Cerpen, Sapta Arif Nur Wahyudin, Suara Merdeka

Saksi Kunci

Saksi Kunci ilustrasi Hangga/Suara Merdeka

Cerpen Sapta Arif (Suara Merdeka, 21 November 2021)

(1)

SEANDAINYA aku ingat dengan siapa perempuan itu pergi, atau paling tidak, aku bisa memastikan bahwa ia sudah meninggalkan kedai kopiku dan tak pernah kembali seminggu belakangan ini, perkara ini tidak akan serumit ini.

Sudah seminggu lamanya, kedaiku tutup. Lebih tepatnya dipaksa tutup. Meski tidak ada garis kuning polisi, namun empat orang berbadan tegap berjaket kulit hitam yang mengaku dari polda mendatangiku seminggu yang lalu. Mereka melarangku membuka kedai. Sampai keadaan bisa terkendali, katanya. Mereka mencurigai, kedaiku menjadi salah satu basecamp perempuan itu.

Ketika mendengar kata basecamp, aku sempat mengernyitkan dahi. Mana mungkin ia menjadikan kedaiku sebagai basecamp. Sedangkan ia selalu datang di kedaiku sendirian. Sekali lagi kutekankan: ia datang sen-di-ri-an. Tidak ada teman perempuan apalagi teman kencan laki-laki.

Dari sejak pertama ia menjejakkan kaki di lantai kedaiku, ia selalu sendiri. Sialnya, meskipun kujelaskan sampai mulutku berbusa, empat orang ini tidak percaya. Bahkan mereka mengancam bisa mempidanakan aku, lantaran menyembunyikan seorang buronan.

“Hah? Buronan? Tunggu-tunggu, perempuan ini seorang buronan?” pertanyaan itu sekonyong-konyong membantaiku dari mulut Rey. Bahkan baristaku yang satu ini mengulang kata buronan dengan mengejanya.

“Perempuan secantik itu, jadi buron?” Bara tak kalah heran.

“Bukan cantik, kita sudah sepakat, dia masuk kategori manis.” Potong Rey.

“Ah mau cantik atau manis, kurasa itu tak penting. Yang jelas, karena perempuan yang kalian anggap cantik atau manis itu, kedai kita tutup. Itu artinya apa?”

Mereka diam, kemudian saling pandang. Membuka kedai di tengah kebijakan New Normal bukan perkara mudah. Selain harus kucing-kucingan dengan polisi, lantaran harus tutup maksimal pukul 9 malam, kami juga harus menyediakan modal lebih untuk memenuhi aturan protokol kesehatan.

(2)

Hanya ada dua perempuan cantik di dunia. Pertama adalah ibuku. Kedua adalah Dian Sastrowardoyo. Yang pertama tentu akan selalu jadi nomor satu, kemudian yang kedua kemungkinan besar bisa digeser.

Berawal dari keherananku melihat tingkah Bara dari hari ke hari yang aneh, aku mengenal perempuan ini. Kira-kira sudah tiga hari, Bara begitu memperhatikan penampilannya. Mulai dari baju yang dikenakan, celana, parfum, hingga sepatu. Untuk kasus parfum, ia tak segan-segan menyemprot sekujur tubuhnya dengan parfumku. Coba kau bayangkan: parfumku. Tidak hanya itu, sebelum matahari tenggelam, ia seringkali izin dalam waktu yang lama. Kukira ada urusan yang begitu penting, ternyata ia mandi. Dan kupikir ia luluran karena saking lamanya.

Baca juga  Di Jarwal, Kutunggu Kematianku

Sekitar jam setengah tujuh, ia sudah nangkring di depan meja pesanan. Tersenyum ramah sambil berkali-kali menyapu pandang. Aku baru sadar ketika ia terlihat gugup hanya pada satu pelanggan. Tentu seorang perempuan.

Biasanya Ibel yang duduk di meja pesanan sekaligus menjadi kasir. Namun sepeninggal bapaknya, perempuan ini harus pulang kampung. Selain harus membantu usaha katering ibu yang semakin sepi di tengah pandemi, Ibel harus bisa menghibur ibunya yang kuduga mengalami shock berat.

Aku ingat, perempuan tomboy ini pamit pada kami bertiga dengan nada kesal dan mengumpat tak keruan. Bapaknya meninggal dalam sebuah proyek pembangunan rumah sakit daerah. Namun ironisnya, santunan yang didapat tidak seberapa. Bahkan bisa kukatakan sangat tidak pantas.

Karena beberapa hari lalu, Ibel bercerita padaku, ia harus mati-matian cari pinjaman untuk menutup biaya pemakaman dan biaya-biaya lainnya. Sebagai gantinya, kami bertiga sepakat akan bergantian duduk di meja pesanan sekaligus menjadi kasir.

Malam itu, kulihat Bara menerima pesanan dengan tangan gemetaran. Tidak biasanya pula ia berbicara terbata-bata. Kulihat seorang perempuan berkaca mata dengan rambut sebahu di depannya. Perempuan ini memakai celana kulot berwarna pastel dan atasan kaos panjang berwarna hitam.

Ia menjinjing tas laptop bermerk snsv dan membawa buku yang ia letakkan di meja pesanan ketika menulis menu. Bara semakin terlihat tak keruan, antara senang atau bahkan grogi yang berada di puncak. Perempuan itu meninggalkan bukunya di meja pesanan dan memaksa Bara untuk mengantarnya ke meja, saat itu juga.

