Cerpen, Hendy Pratama, Radar Mojokerto

Kisah tentang Pengarang 30.S

0
()

Cerpen Hendy Pratama (Radar Mojokerto, 13 Oktober 2019)

Kisah tentang Pengarang 30.S ilustrasi Radar Mojokerto (1)

Kisah tentang Pengarang 30.S ilustrasi Radar Mojokerto

IA hendak menulis cerita ini dan mengirimkannya ke koran. Meja berdebu, lantai yang terserak oleh kotoran tikus, serta bau putung rokok yang menguar di asbak, telah ia singkirkan dan bersihkan karena ia hendak menulis cerita. Tapi, ia berhenti di lembar awal dan memikirkan bagaimana ia akan menuliskannya.

Sebuah berita meletus di layar televisi. Menayangkan pembunuhan berantai. Mayat-mayat tertumpuk bagai sampah yang puluhan hari tak diangkut oleh petugas kebersihan. Mengambil nyawa orang dapat semudah mengambil uang receh di ruas jalan raya atau sekitar pasar atau pada pusat perbelanjaan lainnya.

Ia—seseorang yang berniat menulis cerita itu—berhenti karena berita yang meletus laksana gunung. Ia teringat dengan nasib orangtuanya yang tak keruan juntrungan. Sebab, ia memang tak tinggal serumah dengan mereka dan ia sadar bahwa mereka sedang terancam di antara orang-orang yang menjadi korban pembantaian. Pikirannya melayang-layang bagaikan layang-layang yang terkibas angin topan.

Ia berusaha menelepon seseorang dan memastikan kabar kedua orangtuanya. Tetapi, seseorang yang ia telepon tak jua mengangkat panggilan. Ia menelepon seseorang itu lagi dan seseorang yang ia telepon itu tak mengangkat panggilannya untuk kedua kali. Ia mencoba lagi dan hasilnya nihil seperti tadi.

“Keparat sinting!” begitu caci makinya terhadap seseorang yang ia telepon atau terhadap petugas saluran telepon yang tak becus dalam bekerja.

Layar laptop kembali ia tatap dengan tatapan yang menyedihkan. Air matanya menjadi anak sungai di antara sepasang pipi kuyunya. Sekarang, hanya ada dua harapan yang membelenggu dan ia tidak tahu bagaimana cara memusnahkan belenggu itu. Harapan pertama, ceritanya selesai dan ia mengirimkannya ke koran dan tayang pada hari Minggu dan ia dapat honor dan kehidupannya sejahtera.

Harapan kedua, yaitu: kedua orang yang telah susah payah membesarkannya selamat dari pembantaian dan ia dapat bersua dengannya. Hidup satu atap. Kemudian, melupakan masa lalu mereka yang kelam.

Baca juga  Sebuah Pertanda

Kabarnya, sebelum menulis cerita ini dan sebelum koran yang ia kirimi cerita memberinya honor, kedua orangtuanya tak menyetujui apa yang menjadi hobi sekaligus pekerjaannya itu.

“Lebih baik, kau dapat uang dari hasil menyuntik bokong orang sakit. Atau, mengais rezeki dari mobil pengusaha yang tak ganti plat nomor selama bertahun-tahun,” begitu kata-kata yang diucapkan oleh ibunya—dua tahun sebelum ia pergi dari rumah.

“Bapak lebih suka dipanggil ‘bapak dari anak juragan lele.’ Setidaknya, kau punya usaha jikalau tak mampu beli suntikan atau topi polisi,” imbuh bapaknya.

“Tidak! Aku tak berselera menjadi apa yang kalian inginkan,” bangkangnya.

“Aku merasa berdosa karena telah melahirkan anak yang durhaka dan aku tidak siap bila harus dilempar ke mulut api Jahanam sebab kedustaanku itu.” Ibunya mengusap sudut matanya sendiri yang sembap. “Pikirkanlah baik-baik, Nak. Aku yakin bahwa kau tak ingin ibumu melarat—atau yang paling parahnya lagi, dibakar di depan Tuhan!”

“Aku tetap bersikukuh dengan impianku.”

“Keparat sinting! Kau bermimpi menjadi miskin—?” gertak bapaknya yang seketika dipotong oleh ibunya, “Dan kau punya impian yang buruk seperti apa yang telah bapakmu bayangkan; mati karena kelaparan!”

“Aku tetap akan menjadi seorang pengarang!”

“Baiklah, baik. Bila itu maumu, kau mesti tinggal di kandang sapi atau di emperan toko yang dingin ketika malam. Sebab, kau tak akan lagi tidur di ranjang kami yang empuk dan hangat. Kita dipisahkan oleh perbedaan keinginan,” tukas bapaknya yang sesegera didekap oleh ibunya.

“Kami mengusirmu bukan karena benci. Kasih orangtua selamanya seperti udara yang tak pernah habis meski kauhirup seumur hidup. Tapi, kau memang harus pergi dari kami dan bertanggung jawab atas keinginan ganjilmu itu,” tandas ibunya dengan air mata yang terus mengalir di bukit pipinya.

