Cerpen, Haluan, Talia Sartika Bara Widya

Menikahi Neraka

0
()

Cerpen Talia Sartika Bara Widya (Haluan, 30 Agustus 2020)

Menikahi Neraka ilustrasi Istimewa (1)

Menikahi Neraka ilustrasi Istimewa 

SEPERTI, sejelas beda minyak dan air yang terlihat, begitu juga ia mendengar ketukan dan bunyi ngilu dari pisau dan telenan kayu yang Ibunya gunakan untuk memotong ikan. Jemari Ibu sungguh ligat, tiap gerakan hemat, dengan sekali tebasan pada kepala ikan, insang dan organ-organ dalam pada ikan juga bisa tanggal. Samsinar memperhatikan dengan cermat, ikan-ikan itu masih segar betul. Sesekali ia lihat mulut ikan itu termangap, dan sebelum gerak berikutnya terlihat, kepala ikan itu sudah dipotong Ibu.

“Cepat sekali, Bu,” kata Samsinar takjub.

“Harus cepat dipotong. Kalau tidak, ikannya akan sakit,” kata Ibu tanpa menoleh pada anaknya. Ia tekun mengawasi tangan yang basah oleh air dan segala cairan serta lendir dari tubuh ikan.

“Kalau tidak cepat bagaimana, Bu?” kata Samsinar sembari melihat peluh ibu turun dari kening, lalu jatuh ke tumpukan daging ikan.

“Ikannya akan kesakitan. Jika begitu, akan sulit untuk dipotong. Kalau sulit, ya, tentu buang-buang waktu. Waktu adalah uang, Nak. Jika Ibu tidak teliti soal uang, kita akan berakhir dengan mengorek sampah. Atau jauh sebelum itu, Ayahmu sudah menjualku, atau lebih parah lagi menyerahkanku begitu saja pada tentara-tentara Nippon hidung belang, hanya agar lehernya tidak digorok. Entah kau akan lahir atau tidak? Entah aku akan tahu siapa Ayah dari anakku atau tidak? Entah aku masih hidup atau mati terkubur di berantah?”

Ibu menghela napas. Bibir Samsinar tertutup rapat, ia mengangguk, ia mengerti. Diamnya adalah persetujuan. Ia tak perlu membuang waktu Ibunya. Ia hanya perlu menjadi anak yang baik. Anak baik adalah anak patuh yang tidak banyak bertanya.

Baca juga  Tragedi Cinta Amangkurat

Terus seperti itu di tahun-tahun setelahnya, Samsinar di usia kelima belas baru saja mendapati menstruasi pertamanya dengan rasa takut kalau-kalau ia sedang kencing darah. Tapi Ibu, tak banyak berbicara. Pagi-pagi buta saat Samsinar bangun, sudah ada beberapa pembalut kain serta peniti di dekat bantalnya, serta selembar kertas petunjuk bagaimana cara pemasangan yang benar. Tepat sehari setelahnya, Ibu langsung mencarikan lelaki untuk menikahi anak gadisnya itu, “Lebih cepat, lebih baik, supaya kau selamat,” demikian pesan Ibu.

Tak berselang lama, seorang pria datang melamar Samsinar. Saat itu Ibu mengangguk, Samsinar tidak bisa menolak. Bibirnya tertutup rapat. Umur Samsinar masih lima belas tahun. Ia tak mengerti bagaimana pria itu, selain para nelayan dan pemilik kedai tempat Ibu bekerja? Samsinar menganggap mereka sebagai kerabat jauh saja. Tentu di hari pernikahan yang canggung, Samsinar yang masih kuning terang itu tidak mengerti banyak hal. Ia hanya perlu pergi dan ikut dengan suami, karena mungkin dengan begitu Ibu yang sudah beruban separuh tidak perlu susah berkuras untuk dua orang.

Dengan menikah, Samsinar bisa meringankan beban orang tua satu-satunya. Tapi banyak syukur tetap Samsinar panjatkan pada yang Maha Kuasa. Sebab, ia mendapatkan suami yang lembut dan pengertian. Rahmadi, yang meski umurnya terpaut sebelas tahun lebih tua, lelaki itu tidak mengolok atau merendahkan Samsinar yang jauh lebih muda, tidak pernah sekolah, dan buta huruf.