(3)

Kau pasti pernah bertemu atau bahkan mengenal perempuan yang menyenangkan untuk dipandang. Kalau dikatakan cantik mungkin tidak, namun ketika berhadapan dengannya, selalu memunculkan rasa tertarik. Entah pada apanya. Apakah pada matanya yang terbungkus sepasang lensa. Lesung pipit yang menggantung di pipi kiri. Atau bahkan pada bibir tipis yang dipoles lipstik ala kadarnya. Begitu apa adanya. Ia mudah sekali tersenyum.

Baca juga  Cah Bagus

Dan kau tahu, ketika tersenyum, seketika sekujur tubuhku seakan-akan mau meledak. Seperti ada getaran yang dahsyat tercipta begitu saja. Untuk lebih simpelnya, aku menyebut ia sebagai si cantik.

Lalu sejak perdebatan dengan Rey, kami sepakat menyebutnya si manis—lantaran lesung pipitnya. Rey pernah bersabda, hanya ada dua perempuan cantik: pertama ibunya. Kedua Dian Sastrowardoyo. Meski yang kedua memiliki kemungkinan untuk digeser, namun ia bersikeras si manis belum pantas menggantikan Mba Dian.

Namun sayangnya, seminggu belakangan, si Manis menghilang. Aku tak begitu mengenal siapa ia sebenarnya. Yang jelas, sejak empat orang mendatangi rumah Boby dan mengatakan harus menutup kedai, aku tak pernah absen setiap malam datang di angkringan Pak Min. Angkringan ini terletak di seberang kedai kami yang sudah tutup. Itulah sebab utamanya. Aku masih berharap si manis masih datang ke kedai kami.

Malam ini, ketika kopiku baru saja datang di meja, aku terpaksa harus menyeberang jalan sendirian. Aku tak bisa menunggu Rey atau Boby. Rey sudah kutelepon lima kali dan hasilnya mentah.

Lalu Boby, ia mengiyakan akan datang. Namun, kukira akan memakan waktu yang lama jika aku harus menunggu sampai ia datang. Bisa jadi ketika ia sampai, si manis sudah pergi dari depan pintu kedai kami yang tertutup rapat dan gelap.

***

Seorang perempuan memarkirkan motor tepat di depan pintu kedai yang tertutup. Ia paham betul, sudah seminggu ini kedai langganan barunya telah tutup. Ia pun sudah paham, kedai ini terpaksa tutup untuk alasan yang bisa jadi tidak ia mengerti. Atau malah perempuan ini paham betul alasan kedai ini ditutup. Oleh sebab itu, ia datang dengan hati-hati.

Perempuan ini memarkirkan motornya di depan pintu kedai. Ia membiarkan motornya tetap menyala. Dengan hati-hati ia melepas helm hitam berkaca pelangi. Perempuan ini mengenakan jins ketat dan membungkus kaos hitamnya dengan jaket kulit. Kali ini ia membawa ransel.

Baca juga  Stasiun Kereta Api

Dari seberang jalan, Bara mengamati perempuan ini dengan seksama. Ketika melihat plat motor dan sticker yang menempel tepat berada di atasnya, ia paham betul, inilah orang yang selama ini dicari. Kemudian ia segera membuang puntung rokok, memimun kopi—sampai separuh gelas, dan mengambil ponsel dari saku celana dengan begitu tergesa-gesa.

“Benar! Dia sekarang tepat di depan pintu kedai kita. Tampaknya menunggu seseorang. Aku yakin! Aku kenal betul motornya.” kemudian Bara menutup ponsel dan berusaha menghubungi Rey. Namun mentah, meski ia telah coba berkali-kali. Namun ia sempat mengirimkan pesan pada sahabatnya ini.

Tidak sabar menunggu sahabatnya datang, Bara memutuskan untuk menyeberang jalan. Di seberang, perempuan ini masih duduk di atas motornya. Ia terlihat sedang berbicara di telepon. Beberapa kali ia menoleh ke kanan lalu ke kiri. Seakan-akan menajamkan radar waspada yang ia miliki.

Bara mulai berjalan menyeberang jalan. Namun ketika sampai di tengah, laki-laki ini melihat perempuan itu menyipitkan mata ke arahnya. Kemudian perempuan ini memasukkan ponsel ke saku celana dan menutup kembali jaket kulit hitam yang ia kenakan. Tangan kanannya meraih helm dan mengenakannya. Melihat hal itu, Bara berteriak: Hei! Tunggu!

Bara berlari dari tengah jalan. Namun nahas, sebuah mobil sedan hitam berplat merah menyambarnya tepat ketika ia tinggal beberapa langkah saja sampai di trotoar kedai. Bara jatuh tak sadarkan diri. Mobil sedan berplat merah itu kemudian tancap gas begitu saja.

Orang-orang berlari ke arahnya. Ada yang memacu motor mengejar mobil sedan hitam berplat merah itu. Beberapa orang mengeluarkan ponsel: ada yang menfoto, ada juga yang membuka media sosial. Namun sayangnya, mereka lupa untuk telepon ambulans atau setidak-tidaknya memberikan pertolongan pertama. Di tengah keramaian itu, perempuan yang dipanggil si manis oleh Bara diam-diam pergi. Tanpa satu pun orang menyadari. ***

.

.

Ponorogo, Mei 2021

Sapta Arif Nur Wahyudin adalah Kepala Humas STKIPPGRI Ponorogo. Saat ini sedang melanjutkan studi di Pascasarjana Unitomo Surabaya. Bisa dihubungi melalui IG: @saptaarif atau @keluargaliterasi_

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!