Ia pun akhirnya mengemasi barang-barangnya dan pergi dari rumah.

“Kami percaya, suatu saat nanti kau pasti kembali dengan mengenakan seragam polisi atau jas dokter.” Begitulah suara terakhir dari ibunya yang ia dengar.

Baca juga  Ikan Terbang Kufah

***

Ia kembali menulis cerita dengan pikiran tercacah; rimba ibu dan bapaknya yang masih abu-abu dan ide cerita yang tak kunjung mengetuk pintu kepalanya. Tulisan yang ia ketik dengan jari-jari bergetar menjadi oret-oretan anak kecil pada sebidang buku gambar. Bila begitu terus, ia yakin bahwa tulisannya bakal menjadi sampah yang amat dan sangat dan paling busuk serta busuk sekali!

Karena ketakutan itu, ia urung melanjutkan cerita yang telah ditulis sampai di paragaraf pertama. Ia beralih menonton berita tentang pembantaian itu; pembantaian yang terjadi di akhir bulan September ini, pembantaian yang memakan beribu-ribu korban, dan pembantaian yang didasari oleh kepentingan satu golongan!

Ia menunggu pewarta itu—yang wajah cemasnya tersiar di televisi—menyebut nama ibu atau bapaknya atau keduanya sekaligus. Paling tidak, jika memang ibu dan bapaknya membikin jarak yang lebih lebar darinya—antara kehidupan dan kematian, ia tak perlu lagi dipasung oleh kegelisahan. Bagaimanapun kabar buruk itu menyusup di telinga, ia bakal merasa tenang sebab kepastian. Ia butuh itu.

Tapi, pewarta tak jua menyebut nama kedua orangtua si pengarang miskin. Ia justru menyuruh masyarakat supaya menjadi bagian dari pembantai—dengan masuk dan menjadi anggota partai—supaya keadaan kembali normal. Partai yang berada di jalur kiri dan menolak segala macam penindasan meski mereka—orang-orang partai—melakukan penolakan itu dengan cara yang lebih kejam daripada penindasan.

Ia—si pengarang miskin yang hendak menulis cerita ini—kembali menulis sekenanya dan berharap rampung malam ini juga.

Berita tentang pembantaian yang merenggut kedamaian hatinya di sisi lain hadir sebagai ide cerita. Bukankah ide itu berasal dari kegelisahan? Ide sulit muncul ketika pikiran dan hati si pengarang miskin itu tenang. Maka, untuk menuntaskan penderitannya dan mewujudkan harapannya yang pertama—yang tertera di bagian awal cerita pendek ini, ia memaksakan diri untuk mengubah kegelisahan itu menjadi cerita; ide cerita.

Ia menyunting paragraf pertamanya yang sumbang, kemudian menulis kembali untuk paragraf kedua. Begitu seterusnya sampai bertumpuk-tumpuk paragraf telah ia buat dan sekarang tinggal menambahkan efek dramatik dengan dialog. Ia paham bahwa dialog menjadikan ceritanya seolah-olah nyata. Para pembaca bakal menangis dan mandi kesedihan ketika membaca ceritanya dan juga dialognya.

Baca juga  Sehari Sebelum Pernikahanmu

Akan tetapi, ia berhenti ketika menapaki ujung cerita.

Berita yang masih tersiar menampakkan mayat-mayat tertumpuk kian bertambah banyak. Tua dan muda, kaya dan miskin, tampan dan buruk rupa—segala macam rupa mayat ia temui dan ia identifikasikan berdasarkan wajah, pakaian, dan perhiasan yang mayat-mayat itu kenakan.

Seorang pewarta masih menyiarkan berita dan siaran itu akhirnya berakhir setelah kepala seorang pewarta terpenggal oleh celurit yang setajam samurai. Muncratan darah mengenai layar televisi dan pengarang miskin itu bertambah ngeri. Ia bayangkan pewarta itu ialah ibu atau bapaknya dan ia melihat bagaimana orangtuanya mati disaksikan oleh banyak orang. Betapa hancur hatinya, betapa ia menjadi manusia malang.

Namun, lekas-lekas ia usir bayangan buruknya itu, lalu kembali melanjutkan menulis cerita. Pada ujung berita dan akhir cerita yang masih ia pikirkan itu, terbesit sesuatu yang bakal menggenapkan tulisannya dan karena itulah ia mulai mengetik kembali.

Ia sadar bahwa apa yang akan ia sampaikan dalam bentuk cerita—yang akan ia rampungkan itu—selalu berlawanan dengan apa yang ia harapkan. Karena itu, dengan cermat dan teliti ia selesaikan sebuah cerita. Cerita tentang seseorang yang akan menulis cerita. Tapi, dalam cerita itu, ia melakukan sebuah kebohongan besar dengan mengada-ada suatu pembantaian yang meregut nyawa kedua orangtuanya. ***

 

/Madiun—Juli 2019

Hendy Pratama, lahir pada 3 November 1995 di Madiun. Bergiat di komunitas sastra Langit Malam dan FPM IAIN Ponorogo. Heliofilia adalah buku kumpulan cerita pendek perdananya.

 432 total views,  4 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: