Cerpen, Mapung Madura, Solopos

Hikayat Malaikat & Perempuan Perias Mayat

0
()

Cerpen Mapung Madura (Solopos, 12 Juli 2020)

Hikayat Malaikat & Perempuan Perias Mayat ilustrasi Hengki Irawan - Solopos (1)

Hikayat Malaikat & Perempuan Perias Mayat ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

Masih pagi. Tapi orang-orang sudah mulai antre. Laki-laki dan perempuan. Dari anakanak hingga orang dewasa. Semuanya tampak berusia muda. Mereka antre dengan tertib. Ada yang duduk ada yang berdiri. Makin siang antrean makin panjang. Mirip ular berbaris. Tapi gerbang belum juga terbuka. Keringat menetesnetes dari kening mereka. Tapi mereka tak menggerutu. Pasrah menunggu nasibnya.

Baru saat matahari tegak di atas kepala, gerbang dibuka oleh seorang lelaki dengan sayap lebar seperti sayap burung garuda. Dan terkejutlah lelaki bersayap itu. Pasalnya, mereka yang sedang mengantre masuk gerbang surga seluruhnya berwajah sama. Kusam dan layu. Kumuh dan penuh debu. Dari tubuh mereka menyeruak aroma disinfektan.

“Ada apa ini? Tak biasanya calon penghuni surga kumal begini. Biasanya mereka berpakaian bagus dan wangi. Para lelaki ada yang berjas mahal lengkap dengan dasi, ada juga yang berbusana kasual, enak dilihat. Sementara calon penghuni surga dari kalangan perempuan biasanya bergaun anggun, berkebaya dengan brokat mahal, ada juga yang berbusana sederhana tetapi tetap tampak seperti baju baru yang dipakai saat hari raya. Biasanya mereka melenggang dengan bibir tersungging, riang,” batin si Malaikat.

Melihat pemandangan ganjil itu, Malaikat utama penjaga gerbang surga memanggil asistennya, malaikat bersayap kecil. Seperti sayap lebah. Suaranya berdenging. Malaikat ini bernama Zulaiqat. Ia diperintah untuk mencari tahu sebab musabab para pengantre surga berwajah kusam.

“Tugas ini risikonya berat, wahai Zulaiqat. Apakah kamu siap?” tanya Malaikat bersayap raksasa itu.

“Apa risikonya, duhai tuanku?”

“Kau harus menjadi manusia!”

“Apa beratnya? Justru itu kemuliaan bagi hamba. Menjadi khalifah dari segala makhluk yang tampak dan tak tampak di muka bumi.”

“Justru di situ ujianmu. Kalau menjadi manusia maka jiwamu tak serta merta sepenuhnya malaikat. Tapi akan bercampur iblis. Dua jiwamu akan bertarung terus menerus untuk menentukan nasibmu,” kata Malaikat utama.

“Hamba malaikat. Hamba tak akan dikalahkan iblis. Hamba siap melaksanakannya,” kata si Malaikat bersayap kecil.

“Baiklah, hari ini juga kau berangkat!” kata Malaikat utama sambil geleng-geleng kepala.

***

Senin pagi Zulaiqat tiba di bumi. Menjelma seorang lelaki berwajah tampan. Ia terlempar ke bumi tepat di pinggir jalan raya kota Jakarta. Pagi itu, sembari mengucek matanya, ia memandang sekeliling. Tapi tak juga ditemukan satu pun manusia. Hanya suara sirene ambulans seakan bersahutan di kejauhan.

Baca juga  Kebanggaan Mama

“Suara apa itu?” batinnya. Ia belum pernah mendengar bebunyian semacam itu di alam surga.

Ketika ia sedang duduk di pinggir trotoar, sirene sebuah ambulans terdengar makin mendekat. Ia melonjak seketika lantas berdiri di tengah jalan. Sopir ambulans tentu saja terkejut. Tak sempat menginjak pedal rem, mobil berwarna putih krem—pada lambung mobil tertulis “Ambulans Bantuan Drs. Saiful Bahri, Partai Singa,”—itu menabrak Zulaiqat. Tubuh Zulaiqat terpental sejauh lima puluh meter, dan mendarat di bibir trotoar. Zulaiqat terguling-guling. Pingsan.

