Cerpen, Kartika Catur Pelita, Solopos

Tumbal

  • Tumbal ilustrasi Hengki Irawan - Solopos

0
()

Cerpen Kartika Catur Pelita (Solopos, 04 Oktober 2020)

Tumbal ilustrasi Hengki Irawan - Solopos (1)

Tumbal ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

Dari balik jendela rumahnya yang luas, megah, tapi berkesan singup dan angker, seorang perempuan tua yang kelihatan usianya lebih muda sepuluh tahun daripada usia sesungguhnya, mengawasi Mahdi. Empat kali ia mendatangi tempat kerja Mahdi, perjaka berkulit kecokelatan berdada burung dara. Ia membawa kue-kue dan rayuan.

“Ayolah, Nak Mahdi, kau tinggalah di rumah kami. Rumah kami besar. Hanya aku dan Mbah Habi yang tinggal. Kau tinggalah di rumah kami, tak perlu bayar. Kau membantuku merawat Mbah yang sedang sakit. Kudengar kau bisa mengobati orang…”

Mungkin sudah lama ia memerhatikan, atau malah diam-diam mengawasi. Rumah mewahnya berdiri pada seberang klinik tempat dokter Arya buka praktik. Selain membayar sekian puluh ribu bahkan sekian ratus ribu rupiah untuk periksa dan menebus obat, pasien juga menyisihkan antara dua ribu hingga lima ribu rupiah, tergantung kendaraan yang dibawanya.

Tukang parkir. Pekerjaan yang sudah ditekuni Mahdi sekitar lima tahun lalu, setelah mondok di pesantren. Mahdi merantau di kota kecil yang terkenal ukirannya ini. Semula ia menjadi marbut masjid. Kang Jamal, loper koran—yang berasal dari kota sama menawari tinggal di rumahnya.

***

“Terserah kaulah, Di. Engkau yang bisa memutuskan menerima, atau tidak.”

“Mereka sudah sepuh, dan membutuhkan bantuan. Apa aku bisa menolaknya, Kang. Baiklah aku menerima tawarannya.”

“Kapan?”

“Besok, Kang.”

“Tak apa. Jagalah adab tinggal di rumah orang. Rajinlah, enteng tangan. Apalagi kau merawat orang sakit.”

“Ya, Kang.”

“Omong-omong nanti tidak mengganggu kerjamu, kan?”

“Tidak sih, Kang. Kerja parkirku bakda Asar hingga malam. Jadi pagi aku bisa membantu, eh kerja di rumahnya.”

“Kau tidur di sana, makan di sana pula?”

“Kayaknya begitu, Kang.”

“Tanya yang jelas. Supaya kau tak waswas.”

***

Rumah berlantai tiga. Berhalaman luas, rumput tertata rapi. Kamar berjumlah delapan, sebagian kosong. Setiap hari dibersihkan.

Mahdi mendapat kamar di samping paling ujung. Ada dipan besar. Sebuah lemari pakaian ukiran Jepara. Seperangkat kursi dan meja ditata di samping jendela. Bagi Mahdi, kamar barunya lebih mewah. Dipannya berkasur empuk. Di rumah Kang Jamal ia tidur pada selembar tikar.

Baca juga  Muara Kasih Sayang Bunda

Pagi ini aktivitas pertama Mahdi di rumah mewah. Setelah Salat Subuh seorang diri, Mahdi mengaji. Belum lama mengaji pintunya diketuk.

“Assalamulaikum.”

Mahdi membuka pintu. Seorang pembantu perempuan muda muncul, membawa baki makanan.

“Ibu menyuruh saya mengantarkan sarapan.”

“Tak usah repot-repot, Mbak.”

“Tidak ini tugas saya. Silakan, Mas.”

Setelah meletakkan nasi lauk dan minuman segelas kopi, pembantu berlalu. Sebelum berlalu ia menguntai pesan.

“Oya, setelah sarapan, Mas bisa langsung ke kamar Tuan. Nanti saya bantu. Hari ini Ibu ada acara. Sudah pergi barusan.”

“Ya.”

