Cerpen, Edna S, Singgalang

Penikung dan yang Tertikung

Penikung dan yang Tertikung ilustrasi Singgalang

Cerpen Edna S (Singgalang, 21 November 2021)

SEIRING berjalannya perkembangan dunia pendidikan, semakin pula menjamur sekolah-sekolah swasta di Kota Similikiti. Kota yang sering menjadi lahan basah untuk mengadu nasib dan profesi.

Mulai dari tukang copet hingga tukang korupsi. Kota yang menyuguhkan selamat datang hukum rimba, siapa yang kuat, dialah yang berdaulat.

Begitu pula dengan lulusan sarjana, setiap tahun mencatat angka pengangguran. Dalam setahun empat kali wisuda, ijazah SI tak menjamin manusia menjadi kaya dan dapat menikmati dunia kerja seperti di drama TV. Sementara UKT menggunung setinggi Gunung Basung, mahasiswa bersitungkin untuk mendapatkan Acc dari dosen, demi sebuah gelar di belakang nama, entah, S-apa. Yang penting oke.

Sebut saja, Lira. Perempuan yang sudah dua tahun lulus dari universitas berstatus negeri di kota Similikiti. Tentu, dua tahun pula dia menjadi pengangguran, lama-lama di rumah ujup-ujup akan disusul wisuda lagi, wisuda bersuami. Lira yang bergelas SI pendidikan Kewarganegaraan, sungguh bingung menyodorkan ijazah ke mana. Untuk honor di sekolah negeri, beli bedak pun tak cukup. Berkali-kali ikut ujian tes CPNS juga tak pernah jebol.

Padahal lagi, Lira sudah banyak berkorban untuk gelar, S.Pd ini. Sebut saja Romi, anak Pak Lurah, lelaki yang berpaut di dalam bilik hatinya. Pemuda itu adalah cinta monyet, yang dijaga hingga ia masih berstatus mahasiswa. Lira berencana akan menjadikan Romi, cinta sejati, bapak dari anak-anaknya kelak. Eits, tentu jika Lira sudah berjaya dengan status mapan dan Romi dapat pula diandalkan. Namun, saat tahun ketiga, tetiba di Perpustakaan Fakultas, Lira mendapat telepon Romi yang tak biasa.

“Lir, ibu dan ayah berencana menjodohkanku dengan anak juragan beras.”

“Lalu? Kamu terima.”

“Aku tak tau, Lir. Ibu sudah menerima tanpa memberi tau. Kamu tau sendiri, aku anak tunggal di keluargaku. Umurku jua sudah cukup untuk itu. Kau kan tau pula, aku berdagang di Tanah Abang tak ada sesiapa yang menanakkan nasi, menemani tidur, mencucikan baju.”

“Tapi, aku bisa bilang Ibu. Jika kamu mau menikah secepatnya denganku, setelah itu akan kelar semua. Aku tak punya alasan lain selain ini, Lir. Ibu dan ayah sudah termakan budi dari sumbangan anak juragan beras untuk menambah modal berdagang bumbuku. Ayuklah!”

Lira meluncur keluar ruangan. “Kembing, menikahlah! Aku tak mau menjadi istri yang hanya diandalkan di kasur, sumur, dan dapur. Kau seharusnya jua tau, aku ini anak seorang petani yang rindu menjadi orang kaya, bertitel, tak sekadar menempungkan tangan pada suami kelak. Ini bukan aku banget. Jika ibu dan ayahmu ngebet betul ngunduh mantu, silakan berbinilah dengan anak juragan beras sialan itu! Ada pernyataan kenangan buatmu, kamu adalah lelaki brengsek sepanjang sejarah percintaanku! Sialan, tenggelamlah ke laut di makan lauk ambu-ambu!” dipencetnya tombol merah, terputuslah sudah.

Baca juga  Ditinggal Kenangan

Memang sakit rasanya, jika kepunyaan kita dicuri oleh orang. Apalagi yang dicuri adaah suatu hal yang teramat berarti. Hebat, dunia pertikungan, setiap berkelok kena. Kalau bukan menikung, malah akan kena tikung. Zaman edan sekarang, tak hanya uang yang dicuri, dicopet ataupun korupsi terang-terangan di meja kantor. Segala hal yang dapat ditikung, diselip, di serempet, oke sajalah.

Kota Similikiti tak akan berubah jika Lira tak bekerja. Namun, umur yang bertambah, desakan pertanyaan tetangga yang sibuk perhatian menanyakan kapan kerja, membuat lira semakin mabuk asoi melamar ke sana-sini. Sudah kali ke berapa ia menyodorkan surat pengajuan lamaran kerja. Secarik ijazah yang sudah banyak pengorbanan, peluh badai membahana kehidupan, hingga asmaranya yang kandas dicuri perempuan lain, kemudian dibawa ke pelaminan.

