Cerpen, Ruly R, Solopos

Di Balkon

0
()

Cerpen Ruly R (Solopos, 06 September 2020)

Di Balkon ilustrasi Hengki Irawan - Solopos (1)

                           Di Balkon ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

Langit semburat jingga. Angin berkesiur lembut. Kitiran warna-warni berputar pelan searah jarum jam. Serombongan burung terbang tenang menuju barat, pekik suaranya mampir di telinga Anwar Saleh yang berdiri di balkon. Sekali-dua Anwar Saleh memejamkan mata, coba menikmati semua hal yang sudah lama tidak dia rasakan. Waktu terus berputar, peristiwa yang terjadi di rumah ini bersilang sengkarut, bertindihan dan meruncing pada banyak kenangan bagi Anwar Saleh.

Tujuh tahun pengusiran Anwar Saleh berlalu. Nasib serupa permainan dadu dan Anwar Saleh menjelma pelempar andal. Dia tahu kapan dirinya harus bertaruh dan kapan menahan diri. Banyak hal telah dia dapat— pengalaman, pengakuan, kawan seiring-sejalan, juga kekayaan, tetapi semua itu tidak bisa meredakan pertanyaan yang di malam hari sering mampir dalam benaknya. Untuk apa semua yang dia punya dan apalagi yang hendak dicarinya? Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu seakan menguap ketika dia berdiri di balkon. Kecerahan tampak di wajah Anwar Saleh. Tangannya memegang pagar balkon bercat hitam, menatap ke arah timur di mana deretan hijau pohon pinus berada. Ke arah utara, atap-atap rumah tampak kecil di kejauhan. Anwar Saleh mengeluarkan kretek dari kantong celana, gegas menyulutnya, asap putih tipis melayang ditiup angin.

Suara langkah kaki yang seperti terseret didengar Anwar Saleh. Dia menengok ke sumber suara meski dia masih hafal langkah kaki itu milik siapa. Di bola mata Anwar Saleh, tampak seorang lelaki yang begitu tua lengkap dengan banyak kerut di beberapa bagian wajah, juga rambut tipis yang memutih. Itu adalah ayahnya, lelaki yang bertahun lalu mengusirnya. Air muka Anwar Saleh datar saja, dia memalingkan pandangan ke barat di mana hijau deretan pohon pinus.

Baca juga  Boneka Tangan Buatan Oco

Kursi lipat berderit ketika ayah Anwar Saleh menaruh pantatnya. Di balkon, dua lelaki masih menyimpan diam yang paling purba milik masingmasing. Tetapi hal itu tidak begitu lama karena ayah Anwar Saleh melenguh dan bergumam tentang dirinya yang begitu berat untuk sekadar meniti setiap anak tangga. Anwar Saleh masih saja diam, asap rokoknya membentuk garis tegak.

“Ibumu terus menyebut namamu sebelum meninggal.”

Anwar Saleh seakan tak hirau dengan ucapan lelaki yang duduk di belakangnya. Dia masih saja menatap deretan pohon pinus. Wajah ibu membayang di pikirannya. Tak sempat Anwar Saleh melihat untuk terakhir kalinya sebelum dikebumikan, dia hanya bisa berkunjung dan nyekar ke makam karena kepulangannya berselang dua hari setelah pemakaman itu. Kabar yang didapatnya dari tetangga yang merantau satu kota dengannya terlampau lambat disampaikan padanya.

Selain karena ibu, Anwar Saleh memutuskan pulang karena tujuan lain di benaknya. Hal itu jelas terkait dengan malam pengusiran yang diterimanya, di mana dia harus berjalan menuju pasar pagi, mencari tumpangan mobil sayur yang hendak berangkat setor ke pasar kota. Anwar Saleh ingin menghapus kepedihan itu, namun segala yang sudah terlewat dan melekat dalam benak tidaklah serupa kotoran menempel di baju yang akan hilang ketika dibilas air.

Semua berawal dari judi. Tanpa sepengetahuan orang tuanya Anwar Saleh menggadaikan sertifikat tanah pada lintah darat yang kondang di desa sebelah. Entah dari mana ayahnya tahu, tapi begitu Anwar Saleh pulang, ayahnya menyeretnya ke kamar mandi, mengguyurnya dengan berciduk-ciduk air. Saraf Anwar Saleh masih normal, sebagaimana orang pada umumnya, yang bila terkena air saat malam tentu akan merasakan hawa yang bertambah dingin. Anwar Saleh menggigil tak ketulungan. Sengguk tangis ibunya terdengar. Tangan perempuan itu dengan pelan dan lembut mengusap kepala lantas tubuh anaknya. Handuk itu menjadi barang terakhir yang bagi Anwar Saleh cukup berarti, meski saat Anwar Saleh diusir, ibunya hanya bisa menangis.

Baca juga  Maling

Segala yang berkecamuk di pikiran Anwar Saleh buyar saat ayahnya bertanya asal mula nama yang diberikan orang tuanya. Pelan tawa meremehkan keluar dari Anwar Saleh. Dia sudah fasih di luar kepala akan hal itu karena sering diceritakan sebagai nasihat oleh orang tuanya dulu di masa Anwar Saleh sering pulang kelewat pagi karena judi.

Hal itu tak menyurutkan ayah Anwar Saleh menceritakan kembali muasal nama yang menempel untuk putra semata wayangnya. Dia mengawali dengan mengatakan itu keinginan istrinya. Dulu, di masa awal hamil, ibu Anwar Saleh tanpa sengaja membaca puisi karya Chairil Anwar di bungkus ikan asin yang dibelinya di pasar. Dia tak tahu menahu arti nama itu, namun menganggap nama Anwar bakal lain dari nama bocah lelaki yang ada di desanya saat itu. Nama Saleh ditambahkan di belakang nama Anwar dengan harapan agar anaknya menjadi lelaki yang benar-benar berperilaku saleh. Lahirlah bayi lelaki dari rahimnya dan nama itu langsung diberikan. Ayah Anwar Saleh mengangguk setuju.

Nama tentu menjadi doa, namun seperti doa yang tertunda untuk dikabulkan, Anwar Saleh tidaklah berkelakuan seperti yang diharapkan orang tuanya. Dia justru tumbuh sebagai bocah ndableg. Ayahnya sempat berpikir untuk mengganti nama itu. Kabotan jeneng, begitu pikir ayah Anwar Saleh, namun istrinya tidak setuju jika nama anaknya diganti. Sempat terjadi perdebatan, diam-mendiamkan beberapa hari, hingga itu semua berakhir saat ayah Anwar Saleh mengalah dan nuruti kemauan istrinya. Tak sepatah kata keluar dari Anwar Saleh. Dia memainkan rokoknya dari sela telunjuk dan jari tengah dipindahkan ke sela jari tengah dan jari manis. Seseorang menyalakan lampu perempatan yang berjarak tidak jauh dari rumah Anwar Saleh.

Baca juga  Malam Sebuah Rumah Sakit

“Kerjamu lak apik wae, ta?

Anwar Saleh masih saja diam seribu bahasa. Ayahnya melanjutkan kalau orang tua akan bahagia bila hidup anaknya bahagia dan menambahkan kalau tujuan semua orang tua tak lain melihat anaknya bahagia. Bulir halus air mata ayah Anwar Saleh menetes. Anwar Saleh sembarang menjentikkan puntung rokoknya dengan jari tengah. Kebisuan milik masing-masing berkuasa.

Malam jatuh. Angin berkesiur lembut. Kitiran masih berputar pelan. Tidak ada lagi rombongan burung terbang menuju barat. Di kejauhan, tampak kecil deretan lampu semakin banyak yang menyala. Sedikit lama hingga kebisuan milik Anwar Saleh serupa bisul yang akhirnya pecah. Dikatakannya kalau tujuannya pulang tak lain untuk melunasi utangnya.

“Utang?”

Anwar Saleh menjelaskan akan menebus sertifikat yang dulu digadaikannya. Kalau tanah itu sudah dijual oleh si rentenir, dia akan mencari orang yang membeli tanah itu. “Kau sudah pulang dan tinggalah di rumah ini. Itu lebih dari cukup.” Hawa dingin menusuk tubuh Anwar Saleh.

 

Ruly R. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Novel terbarunya Kalah (Rua Aksara, 2020).

 46 total views,  2 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: