Bhirawa, Resensi Buku, Sam Edy Yuswanto

Setiap Orang Pasti Pernah Terluka

Resensi Buku Sebelum Luka Menjadi Duka - Oleh Denieda Fanun
0
(0)

Oleh Sam Edy Yuswanto (Bhirawa, 08 Juli 2022)

SEBAGAI makhluk sosial, kita tentu tidak dapat menjalani kehidupan tanpa keberadaan orang lain. Atau dengan kata lain, kita saling membutuhkan satu sama lain.

Saya merasa sangat yakin, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang mampu hidup seorang diri. Sebagaimana Nabi Adam a.s. yang merasa kesepian hidup sendirian, lalu Tuhan menganugerahinya dengan menciptakan Hawa sebagai teman atau pasangan hidup.

Hal yang perlu digarisbawahi bahwa dalam menjalani kehidupan di tengah keluarga dan masyarakat luas, kita harus berusaha menjaga diri kita, agar tidak mudah melukai atau menyakiti hati orang lain. Hal ini penting agar keharmonisan hidup bermasyarakat tetap terjaga meskipun ada saja perbedaan-perbedaan yang muncul di sana.

Juga tak kalah penting untuk kita pahami, bahwa kita harus berusaha legawa dan menerima segala perbedaan yang ada, sekaligus menerima kenyataan ketika sewaktu-waktu ada orang yang melakukan kesalahan terhadap kita, atau melakukan hal-hal yang membuat kita merasa kecewa dan sakit hati. Sebab, yang namanya hidup di tengah masyarakat dengan karakter orang yang sangat beragam, tentu akan kita jumpai hal-hal yang tak sesuai harapan. Bahkan kita akan merasakan kecewa dan sakit hati saat berhadapan dengan orang-orang yang tak menyukai dan membicarakan hal-hal buruk tentang kita.

Hal yang harus kita lakukan saat berhadapan dengan hal-hal yang menyakitkan adalah bersikap menerimanya. Kita harus berusaha menyadari manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Kita pun mungkin pernah (atau malah sering) berbuat salah atau melukai orang lain dan kita tentu sangat ingin kesalahan kita dimaafkan oleh orang lain. Oleh karena itulah, menjadi pribadi yang pemaaf adalah hal yang mestinya kita upayakan, dengan begitu hati kita akan mudah menerima atau legawa saat berhadapan dengan hal-hal yang menyakitkan atau menyebabkan luka.

Baca juga  Kabut Asap

Dalam buku “Sebelum Luka Menjadi Duka” dijelaskan, semua orang pasti pernah terluka. Jika terlalu banyak mengeluh, mengaduh, dan mempertanyakan mengapa semua ini kita alami maka kita tidak punya waktu untuk menyembuhkan diri sendiri. Kita adalah bagian dari makhluk yang paling utama, di mana dikaruniai kekuatan-kekuatan yang jauh melampaui apa yang mampu kita pikirkan. Kita adalah energi kekuatan yang mampu menyembuhkan diri kita sendiri.

Kita mungkin tidak menyadari seberapa kuat diri kita. Tetapi, kita bisa melihat ke belakang, seberapa berat beban hidup yang pernah kita lampaui. Dengan cara ini, kita akan mengetahui bahwa diri kita memiliki kekuatan yang sulit kita terima dengan akal.

Judul Buku : Sebelum Luka Menjadi Duka
Penulis : Denieda Fanun
Penerbit : Araska
Cetakan : I, 2021
Tebal : 232 halaman
ISBN : 978-623-6335-06-2

.

Kekuatan itu ternyata sudah ada dalam diri kita. Kita tidak perlu bertanya kepada rumput yang bergoyang, bagaimana ini bisa terjadi pada kita. Kita hanya perlu memastikan kekuatan diri kita muncul dan mampu menaklukkan rasa sakit dan menyembuhkan luka sebelum menjadi duka (halaman 40).

Berpikir dan merenung segala sesuatu dengan jernih akan membantu kita dalam menghadapi hal-hal menyakitkan yang telah kita alami. Denieda Fanun menjelaskan, manusia dikaruniai akal untuk berpikir. Kemampuan berpikir ini jauh lebih sempurna daripada makhluk lainnya. Sehingga, kemampuan berpikir manusia ini dapat menciptakan kekuatan yang dahsyat.

Dalam hal-hal tertentu, ia dapat menyembuhkan rasa sakit yang kita derita. Dalam hal lain, ia dapat membantu kita mewujudkan harapan-harapan kita. Dalam hal khusus, ia dapat memerintahkan tubuh kita untuk melakukan hala-hal yang sangat sulit diterima akal namun membawa hasil yang signifikan.

Baca juga  Di Mana Om Kelik?

Kesimpulannya berusahalah untuk terus berjuang melanjutkan hidup. Apa pun yang tengah kita alami dan rasakan, kita berhak untuk melakukan hal-hal yang membuat kita merasakan kebahagiaan.

Ada banyak hal-hal di sekitar kita yang bisa membuat kita bahagia. Masih diberi limpahan kesehatan, rezeki, bisa makan dan minum dengan nikmat merupakan sederet hal yang mungkin dianggap hal biasa dan diabaikan banyak orang, padahal hal-hal tersebut bila kita renungi dan syukuri maka akan melahirkan kebahagiaan.

Bukankah Tuhan telah berjanji akan menambah kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya yang bersyukur?

Terbitnya buku “Sebelum Luka Menjadi Duka” karya Denieda Fanun ini dapat dijadikan sebagai sumber motivasi bagi para pembaca, khususnya yang tengah merasakan sakit hati atas perlakuan buruk orang lain. Semoga dengan membaca buku ini dapat menjadi semacam penyemangat dan penyembuh dari luka-luka yang bersemayam di dalam hati.

Sedikit kritik membangun untuk buku ini, ada baiknya pihak penulis dan penerbit melakukan revisi karena masih dijumpai kesalahan penulisan di sebagian halaman. ***

.

.

Sam Edy Yuswanto. Penulis lepas mukim di Kebumen.

.

Resensi Buku Sebelum Luka. Resensi Buku Sebelum Luka.

Loading

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!