Petugas ambulans segera membawa Zulaiqat yang sedang terbaring pingsan ke rumah sakit terdekat. Diangkut bersama seorang pasien terjangkit virus menular. Dalam perjalanan Zulaiqat siuman. Dari balik jendela kaca ambulans, Zulaiqat mengintip. Ada beberapa manusia berpakaian mirip astronout.

“Siapa orang-orang itu? Mengapa pakaiannya semua tertutup?” batin Zulaiqat.

Di depan pintu UGD, pintu belakang ambulans terbuka. Dua orang berpakaian mirip astronout tertutup itu mencoba mengangkat tubuh Zulaiqat. Tentu saja Zulaiqat meronta. Lantas meloncat dari dalam ambulans, persis seperti saat ia terpental ketika ditabrak ambulans. Meloncat masuk ke rumah sakit.

Tanpa merasa berdosa, ia kemudian berjalan-jalan mengelilingi rumah ruangan di rumah sakit itu. Tentu saja tanpa pakaian sesuai protokol kesehatan di musim wabah ini. Semua orang melihat khawatir pada Zulaiqat. Petugas rumah sakit mengejar Zulaiqat. Sebab tadi ia semobil dengan jenazah seorang pasien positif terjangkit wabah mematikan.

“Dia tertular. Hati-hati! Tangkap!” teriak orang-orang.

“Bandel sekali orang ini, ya” kata lainnya.

“Orang mana, sih, dia?” kata yang lain.

“Goblok, nih, orang,” kata yang lainnya lagi.

Melihat dirinya sedang dikejar, Zulaiqat kabur sekelebat kilat. Lari keluar pintu belakang rumah sakit. Tak satupun orang mampu mengejarnya.

Setelah berjalan kurang lebih satu kilometer, Zulaikat memasuki sebuah kompleks perumahan. Di pintu gerbang perumahan itu terdapat palang besi melintang, bertempelkan spanduk besar, bertuliskan “Musim Wabah, Kompleks Ini Lock Down. Pendatang Dilarang Masuk!” Penasaran, Zulaiqat memaksa masuk perumahan tak berpenjaga itu.

Baca juga  Sayur untuk Dinda

Hampir sama dengan di sepanjang jalan utama, jalan perumahan tampak sepi. Meski satu-dua orang masih terlihat berada di teras dan halaman depan rumah mereka, tapi ketika salah seorang di antara mereka dihampiri oleh Zulaiqat, orang itu buru-buru masuk, lantas mengunci pintu rumahnya.

“Siapa tahu saya bisa dapatkan jawaban atas perintah malaikat utama,” pikirnya.

Zulaiqat menghentikan langkahnya di sebuah rumah besar. Rumah bercat putih, rapi, dan bersih. Di teras rumah terlihat sosok perempuan sedang menyisir rambutnya yang panjang. Wajah perempuan ini tampak murung. Matanya menerawang ke jalan yang kosong. Zulaiqat menyapanya dari luar halaman rumah tak berpagar. Perempuan itu membalas, dingin.

Terjadilah perbincangan. Ternyata si perempuan itu sedang curhat. Perempuan itu seorang janda bernama Kasima. Janda yang memiliki kecantikan paras tujuh orang bidadari. Hanya kali ini wajahnya murung sekali.

“Apa yang membuatmu murung begitu?” tanya Zulaiqat.

Kasima pun bercerita. Mengenai pekerjaan sebagai perias mayat. Pekerjaan itu membuatnya dijauhi lelaki. Ia kerap menerima penolakan dari keluarga calon suami barunya. Pernah sekali, dengan seorang pemuda -lelaki keempat, Kasima dan pemuda sudah saling jatuh cinta. Tapi setelah orang tua pemuda itu tahu pekerjaan Kasima sebagai perias mayat, mereka tak disetujui melanjutkan hubungannya. Mendapat penolakan restu itu, membuat Kasima sangat terpukul. Hampir dua tahun dia menjalani hidup seorang diri, dengan pekerjaan yang dia cintai, hingga akhirnya pandemi virus meluluhlantakkan semua. Persoalan menghantam Kasima berkali-kali.

“Apa laki-laki di sekitar sini goblok sekali, ya? Wanita secantik kamu mereka tolak,” kata Zulaiqat.

Mendengar itu Kasima tersenyum. Senyum yang indah. Melihat senyum itu Zulaiqat ternganga. Saking cantiknya. Saking indahnya.

“Kau laki-laki pertama yang membuatku tersenyum,” kata Kasima.

Kasima kemudian membukakan pintu pagar. Mempersilakan Zulaiqat masuk rumahnya. Mereka berjalan beriringan seperti sepasang pengantin baru.

“Apa salahnya perias mayat. Bukan maling, kan?” Bibir tebal Kasima tersenyum. Namun nada suaranya bergetar. Seolah menahan arus kesedihan agar tidak tumpah dari pelupuk matanya.

Zulaiqat terdiam mendengarnya, ikut larut merasakan sedih perempuan pemilik tujuh muka bidadari itu. Tampak dari punggung Zulaiqat sepasang sayap berkelebat membentang, seperti mengurapi tubuh Kasima. Kasima tentu saja tak bisa melihatnya. Hanya Kasima merasa seakan ada sesuatu yang mencoba menenangkan batinnya. Seluruh tubuh Kasima mendesir. Dia menatap lama sosok lelaki asing di sampingnya.

Baca juga  Di Ujung Batas Kota

“Sejak lima bulan lalu, aku ingin berhenti total bekerja merias mayat. Tapi aku tak sanggup melihat wajah-wajah itu. Mayatmayat itu membutuhkan jasaku,” lanjut Kasima, matanya menerawang ke jalan yang lengang.

“Sekarang, sudah tiga bulan ini, aku dipaksa harus berhenti. Tak ada lagi mayat yang boleh dirias. Tak ada lagi pemasukan. Mereka yang mati semuanya diduga terserang wabah menyeramkan itu. Mereka melarangku, khawatir tertular.” Tubuh Kasima melayu, menghela napasnya sejenak. Kemudian melanjutkan “Kadang terpikir, ingin saja tertular, agar hidup ini segera berakhir.”

Setelah Zulaiqat menyimak, kali ini giliran ia angkat bicara. Ia bercerita sejak kejadian tabrakan hingga satu mobil bersama jenazah, lari dan berakhir di pertemuannya dengan Kasima. Hingga tak terasa malam membuka rahimnya, gelap perlahan menelusup membungkus angkasa raya. Mata bundar Kasima merekah membuka lebar.

“Aku sendiri di rumah ini, tinggallah semalam.”

Bagai seekor sapi dicocok hidungnya, Zulaiqat mengangguk. Entah mengapa mendadak dadanya bergejolak. Matanya tak lepas memandang tubuh Kasima.

“Tetapi, besok pagi sekali, sebelum ayam jantan berkokok aku harus kembali,” kata Zulaiqat.

***

Antrean calon penghuni surga terus memanjang, dengan wajah-wajah yang sama. Kusam dan layu. Pakaian berbau disinfektan. Hanya satu perempuan yang berparas cantik, segar, muda, bergaun putih berhias brokat, bak pengantin berdiri anggun di antrean. Kasima.

Melihat pemandangan yang tidak biasanya itu, malaikat penjaga surga menanyai perempuan bernama Kasima itu.

“Bagaimana engkau bisa berbeda dengan calon penghuni surga lainnya?”

“Malam itu, sebelum saya bercinta dengan seorang lelaki, saya menghias diri dengan hiasan terbaik. Karena aku tahu, tak lama lagi akan mati.” Jawabnya lembut setengah malu-malu.

“Siapa lelaki itu?”

“Zulaiqat.”

“Iblis!!” Suara malaikat utama penjaga surganya menggelegar menggoncang akhirat. Sebab Zulaiqat telah menyetubuhi seorang mayat. Zulaiqat terkutuk jadi gila.

 

Mapung Madura Pengelola Kafe Manifesco, Pegiat di KGB (Komunitas Gemar Baca) Manifesco.

 167 total views,  2 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Kermisup

    Email terbaru untuk kirim cerpen ke Solopos, apa ya?

Leave a Reply

error: Content is protected !!