Resensi, Singgalang, Supadilah

Pelajaran tentang Luka

Cover Buku Lika-Liku Luka/Republika

Oleh Supadilah (Singgalang, 21 November 2021)

ADA banyak orang yang tidak bisa melupakan luka-lukanya. Luka karena pekerjaan, pertemanan, dan percintaan. Bisa jadi luka itu karena perundungan yang dilakukan orang lain. Novel ini memberikan edukasi kepada kita bahwa bisa jadi kalimat atau tindakan yang kita anggap sepele berakibat fatal bagi orang lain.

Melati menyimpan luka dengan pertemanannya. Karena dia miskin, tak ada seorang pun mau berteman dengannya. Saat temannya datang, itu karena ada maksud tertentu. Maksud untuk menjatuhkan dan menghinanya.

Karena dia pintar dan cantik. Karena kemiskinannya pula kisah cinta Melati selalu berakhir dengan penghinaan. Dianggap tak pantas dengan laki-laki yang dekat dengannya.

Karirnya melejit. Otaknya yang encer membuat dia punya terobosan dan produk yang memberikan profit besar untuk perusahaan. Hal ini membuat banyak temannya yang iri. Beberapa mengembuskan fitnah. Bahwa prestasinya karena pendekatan atau hubungan khusus. Bahwa ijazah magisternya didapat dari beli, bukan karena kepintaran otaknya.

Hampir tak ada rekan kerja yang positif baginya. Yang ada justru saling menjatuhkan. Sudah lama dia ingin resign, tapi tidak boleh oleh kedua orang tuanya sebab mencari pekerjaan saat ini begitu sulit. Bukan itu saja, bukan Melati menjadi semakin besar karena orang tuanya berharap balas budi dari Melati. Termasuk dengan meminta dibelikan rumah dan peralatan rumah tangga lainnya.

Karena anak sulung, Melati dibebani adik-adiknya yang meminta ini itu. Puncaknya Melati resign dari pekerjaannya karena mendapatkan pelecehan dari senior rekan kerjanya.

Melati menderita tekanan mental. Setiap malam dia bermimpi buruk. Seperti dikejar-kejar anjing saja kelihatannya. Saya bangun dari tidur badannya basah oleh keringat. Sampai-sampai dia harus mengonsumsi obat penenang. Bahkan dalam dosis yang berlebih.

Baca juga  Kau Tak Sendirian

Tidak jauh dengan jauh dengan Michael. Dia anak seorang direktur TV swasta. Selepas kuliah di luar negeri, dia pulang untuk mengembangkan usaha keluarga. Karirnya terus naik dan melejit. Dia dekat dengan Endah yang seorang finalis Puteri Indonesia.

Hubungan keduanya berjalan harmonis. Michael akhirnya tahu kalau Endah seorang bipolar. Michael dituduh menyebabkan meninggalnya Endah.

.

Judul : Lika-Liku Luka
Penulis : Seplia
Penerbit : Republika
Cetakan : 1, Juli 2020
Tebal : vi+303 halaman
ISBN : 978-623-745-874

.

Padahal keduanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Kaki Michael juga cacat. Tapi yang membuat mentalnya terganggu adalah tuduhan orang-orang bahwa dialah yang menyebabkan kematian Endah. Berbagai cacian diterimanya. Karyawan di kantornya pun menyalahkannya. Dia bahkan tidak dibolehkan mengunjungi makam Endah.

Michael pun harus sampai ke psikiater untuk penyembuhan mentalnya. Thella, kakaknya, menyewa pengasuh agar bisa membantu semua keperluan Michael. Juga berjaga-jaga agar peristiwa di sungai tak kembali terulang. Pengasuh silih berganti. Sampai kemudian Melati yang mendaftar sebagai pengasuh.

Rupanya Michael dan Melati teman sejak kecil. Dulu Melati membantu Michael mengerjakan tugas sekolah. Imbalannya, Melati mendapatkan sejumlah uang. Saat remaja, keduanya berpisah. Sekarang mereka bertemu dengan kondisi yang masih sama. Melati bekerja untuk Michael.

Seperti dulu, keduanya memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Michael mendapat jasa dari Melati, Melati mendapatkan upah dari jasa mengasuh. Lalu, apa yang berbeda dari hubungan mereka kali ini? Bisakah keduanya saling menyembuhkan? Atau malah saling membuat terluka?

Michael heran teman secerdas Melati tak mendapatkan pekerjaan layak. Mampukah Melati membantu Michael untuk sembuh?

Kritik, cela, hina hampir selalu ada di dunia ini. Kadang dibalut dengan guyonan. Namun, banyak juga yang sepenuh hati melalukannya karena benci. Tidak semua orang yang bisa menganggap itu biasa.

Baca juga  Muncak Ilang

Kebanyakan orang mungkin tak sadar tetapi mereka juga ikut terlibat jempol dan mulut mereka juga turut membunuh orang (hlm 181).

Tidak setiap orang yang bisa abai dengan kritik atau candaan. Ada yang menanggapinya serius, memendamnya dalam hati, dan menjadi trauma.

Sesuai judulnya, novel ini memang penuh luka tentang luka. Luka karena pasangannya, rekan kerjanya, hingga keluarganya. Banyak pelajaran di dalamnya. Seharusnya orang tua mendukung anaknya. Memberikan energi positif, bukan malah menjatuhkannya. Padahal, tidak semua orang mudah menjadi sukses. Ada yang memang sudah kaya dari lahir jadi tinggal menikmati hak istimewa tersebut untuk meraih impiannya (hlm 263).

Keluarga Melati bukannya membantu meringankan beban, justru menambah beban. Meskipun telah melewati berbagai keajaiban, tidak juga membuat karakter mereka berubah. ***

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!