkan doa mereka. Mereka dipungut oleh salah seorang yang begitu baik, meski peluh membanjiri dan baju lusuh turut membungkus tubuh orang itu.

Seorang berbaju lusuh itu memang kerap mampir ke tong-tong sampah, termasuk tong sampah yang sedang disambangi oleh Wati dan Ahmad.

“Bapak akan membawa kami ke mana?” tanya Wati tak sabaran seraya menggandeng tangan Ahmad. Wajahnya terlihat ketakutan.

“Ke rumah. Kalian akan kujadikan anak pungut. Ikut sajalah.”

Wati dan Ahmad saling pandang, sebelum akhirnya memutuskan ikut dengan orang itu.

“Baiklah, Pak. Kami mau ikut dengan Bapak,” ucap Ahmad.

Seketika mata orang berbaju lusuh itu berbinar-binar. Seolah baru saja mendapatkan berlian berkarung-karung di dalam tong sampah.

Baca juga  Pak Brudin Guru Milenial

Sesampainya di sebuah gubuk kecil, orang berbaju lusuh membuka pintu tanpa kunci itu. Segera menaruh karung yang selalu setia menemaninya ke mana pun. Wati dan Ahmad berdiri di belakangnya. Seorang perempuan berdaster bunga-bunga kumal menyambut kedatangan mereka.

“Bu, aku dapat sesuatu!”

“Apa, Pak?”

“Ini!” kata orang berbaju lusuh sambil mendorong tubuh Wati dan Ahmad ke hadapan perempuan berdaster.

“Apa-apaan ini, Pak? Apa maksudmu membawa anak-anak ini kemari?” ucap perempuan berdaster dengan mata berapi-api.

“Loh, tapi kenapa, Bu?”

“Hidup kita sudah susah, Pak. Untuk biaya melahirkan saja masih bingung mau mencari ke mana.”

“Tidak usah pikirkan soal biaya melahirkan, Bu. Adik bapak yang punya warung mie ayam di pusat kota katanya mau bantu.”

Perempuan berdaster bunga mengangguk ragu sambil mengelus perut buncitnya. Di dalam sana telah bersemayam janin yang kini berusia tiga puluh delapan minggu. Pertanda tak lama akan mencium harumnya dunia. Buah cintanya dengan sang suami—orang berbaju lusuh tadi. Tiba-tiba hujan keluar dari matanya. Tak lepas menatap suami yang baru saja berlalu dari hadapannya. Sama seperti hujan di luar sana. Ia pun membiarkan Wati dan Ahmad. Lalu menyusul suaminya ke dalam.

“Wat, apa badanmu sudah mulai pegal-pegal?” tanya Ahmad.

“Belum, Mad. Menurutku, sepanjang perjalanan tadi itu belum ada apa-apanya.”

“Syukurlah. Eh, tapi kalau kita dijadikan pengemis atau dijual bagaimana?”

“Entahlah. Kita lihat saja.”

Malam merangkak cepat berganti pagi. Perempuan berdaster bunga bangun dari tidurnya pukul lima pagi. Sang suami terlihat masih bergelut dengan mimpi. Ia enggan membangunkan. Apalagi semalam mengeluh tidak enak badan. Maka, ia gegas memakai kerudung instan. Cekatan ia membangunkan Wati dan Ahmad. Kemudian pergi tanpa sepengetahuan suaminya.

Baca juga  Warisan

Di jalan, perempuan berdaster bunga itu menawarkan Ahmad dan Wati. Namun, tak ada satu orang pun yang mendekat apalagi sudi memungutnya. Tak terasa, matahari di atas sana kian terik. Hingga matanya tertumbuk pada sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia berjalan mendekat. Diketuklah kaca mobil itu. Kaca mobil diturunkan. Ia langsung menawarkan Ahmad dan Wati.

“Maaf, Bu. Saya baru saja memungut anak beberapa hari yang lalu.”

Tak lama, mobil itu pun pergi. Perempuan berdaster bunga memutuskan pulang lantaran sudah lelah berjalan dengan perut buncit. Langkah amat gontai dan hatinya kecewa berat. Di rumah, suami menatapnya iba.

“Sudah kubilang, tidak usah cemas soal biaya melahirkan. Mungkin Tuhan ingin kita menjaga anak-anak itu.” ***

.

.

Semarang, Oktober 2021

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!