Setelah sarapan seperlunya, Mahdi beranjak ke sebuah kamar yang sangat luas dan indah. Perabotan luks. Seorang lelaki renta tergeletak tak berdaya.

“Tuan Habi sudah bertahun-tahun stroke. Tugas Mas membawanya jalan-jalan ke pekarangan, sambil melakukan terapi dan doa. Begitu tadi pesan Ibu.”

Mahdi mengiyakan. Saat hendak diangkat ke kursi roda, si lelaki seperti meronta, menolak. Sepasang mata itu memandang tajam Mahdi. Seolah tangan mata itu hendak meninjunya. Atau perasaannya saja. Padahal jelas kedua tangan Tuan Habi lemah, bahkan tangan kanannya kepleh.

“Oya, lupa, ada tugas satu lagi yang harus dilakukan Mas. Sebelum jalan-jalan, Tuan Habi harus dimandikan. Ayo, saya antarkan ke kamar mandi Tuan!”

Setelah lelaki enam puluh lima tahun itu didudukkan di atas kursi roda, lalu si pembantu mendorongnya ke kamar mandi pribadi yang luas.

Mahdi terbengong. “Saya… saya memandikannya?”

“Iya, begitu pesan Ibu.”

“Biasanya siapa yang memandikan.”

“Dulu ada perawat. Kemudian tukang kebun, Pak Di. Setelah itu saya. Tapi sekarang sudah ada Mas yang bisa memandikan Tuan.”

“Memandikannya bagaimana caranya?”

“Saya ajari, Mas. Setelah ini besok Mas yang melakukannya sendiri.”

Tak ada pilihan bagi Mahdi selain mengangguk.

Maka setelah si Tuan Habi bersih dan rapi, Mahdi mengajaknya jalan-jalan di pekarangan. Sambil mendorong kursi roda, Mahdi ngemong, mengajak bicara. Meski Tuan Habi lebih suka terdiam. Entah dia bisa bicara meski cadel layaknya orang terkena stroke, atau mengalami gangguan bicara dikarenakan penyakitmya. Sepanjang hari itu Mahdi benar-benar diuji kesabarannya. Belum lagi saat makan siang, Tuan Habi sama sekali tak mau menyentuh makanan. Sekalinya mau makan, nasi disemburkan ke muka Mahdi.

Baca juga  Memburu Sekutu Iblis

Ketahanan hatinya diuji lagi saat Tuan Habi tiba-tiba buang air besar, dan ia mesti mengganti popoknya. Benar-benar Mahdi keteteran, merawat orang sakit, seperti merawat bayi. Bahkan mungkin lebih merepotkan. Entah. Sudahlah mengapa mengeluh melulu, bukankah ia sudah menyanggupi untuk tinggal di rumah megah dan merawat orang lungkrah.

Mahdi melakukan terapi, menepuk punggung tangan Tuan Habi. Si lelaki stroke meringis dan menatap tajam padanya. Mahdi tersenyum menenteramkan diri.

“Sakit, ya. Pak. Maafkan saya. Saya menepuk bukan untuk mengagetkan atau menyebabkan rasa sakit. Saya menepuk untuk mengusir penyakit yang bersemayam di diri Bapak. Penyakit itu cobaan. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Insya Allah Bapak sembuh. Saya akan mendoakan dan membacakan doa-doa kesembuhan seperti yang diajarkan Kiai saat saya mondok di pesantren.”

“Terima—kasih…”

Mahdi berbinar mendengar respons Tuan Habi perlahan seperti suara kentut tertahan.

***

Mahdi termangu. Ini hari-harinya benar-benar disibukkan bekerja sebagai tukang parkir dan penjaga orang sakit. Setiap hari Tuah Habi berulah, membuat ia kerepotan. Si Ibu, selama Mahdi bekerja di situ tak pernah muncul. Setiap hari ia pergi—bahkan menginap—katanya urusan bisnis. Setiap hari Mahdi hanya berteman pembantu muda dan pasien yang tua-bangka dan memuakkan. Mahdi tak bisa lagi melupakan emosinya saat di tengah malam buta, pintu kamarnya digedor. Ternyata si Tuan Habi mencret akut dan harus bolak-balik diantar ke kamar mandinya.

