Cerpen, Lampung Post, Muhammad Shalahuddin Al Ayyubi

Si Tokoh Fiksi

Si Tokoh Fiksi ilustrasi Lampung Post

Cerpen Muhammad Shalahuddin Al Ayyubi (Lampung Post, 21 November 2021)

APA mungkin karena salah posisi tidur? Atau terlalu banyak memikirkan proyek gubahan. Entahlah, aku mengalami mimpi aneh yang melibatkan sosok yang tak disangka-sangka. Mungkinkah sebuah pertanda? Jika iya kenapa? Sejauh yang kupikir, aku tidak berniat mencari masalah dengan siapa pun. Tapi, sosok itu… dia bukanlah orang yang pernah kutemui sebelumnya.

Dia bukan pula sanak atau kawan sekitarku. Dia—seharusnya—berasal dari suatu tempat yang lain. Tempat yang mungkin adalah hasil dari gagasanku, atau gampangannya adalah ciptaanku—duniaku sendiri di mana semua terwadahi sekaligus terfondasikan oleh cita tulisan.

Benar… aku bertemu tokoh utama cerita fiksiku dalam mimpi itu.

***

Di ruangan kerja; penuh dengan tumpukan buku, mesin tik tua, maupun manuskrip lawas yang dikumpulkan. Ingatanku masih kuat mengenai apa yang tengah kulakukan di mimpi itu. Ya aku merasakan betul diriku baru saja merampungkan sebuah alternatif cerita dari novel pertamaku. Bahkan, hasilnya sudah dibukukan. Tentunya rasa gembira muncul dalam diri—walau sejenak—bersebab lantaran pencapaian ini. Masa bodoh soal tiada yang mengakui, setidaknya aku hanya ingin merdeka dalam menggubah.

Kulanjutkan…

Tetiba terdengar suara ketokan pintu beberapa kali. Saat kali keempat ketokan pintu, suaranya menjadi makin keras layaknya seseorang yang hendak mendobrak. Pastinya hal ini sangat meresahkan, bagaimana mungkin tidak? Ketika Anda sedang berbahagia atas pencapaian Anda seketika ada seorang insan yang mencoba mengusiknya.

“Tidak dikunci!” kataku memberi tahu.

Pintu pun dibuka olehnya—bersamaan aku beranjak dari kursi. Bersiap untuk mencari ribut dengannya, tetapi… niat itu terurungkan seketika tatkala diri ini menyaksikan sosok manusia itu.

Dia; dari perangai, ekspresi wajah, sampai rambutnya yang terkuncir. Aku tidak habis pikir. Lelaki di hadapanku itu persis sebagaimana aku mendeskripsikan tokoh utama fiksiku. Dia seperti Dolah; tokoh ciptaanku di novel perdana itu. Tidak salah lagi, dialah Dolah yang berada di sana. Tak kusangka aku bisa bersua dengannya lewat mimpi, apakah itu sebuah tafsiran tersendiri?

Baca juga  Kambing-Kambing Turun dari Langit

Entahlah…

Dia berjalan mendekatiku dengan raut wajah geram. Sementara diriku masih terbawa oleh kebingungan yang tiada habisnya. Dolah menarik kerah bajuku dan mengepalkan tangan—tanda bersiap menghantam diriku.

Entahlah… saat itu aku tidak ada keinginan untuk melawan, karena aku tahu dia adalah tokoh buatanku. Dari sana pun aku sadar ini semua hanyalah mimpi, tetapi mengapa aku tak kunjung terbangun ke dunia nyata? Bukankah biasanya bila kita tersadar kalau keadaan ini merupakan mimpi belaka, tentunya setelah itu kita bakal terjaga dari tidur. Dalam kasusku tidak.

Kala itu Dolah pun tampak ragu hendak menonjokku. “Kenapa… kenapa kau sangat tidak adil?” tanyanya.

“T-tidak adil? Apa maksud Anda, Bung?” aku bertanya balik.

Tunggu, tidak adil katanya? Hei bukankah kau sudah mendapatkan sebuah pencapaian dalam fiksiku?

Maksudnya, memang aku menulis tokohmu penuh dengan rintangan namun itu semua berbanding dengan hasil yang engkau peroleh pada akhirnya. Seingatku aku tidak pernah menulis kepribadian tokoh Dolah sebagai sosok yang tidak bersyukur, tamak, apalagi mudah menyalahkan orang lain. Sadarlah Dolah, engkau bukan seperti tokoh yang kugubah! Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?!

Dia kemudian mendorongku hingga diri ini terduduk kembali di kursi.

“Kau penulisnya, bukan? Kau yang merancang skenario hidupku sejauh ini. Segala tentang ceritaku, peristiwa apa pun yang kulalui, semua itu ulah pemikiranmu kan! Hei, Lalu Banjar Getas.”

Dia menyebut namaku. Yang benar saja, mimpi macam apa ini….

Aku menghela napas perlahan. “Baiklah, baik. Aku akan mendengarkan apa yang hendak kau katakan, Dolah. Jujur, aku tak menyangka kini sifatmu tak sesuai dengan apa yang pernah kutulis. Tapi, baguslah! Aku justru lebih senang engkau dapat mengekspresikan sendiri dirimu.”

“Sekarang katakan apa yang engkau keluhkan…” lanjutku.

“Jangan pura-pura tidak tahu, Getas! Yang benar saja, setelah engkau rancang skenario perjalanan hidupku, engkau berbicara seolah tidak mengerti apa pun. Aku terancam dibunuh, dituduh pendukung separatis, dihancurkan moralnya, dan diriku tak lagi dipercaya oleh orang-orang yang kuanggap berharga. Aku harus mati-matian mengembalikan muruahku, belum lagi….”

Baca juga  Wajah Itu Membayang di Piring Bubur

“Belum lagi apa?”

“Betapa tidak adilnya dirimu, membuat peranan diriku seolah-olah tidak berhak mencintai siapa pun. Sementara mereka hidup bahagia, menikah, beranak pinak, saling mencintai dan dicintai. Hei, Getas… meskipun aku hanya tokoh fiksimu, di sana aku juga seorang manusia bukan? Teganya kau mempersulit keadaanku. Saat aku memiliki harapan untuk—sedikit saja—meraih kebahagiaan sebagaimana manusia, mengapa justru aku malah terabaikan.”

Aku benar-benar tergemap mendengarnya. Ini sungguh di luar naskah gubahanku, bisa-­bisanya tokoh utama dalam novel fiksi itu mengutarakan hal demikian. Dia lebih dari tokoh fiksi, dia sudah seperti manusia di dunia nyata yang mana memiliki perasaan dan keluhan. Aku harus bicara apa….

“Maafkan aku. Sekali lagi, maafkan aku. Aku hanya bisa mengungkapkan permintaan maaf sebab ini adalah salahku yang menjadikanmu tokoh seperti itu. Jika ditanya engkau sendiri sebagai tokoh fiksi pasti tak merasa ingin untuk diciptakan, bukan? Tapi aku sangat bersyukur bisa menggubah seorang tokoh seperti dirimu, Dolah.”

Aku mencoba melanjutkan. “Tapi aku perlu menjelaskan padamu apa alasanku membuat tokoh selayaknya dirimu. Engkau adalah representasi insan yang mendapatkan kebahagiaan bukan karena cinta, melainkan karena karya. Pencapaianmu adalah kebahagiaanmu, ingat…pers yang telah kau rintis untuk membela agamamu, percayalah ke depannya itu akan bermaslahat bagi umat. Setidaknya beberapa pembaca akan tergerak untuk melakukan hal elok sebagaimana yang kau lakukan, bukankah itu sudah sangat rancak?!”

“Getas, cukup…kau tidak perlu berminta maaf. Aku hanya butuh penjelasanmu. Sekalipun aku merintisnya, apakah itu bisa menjamin bagaimana aku bahagia sebagaimana manusia lainnya?”

“Aku yakin. Karena bagiku, meskipun cerita fiksi… tetap saja engkau terlahir untuk itu! Engkau akan mewakilkan apa yang dirasakan setiap insan yang turut berada pada posisimu. Dan seumpama jalan hidupmu berbeda dari cerita utama yang kutulis, engkau mungkin akan seperti ini.” Kulemparkan buku alternatif dari cerita yang dilakoni Dolah ke arahnya.

Baca juga  Pendekar di Barat

Dia menangkap dan langsung membuka isi buku itu. Tak perlu diceritakan secara detail, intinya naskah alternatif tersebut menjelaskan kehidupan Dolah yang berbeda dengan cerita utama. Dia hidup layaknya manusia seperti yang dia inginkan, tapi kehidupan itu justru malah menyengsarakan dirinya dan mungkin orang yang dia cintai.

Tiba-tiba Dolah terperenyak dengan lemas di lantai, baru saja setelah dirinya sedikit membaca cerita ironi yang terkandung dalam buku itu. Dia akhirnya merenungi dan menerima jalan ceritanya dengan lapang dada. Tak apa, mengeluh itu wajar. Setidaknya, aku akan bertanggung jawab atas apa yang kutulis di keabadian nanti.

***

Buku-buku di ruangan mimpi itu berjatuhan, begitupun mesin tik yang ada di depanku. Aku pun terjaga dari tidurku tepat pada jam 7 pagi—mimpi aneh itu mungkin terjadi karena diri ini terbiasa tidur lagi selepas salat subuh. Entahlah.

Saking bingungnya saat bangun aku jadi berpikir kalau hari ini ada kelas luring. Sontak aku langsung bergegas menuju kampus dengan terburu-buru.

***

Alhasil sesampai di sana aku malah heran dan berpikir-pikir, kenapa lingkungan kampus begitu sepi dan semua ditutup? Astagfirullah… aku baru sadar setelah melihat tanggal di handphone ini, ternyata kuliah kita masih daring lantaran pandemi. Bodohnya aku terlalu antusias.

Paling tidak, aku ingin menenangkan pikiran dengan berjalan melintasi taman di sekitar kampus. Mungkin sedikit gila tapi terkadang aku jadi mempertanyakan, “Hei, Dolah, bagaimana kabarmu di alam fiksi sana? Baik­baik saja kan? Di sini, novelku yang menceritakan dirimu telah terbit. Kuharap ini berita baik untukmu.”

Sebab… keberadaan tokohmu sama sekali tidak merepresentasikan diriku, bukan juga merepresentasikan orang-orang di sekitarku. Engkau adalah tokoh fiksi yang murni diciptakan untuk merepresentasikan setiap insan; yang memiliki keadaan sama dengan perjuanganmu. Aku harap engkau bahagia, kalaupun tidak sanggup setidaknya berpura-puralah bahagia sampai “nanti sore”. ***

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!