Di kantor pos, dia katakan pada petugasnya, “Doakan aku, lamaranku diterima ya, Mbak. Aku capek melihat muka Mbak terus. Lebih capek lagi, isi dompetku. Uang pengiriman lamaran ini, uang tabungan aku sendiri. Minta sama orangtua sudah segan. Barangkali apes kali nasibku. Jika Mbak berkenan, bacalah bismillah dan tiupkan pada surat lamaranku.”

“Bismillah, semoga Mbak terima kerja. Ya Allah, aku juga capek menghadapi manusia yang selalu melenguhkan nasibnya padaku. Padahal aku bekerja, di jasa penitipan dan pengantaran barang, tetapi dengan Mbak ini aku kerasa bekerja di bimbingan konseling.” Petugas itu, menyodorkan bukti pengiriman, tampak kesal.

***

Ada kata bijak yang mengatakan, bahwa setiap kesulitan akan ada kemudahan, membuahkan hasil. Setiap usaha yang gagal, mesti dicoba lagi. Jika tidak kunjung nampak puncak hidungnya, maka muncul pula pernyataan, bersabarlah, orang sabar pahalanya besar.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Lamaran Lira ke sekolah swasta akhirnya nyangkut jua. Begitu mabrur, doa petugas pos, doa orang yang teraniaya memang selalu didengar.

Terkungkung bangga akan prestasinya melamar kerja. Wawancara berlangsung dilanjtkan dengan tes micro teaching. Alhamdulilah, mengalir bagai air yang sudah tau ilir.

“Besok, bisa mulai kerja di sini?” pernyataan HRD begitu sejuk didengar, diserapi telinga Lira. Senyumnya lesap seperti tutup periuk.

“Baik, besok saya akan mulai bekerja. Semoga saya betah mengabdikan diri di sekolah ini.”

“Tapi, di sini mesti mengenakan kaus kaki. Kaus kaki tak boleh lepas. Atribut sekolah yang paling wajib Anda pakai, selingkung sekolah, sama wajibnya dengan sepatu. Kami mengajarkan anak didik agar selalu berkaus kaki. Kaus kaki adalah baju bagi sepatu dan kaki. Aturan kami, siapa yang tak pakai kaus kaki, disanksi. Jika guru, maka harus disanksi potong gaji.” Lidah Lira tetiba kagok, otaknya sedang mengolah aturan mengenai kaus kaki.

“Bagaimana?”

“Saya setuju, Pak.”

Bagaimana tidak akan setuju? Sekonyol apapun aturan sekolah itu, tetap akan diterimanya. Jika dipikir lagi, memang ada benar juga, berkaus kaki adalah salah stau atribut sekolah yang wajib. Selain itu, bagi seorang perempuan berkaus kaki adalah hal yang perlu dijaga, sebab kaki adalah aurat. Tapi, bagi Lira, untuk berkaus kaki mesti ia biasakan. Hal itu beralasan, jemari kakinya gampang kena kutu air, jamur bahkan jika kena, lama pulihnya.

Baca juga  Sengsara Membawa Petaka

Suatu hari, semua majelis guru mengadakan rapat bulanan. Rapat memang membumi hanguskan isi kepala. Rapat itu, membahas begitu pentingnya kaus kaki. Kaus kaki harus dipakai kapan pun dan dalam kondisi apa pun, hujan panas sekalipun. Banyak polemik yang muncul pada rapat.

“Banyak siswa yang tidak konsisten dengan kaus kakinya, Pak Kepsek. Ia memandang kaus kaki hanya sekadar kaus kaki. Maka muncullah corak kaus kaki modern, bermotif, berhias bunga-bunga. Itukan namanya, berhias diri. Semnetara fungsi kaus kaki untuk melindungi. Bukan untuk berhias diri.”

Lira tentu sungut mendengar masukan dari Bu Gia.

“Saya rasa, kaus kaki bukanlah suatu kewajiban, Pak Kepsek. Jika kaus kaki adalah kewajiban sah salat, barulah wajib dikenakan kapan pun, seperti jilbab.” Bu Rina angkat bicara juga. “Bagaimana pula, jika anak kita alergi kaus kaki? Lagi pula, di rumah belum tentu kita diterima berkaus kaki, bukankah hal yang mencolok adalah tabaruj?”

“Fenomena anak-anak didik kita itu, tentu tercermin dari gurunya. Mungkin ada dari beberapa guru yang bongkar-pasang kaus kaki. Kaus kaki adalah hal wajib di sekolah, dan dianjurkan juga di rumah, hujan petir pun kehidupan.” Balas kepsek.

Kaus kaki dan fenomenanya semakin melagenda. Jika tak, sindir-menyindir di ruang rapat tentu tak kan sehat dan sejahtera. Genjong dan gunjing yang berbisik tak berani buka suara juga ada. Entah mengapa perasaan Lira tak enak mendegar pernyataan Kepsek, “Guru yang bongkar pasang kaus kaki”.

Selama beberapa bulan ia paham betul bahwa dunia kerja lebih bahaya dari dunia persogokan asmara. Banyak jenis makluk baru yang dapat ditemui, teman makan teman, tukang pos, tukang munafik, hingga tukang-tukang lain.

Rapat dibubarkan tanpa penyelesaian. Pikiran Lira menuju ruang guru semakin tak karuan. Begitu pentingkah nilai dari kaus kaki? Bahkan tak ada toleran jika benda keramat itu tak dipakai. Firasatnya amat buruk, seburuk desas-desus rekan kerja. Ada seorang guru yang enggan menggunakan kaus kaki dan mengajar tanpa kaus kaki. Lira semakin cemas.

Pak Kepsek, pimpinan yang tak terduga idenya. Ya, pimpinan mesti bijak dan sigap dalam bertindak. Yang penting, bagaimana sekolah dan kehidupan di dalamnya sesuai dengan aturan yang dibuat. Jika melanggar, tentu disanksi. Yang lebih parah, tentu yang ada di pikiran Lira saat ini.

***

Pintu majelis guru dikagetkan dengan pemanggilan Lira ke ruang Kepsek. Sensasi Lira yang alergi kaus kaki, tetiba menjadi trending utama. Top markotop. Apalagi, Lira yang baru satu semester bergabung di sekolah itu.

Baca juga  Tuan dan Tamu

“Lir, kamu tau inti rapat kita hari ini?” Buka Kepsek.

“Tau, Pak. Tentang kaus kaki kan?” Balas Lira.

“Dan kamu dipanggil karena tak menggunakan kaus kaki di rumah. Menyaksikan hal itu, merusak semangat anak didik kita untuk berani pula tak menggunakan kaus kaki di rumah. Kau seharusnya paham dan beradaptasi, kan sudah 6 bulan di sini.”

“Tapi, kan aku menggunakan kaus kaki di sekolah, Pak. Dalam perjanjian kerja, tak ada larangan apakah seorang mau menggunakan kaus kaki atau tidak selama di luar sekolah. Lagi pula, anak didik punya orang tua yang mengontrol, jadi kalau mereka tak menggunakan kaus kaki di rumah, bukan salah kita. Nggak mungkin kita mengontrol hingga ke lingkungan masyarakat, Pak.” Lira melontar balasan dengan suara bergetar.

“Kan sudah saya jelaskan, mengapa kamu tak beradaptasi dan membiasakan diri berkaus kaki di rumah? Katanya lagi, kamu alergi kaus kaki. Lira, alergimu dimanjakan, dia akan manja. Mau sampai kapan kamu mau bongkar pasang kaus kaki? Coba saja dibiasakan, nanti tak akan alergi. Tapi sudahlah, HRD sudah melayangkan surat pemberhentian padamu.”

“Lho, kok gitu, Pak. Kan nggak logis alasan pemberhentian saya. Masa gegara ini, saya diberhentikan di tengah jalan? Masa tak kompensasi sedikitpun? Tak ada SP?”

“Ini sudah diputuskan Lira, jika mau komplen, bisa ke HRD.”

Lira meninggalkan ruangan dengan wajah teramat kusut. Mengapa tetiba dipecat? Ia sudah mengorbankan kakinya dihinggapi kutu air yang sukar kering. Ia juga sudah mati-matian dengan Full day yang tak berkesudahan. Di pintu Kepsek, Lira berpapasan dengan perempuan. Wajah baru, tapi dia kenal perempuan itu, juniornya di fakultas. Pikiran kacau balau, yang ditunggu oleh rekan kerja sekantor.

“Aku dengar kabar angin yang tak enak tentangmu, Lir.” Bu Gia menghampiri ke kursi Lira.

“Tidak kabar angin, Bu. Emang tak enak, aku dipecat.” Lira menghembuskan napas panjang.

“Bener dugaanku. Aku mendengar percakapan Kepsek dengan HRD. Akan ada penerimaan karyawan baru. Jika ada yang direkrut, tentu ada yang pergi. Ya ampun.”

“Mungkin sudah kembali ke nasibku jadi pengangguran, Bu”

“Aku mendengar pula, bahwa karyawan baru itu adalah anak Pak Lurah di sini. Dan kamu tau, Lir. Kamu tengah ditikung.”

“Hah! Ditikung?”

“Iya, anak Pak Lurah. Pak Lurah kan sering memberikan uang sumbangan pembangunan, dia jua sering memponsori snack jika ada acara. Sudah termakan budi. Dari pada nambah karyawan. Mending dipecat satu, dicari-cari kesalahanmu, mengkambinghitamkan si kaus kaki.”

Papar Bu Gia sungguh menyesakkan hati. Begitu dahsyat dunia pertikungan, sogok menyogok, termakan budi, serta anak cucu yang bermaksud sama. Lira, yang tak sekadar ditikung dalam hubungan asmara, tetapi jua diserempet dalam dunia kerja. Sadis. ***

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!