Mahdi seusai mengatur parkir kendaraan pasien dokter Arya, telepon dari Mas Sochib masuk.

“Bagaimana kerja di rumah orang kaya, Di?”

“Begitulah.”

“Kamarnya pasti mewah.”

“Hanya bekas gudang.”

“Makannya pasti enak.”

“Hanya sayur asem dan tempe tahu goreng.”

“Kau pasti dibayar mahal untuk merawat orang sakit.”

“Entah.”

“Kok entah?”

“Perempuan tua kaya itu hanya bilang tolong rawat mbahku, ternyata suaminya yang mengalami stroke. Aku memandikan, menjaga, mengganti popok, mendongengi, ngemong, mendoakan…”

“Jangan mengeluh. Ikhlaslah. Semoga kau dapat pahala.”

***

Mahdi menggantikan seprei Tuan Habi. Tumben, lelaki tua itu tak rewel. Mahdi hendak Salat Ashar saat ia melenggang di ruang tamu dan lelaki muda—anak lanang Tuan Habi—yang baru datang dari Jakarta memanggilnya.”

Baca juga  Pemimpi

“Ada apa, Mas?”

“Ini kunci motorku. Kau cucikan motorku sampai bersih kinclong. Bentar lagi aku apel ke rumah wedokan-ku.”

***

Di dalam kamarnya, Mahdi memandangi dirinya di depan cermin. Ternyata aku hanya diperalat. Sudah waktunya melakukan hal terbaik. Mahdi berkemas-kemas. Ia memasukkan pakaian ke tas. Harta paling berharga, sarung dan kopiah serta kitab AlQur’an, jangan sampai ketinggalan. Mahdi hendak berpamitan kepada pembantu, saat di ruang tengah—kamar Tuan Habi—ia mendengar suara perempuan tua dan anak muda sedang berbincang serius.

“Mengapa keadaan Ayah semakin memburuk seperti ini, Bu?”

“Entah, Ibu sudah pasrah. Sudah lusinan dokter dan ratusan juta uang untuk kesembuhan si tua bangsat, tapi hasilnya telur busuk.”

“Pembantu baru itu, anak muda polos.”

“Namanya Mahdi. Tukang parkir. Daripada tak punya tempat tinggal, Ibu memanfaatkan tenaganya. Tinggal gratis di sini. Penting dapat makan.”

“Dokter mengatakan apa tentang Ayah, Bu?”

“Katanya stroke. Tapi Ibu yakin, ayahmu menjadi tumbal pesugihan keluarga kita. Seperti yang Ibu ceritakan tempo hari. Keturunan kita mengambil pesugihan di Gunung Kukusan, kita terikat sumpah pada siluman. Salah satu anggota keluarga yang mengambil pesugihan mengalami sakit ngah-ngoh seperti ayahmu. Untuk tumbal pesugihan.”

“Kasihan Ayah.”

“Sudahlah, tak usah dipikirkan. Aku sudah pernah bilang, sebetulnya dia bukan ayahmu. Kami terikat perjanjian pesugihan. Seumur hidup tak memiliki keturunan. Keturunan kami, anak-anakku sejak berupa janin di perut sudah dibetot tumpas, untuk suguhan tumbal pesugihan.”

“Mengapa Ibu mengambil aku di panti asuhan?”

“Karena Ibu tahu suatu hari membutuhkanmu menggantikan tugas si tua bangka…..”

Mahdi merasa tubuhnya gembrobyos keringat, saat dari lubang pintu ia melihat sepasang ular sebesar pohon kelapa sedang bergelut di atas ranjang Tuan Habi!

 

Kota Ukir, 23 September 2020

Karya puisi dan prosanya dimuat di pelbagai media cetak dan daring. Buku “Perjaka”, “Balada Orang-orang Tercinta”, “Pemangsa”, “Kentut Presiden.” Bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ)

 76 total views,  2 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: