Heri Priyatmoko, Jawa Pos, Resensi

Listrik, Penggerak Sejarah Vorstenlanden

Cover Buku "Jejak Listrik di Tanah Raja Listrik dan Kolonialisme di Surakarta 1901–1957"/Kepustakaan Populer Gramedia

Oleh Heri Priyatmoko (Jawa Pos, 20 November 2021)

KAJIAN Eko Sulistyo tidak terjebak pada listrik cuma sebagai urusan teknis, regulasi, dan cara pandang pusat-nasional. Listrik juga penggerak perubahan masyarakat.

Berleha-leha di dampar kencana seraya menikmati gaji buta bukanlah tipikal Eko Sulistyo. Aktivis 1990-an yang setia mengawal Presiden Jokowi dari zaman wali kota Surakarta hingga berhasil duduk di istana kepresidenan di Jakarta ini diganjar jabatan komisaris Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Mantan ketua Komisi Pemilihan Umum Solo itu sedari mahasiswa memang gemar menulis. Kelincahan jemarinya tak luntur selepas dirinya keceh duit (bergelimang harta) dan dekat kekuasaan. Justru ia kian getol menelurkan buku. Kini pustaka terbaru yang dianggitnya berjudul Jejak Listrik di Tanah Raja.

Buku ini membuktikan kepakarannya bekerja dengan pendekatan historis dan politik. Selepas menyimak pustaka yang sesak sumber primer tersebut, diketahui bahwa perjalanan riset sejarah kelistrikan di Vorstenlanden atau wilayah kekuasaan kerajaan ini membuka kesadaran dekonstruksi.

Selama ini, kajian ilmiah tentang listrik ditempatkan (terjebak) dalam urusan teknis, rumus-rumus, tumpukan regulasi, struktur kelembagaan, dan cara pandang pusat-nasional. Seakan-akan tiada kisah sosial-budaya yang bertemali dengan teknologi pelistrikan.

Selain itu, yang terjadi di tingkat lokal berikut keunikan sejarahnya tidak bisa melulu dipandang dari kacamata nasional. Juga terasa kering menyimak kajian yang ada karena mengesampingkan pendekatan humaniora dalam menganalisis perkembangan historis listrik di Indonesia.

Dalam menulis perkembangan teknologi listrik tidak bisa meluputkan sudut pandang politik. Hal ini dirasakan peneliti tatkala membedah keterlibatan dua penguasa tradisional (Paku Buwana dan Gusti Mangkunegara) bersama pemerintah kolonial Belanda dalam pengadaan listrik di Vorstenlanden.

Biasanya ilmuwan humaniora membenturkan penguasa lokal ini dalam kontestasi politik kekuasaan. Dua pembesar dari Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran didudukkan pada persoalan pertikaian dan persaingan politik.

Baca juga  Malam Rajam

Lalu, diperkeruh dengan campur tangan kekuatan asing. Hasil kajian listrik di sini justru menampilkan kolaborasi pembesar kerajaan tradisional bersama tuan kulit putih untuk program penerangan wilayah dengan energi listrik.

Seabad lebih silam, juga telah tumbuh kesadaran upaya menciptakan keseimbangan dan kontrol kelembagaan SEM mengurusi listrik dari beberapa entitas politik. Direktur dipegang perwakilan dari Firma Maintex & Co yang berkedudukan di Batavia. Kemudian, posisi komisaris diisi Patih Sasradiningrat, J.A.C. De Kock van Leeuwen bekerja sebagai superintenden tanah Mangkunegara, Kapten Tionghoa Be Kwat Koen, dan S.J.W. Van Buuren.

Eko Sulistyo menyebut bahwa “kolaborasi” merupakan kata kunci dalam meneropong dinamika sejarah listrik tanpa mengabaikan aspek kekuasaan di tanah kerajaan. Kata kunci ini masih relevan didengungkan untuk memikirkan keindonesiaan.

Ternyata kemajuan teknologi untuk kebaikan manusia tak selalu dibenturkan dengan keyakinan keagamaan. Penulis sengaja menampilkan pengakuan seorang alim ulama tentang listrik yang merambah dalam dimensi spiritual atau proses sembahyang.

.

Judul Buku: Jejak Listrik di Tanah Raja: Listrik dan Kolonialisme di Surakarta 1901–1957
Penulis: Eko Sulistyo
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: 2021
Tebal: xviii + 278 halaman

.

Dalam pustaka berjudul Bayanul Iman, Muhtar Bukhari (1925) bersesorah perihal menyembah pada kebiasaan. Maksudnya, setiap malam dirinya terbiasa melihat lampu tanpa asap, yaitu listrik.

Meski tidak tahu-menahu cara kerjanya, ia percaya. Maka, biasanya percaya itu karena kebiasaan melihat. Sang agamawan tidak mencibir listrik, apalagi menolaknya sebagai bagian dari kemajuan teknologi.

Penerangan listrik dengan cara kerja yang sulit dinalar kaum pribumi religius ini tidak lantas menuding barang yang harus disingkiri. Justru menempatkan listrik sebagai pelengkap dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kecuali saat menjalankan kewajiban beribadah.

Baca juga  Liang Kubur Eksekutif

Kita disadarkan bahwa listrik mampu menjadi kekuatan sejarah. Sejauh ini listrik hanya dipahami sebagai pelengkap kehidupan manusia dan simbol modernitas di perkotaan.

Padahal, listrik dalam kajian ini terbukti sebagai penggerak perubahan masyarakat. Hadirnya listrik yang menerangi kota di malam hari tanpa disadari berhasil melahirkan budaya baru yang ditandai dengan aneka hiburan malam perkotaan.

Keramaian malam semakin sering dijumpai berkat adanya jaringan aliran listrik. Lalu, situasi ini memicu perluasan pekerjaan yang dapat direngkuh masyarakat seperti penjaja angkringan.

Kendati demikian, dijumpai aspek yang bolong dalam studi ini. Misalnya, gerakan buruh pada perusahaan listrik dan pengaruh listrik dalam pendidikan di Hindia Belanda. Ruang kosong ini patut ditindaklanjuti peneliti berikutnya untuk menyambung “aliran” pengetahuan yang sudah dipasang Eko Sulistyo.

.

.

HERI PRIYATMOKO. Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!