Rahmadi adalah pedagang ikan dari kota seberang, dan memiliki sepetak ladang milik sendiri. Ia sempat bercerita ingin menjadi guru, tapi ia mesti putus sekolah saat kehilangan ayahnya yang diambil tentara Jepang. Samsinar memutuskan tak menggali lebih jauh soal mengapa itu bisa terjadi.

Baca juga  Polisi Gagah di Halaman Rumah

Di lain hari, Rahmadi bercerita ketika ia masih kecil, sekira-kira usia sepuluh atau belasan tahun awal, ia berhenti sekolah. Berhenti membaca dan berhitung. Sebab, ia punya tujuh adik-adik dan seorang Ibu yang sedang sakit keras setelah kepergian ayahnya.

Pernikahan mereka pun kemudian melahirkan dua buah hati; Rinai dan Fajarsyah. Keduanya tumbuh jadi anak-anak yang baik, dan bersekolah. Tapi sesekali, kala malam-malam janggal saat Rahmadi, Rinai, dan Fajarsyah tertidur lelap, Samsinar terbangun dan memperhatikan erat-erat bentuk mata anak-anaknya dari temaram lampu corong; bulat dan besar, seperti mata Ibu dan seperti mata Nenek mereka. Juga ia perhatikan baik-baik warna kulit anak-anaknya; sawo matang, seperti warna kulit Ayahnya.

Udara lega berembus, Samsinar menghirupnya dalam. Ia tak perlu kembali ke hari-hari yang lalu. Tak perlu mengenang bagaimana ia menolak untuk disekolahkan atau keluar rumah karena desas-desus menyakitkan yang ia dengar dari amai-amai; perihal ayahnya yang entah siapa, entah berada di laut mana, dan entah masih hidup atau tidak?

Begitu pula dengan ibunya yang tak mau melihatnya, dan hanya menginginkan Samsinar pergi jauh. Sebab, dari mata Ibu yang bulat dan besar seperti mata Samsinar, tak ada cinta seutuh purnama berjejak di sana. Ibu hanya melihat mata Samsinar seolah kecil dan sipit, seperti para lelaki yang tak ia kenali namanya. Jika mengingat semua itu, Samsinar hanya mampu melinangkan air mata, dan merasa hidup sudah tidak adil.

Ibunya yang menikahi neraka tanpa akad, sedang Samsinar justru berbahagia dengan keluarga kecilnya. Seperti yang selalu ia dengar dari Rahmadi, “Aku mencintaimu dan anak-anak kita, Dik. Cinta sekali.” Atau yang Sinai dan Fajarsyah ucapkan dengan bibir kecil mereka, “Kami sayang Ayah dan Ibu.”

Baca juga  Kuburan Pasir Hitam

Semakin dewasa, semakin tua pula Samsinar, semakin diingatnya yang lalu, dan bagaimana setelah menikah ia tak lagi menemui Ibunya. Kini, ia rasakan perempuan tak ubahnya ikan-ikan di laut yang berakhir dipotong oleh Ibu, dan laki-laki adalah kail pemancingnya. Samsinar membayangkan bayangan Ayahnya mengumpan ikan di laut, dan pada menit berikutnya mulut Ibu terkoyak, insangnya menjerit kemudian diangkat ke atas, terpisah dari laut tempat si ikan lahir dan tumbuh. Tubuh Samsinar semakin bergetar, ia mengutuk-ngutuk, kalera, yang orang-orang sebut dengan kesetiaan jika ternyata Ibunya mengalami semua pemaksaan itu.

Akan tetapi dirinya, Samsinar, anak yang lahir dari rahim Ibu, justru menjadi ikan yang bebas dan bahagia. Tangis Samsinar redam ke dalam, tubuhnya menggigil, tapi dari telinganya ia dengar bunyi ngilu pisau bertemu dengan daging ikan dan telenan kayu, yang berlangsung dengan cepat. Setelahnya, ia dengar ketukan pintu yang menghantam tiada henti. Samsinar paham; mereka datang lagi, tubuhnya belum pulih dengan utuh. Semua tidak asing bagi Samsinar, ia hanya kebingungan, mengapa suara-suara di luar itu memanggilnya dengan nama Ibunya? (*)

 

*TALIA SARTIKA BARA WIDYA. Lahir di Padang 26 Juni 1999. Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Andalas. Ilustrator pemula di beberapa media daring.

 384 total views,  2 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!